Tips Meminimalisasi Dampak Musibah

ekonomi islamTidak ada yang tahu kapan musibah datang. Musibah juga tidak melulu bisa dibayar dengan asuransi. Kehilangan pekerjaan masuk dalam kategori musibah. Kondisi yang satu ini dipastikan tidak bisa diklaim oleh asuransi. Untuk mengatasi ini, ada satu cara jitu agar kondisi keuangan kita tidak morat-marit: dana darurat.

Dengan dana darurat, orang yang kehilangan pekerjaan setidaknya bisa menjalani hari-harinya sedikit lebih tenang karena masih menyimpan dana sembari menunggu pekerjaan baru datang.

Perencana keuangan independen dari One Consulting, Budi Raharjo, mengatakan, pos dana darurat selalu ada dalam setiap praktik perencanaan keuangan. “Dana ini difungsikan ketika seseorang mengalami defisit keuangan karena kebutuhan yang sifatnya mendesak, penting, dan harus dipenuhi segera,” kata dia beberapa waktu lalu.

Budi menambahkan, memiliki dana darurat sama dengan menghindari seseorang dari berutang demi menutup kebutuhan itu. Entah karena sakit, kehilangan pekerjaan, kendaraan rusak, atau ada kerabat yang tiba-tiba membutuhkan bantuan finansial. “Karena itu, dalam pengelolaan keuangan pribadi, setiap individu wajib memiliki dana darurat ini sebagai dana berjaga-jaga jika terjadi pengeluaran mendadak yang cukup besar.”

Supaya dana darurat utuh dan tidak terkikis demi pengeluaran yang sifatnya bukan darurat, Budi menyarankan menyimpannya dalam akun terpisah. “Terpisah dengan akun pengeluaran bulanan atau lainnya,” ujar dia.

Komitmen juga sangat diperlukan. Jangan sampai, katanya, akun dana darurat digunakan untuk kebutuhan konsumsi yang sifatnya keinginan dan jangka pendek semata.

Lantas, berapakah jumlahnya? Angka dana darurat untuk setiap individu berbeda-beda. Jumlah dana yang mesti disiapkan antara si lajang, suami istri tanpa anak, sampai pasangan dengan sekian anak pastinya tidak sama. Budi Raharjo menyebutkan jumlah dana darurat bergantung pada kondisi tiap individu. Bila masih sendiri atau belum menikah dan tidak punya tanggungan minimal harus punya tiga kali jumlah pengeluaran setiap bulan.
Jadi, andaikan si A yang masih bujangan saban bulan mengeluarkan Rp 1 juta untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, dia harus menyiapkan Rp 3 juta sebagai dana darurat.
Lain lagi ceritanya bila sudah menikah. Idealnya, jelas Budi, angkanya bisa mencapai enam kali rata-rata pengeluaran. “Itu jika status pendapatan orang tersebut tidak fluktuatif,” katanya.
Maksudnya, orang tersebut punya penghasilan yang tetap.

Bila si B yang sudah menikah dan belum memiliki anak mengeluarkan Rp 2 juta setiap bulan untuk kebutuhan hidup, dana daruratnya mencapai Rp 12 juta.

Bagi mereka yang menikah dan memiliki anak, kebutuhan dana daruratnya meningkat pula. Untuk Anda yang pendapatannya tergolong fluktuatif dan telah berkeluarga serta menanggung anak, angkanya bahkan bisa naik menjadi enam sampai 12 kali pengeluaran bergantung tingkat kenyamanan hidupnya.

Usahakan pula, dana darurat ditempatkan dalam instrumen keuangan yang mudah dicairkan. “Harus bisa dicairkan segera tanpa kesulitan berarti dan tidak berubah nilainya jika ingin dicairkan segera,” kata dia.
Budi beranggapan, penempatan terbaik untuk dana darurat adalah dalam rekening tabungan biasa atau maksimal dalam deposito. Menaruh dana darurat dalam bentuk saham sangat tidak disarankan.

Tidak perlu panik memikirkan jumlah besar dana darurat yang harus disiapkan. Yang penting, mulailah mempersiapkan dan mulailah dari sekarang.

Sumber : Republika

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


*

Loading Facebook Comments ...