Tasbih dan implementasinya dalam perusahaan

Tasbih berasal dari kata sabbaha-yusabbihu, yang artinya ibti’ad atau haraka (menjauh atau bergerak). Dalam pengertian ini ditemukan makna yang substansial dari tasbih itu yaitu adanya gerak. Terutama gerak yang berarti berupa aktifitas dalam menangani dan me-manage kerja untuk meningkatkan kualitas kehidupan. Hal ini umpamanya terlihat dalam ayat-ayat berikut:

Dan masing-masing beredar pada garis edarnya (porosnya) (QS:36:40)
Sesungguhnya kamu pada siang hari mempunyai urusan yang panjang (QS:73:7)
Apabila tasbih dikaji dalam konteks aktifitas insane perusahaan, maka ada dua hal yang perlu dikaji lebih dalam. Pertama Allah SWT menyuruh manusia untuk bertasbih dalam intensitas yang sangat tinggi. Misalnya:
Dan sebutlah nama tuhanmu sebanyak-banyaknya serta bertasbihlah di waktu petang dan pagi hari (QS:15:41)
Maka bertasbihlah dengan memuji nama tuhanmu dan jadilah kamu di antara orang-orang yang bersujud (QS:56:74)
Kedua, aktifitas tasbih bukan hanya dipahami dalam arti ucapan dan bacaan-bacaan memuji tuhan, melainkan dapat diimplementasikan dalam bentuk manajemen dan pelaksanaan kerja perusahaan.

Di dalam Al-Quran Allah SWT mengaitkan kata-kata tasbih tersebut dengan aktifitas manajemen dan penanganan kerja secara amat mengesankan. Diataranya:
Pertama peningkatan produktifitas dan efisiensi. Tugas manajerial ini diisyaratkan Allah SWT dalam surat al-Isra’ yang dimulai dengan kata tasbih. Upaya peningkatan produktifitas ini dilakukan antara lain dengan (1) pengembangan sumber daya manusia, yang dipandang sebagai unsur manajemen yang paling penting. Sebagaimana firman Allah dalam surat Maryam 1-11. (2) sikap hemat tapi pemurah merupakan salah satu tugas manajerial yang dikaitkan dengan tasbih. Hal ini diisyaratkan dalam surat al-Isra’ 26-31. (3) unsur keadilan dan kesetiakawanan social dalam implementasi manajemen juga diajarkan dalam surah Al-Hasyir ayat 1-10 yang ayat pertamanya berisikan lafaz tasbih.
Kedua, proses pengambilan keputusan . Al-Quran al-Karim memberikan petunjuk yang cukup mengesankan dalam hal ini di antaranya: (1) keputusan harus diambil dengan pendekatan hikmah dan ilmu pengetahuan. Ini ditegaskan dalam surat Al-Anbiya 78-79 dimana lafaz tasbih dicantumkan dalam ayat 79. (2) Al-Quran menekankan penegakan sikap sabar, ulet, ikhlas dan konsisten. Hal ini diisyaratkan oleh tiga pada surah Al-Anbiya 85-87.
Ketiga, monitoring dan evaluasi sebagai tahap selanjutnya dari tugas manajerial monitoring dan evaluasi juga dikaitkan dengan tasbih. Hal ini dapat dilihat pada surah Al-A’la 3-19:
a. Perumusan ukuran-ukurannya disebut pada ayat 3]
b. Proses berlangsungnya suatu pekerjaan disebutkan dalam ayat 4-5
c. Pencatatan disebutkan dalam ayat 6-7
d. Rekomendasi dan ganjarannya disebutkan pada ayat 8 dan seterusnya
Dari analisis di atas dapat diketahui bahwa tasbih tidak hanya terbatas dan diperhatikan Allah dalam bentuk pengucapan lafaz-lafaz yang memuji Allah. Akan tetapi Allah juga sangat memperhatikan implementasinya dalam penyelenggaraan tugas-tugas manajerial dan aktifitas kerja seseorang dalam rangka meningkatkan kualitas hidup dan masyarakatnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Loading Facebook Comments ...