bni_syariah_2

Tantangan Perkembangan Industri Syariah di Indonesia

Industri syariah dalam lima tahun terakhir tumbuh pesat. Total aset yang dimiliki perbankan syariah di Indonesia meningkat dari posisi ke-17 ke posisi ke-13 dunia. Hal ini berarti animo pertumbuhan industri syariah di Indonesia masih tinggi. Hebatnya, pertumbuhan ini masih bisa lebih tinggi lagi.

Sejak dikeluarkannya Undang-undang syariah No. 21 tahun 2008, perbankan syariah mengalami lonjakan yang signifikan. Perbankan syariah Indonesia lebih berkembang dibandingkan Bahrain. Perkembangan yang baik ini bukan tidak mungkin akan bisa digunakan untuk pengelolaan keuangan negara.
Ada beberapa hal yang membuat perbankan syariah di Indonesia tumbuh sangat pesat. Salah satunya adalah kelengkapan aturan main serta lembaga otoritas yang mengatur ekonomi syariah. Di Indonesia, hal tersebut lebih lengkap dibandingkan di negara lain yang mengusung perbankan syariah.

Hanya saja perkembangan industri syariah di Indonesia harus menghadapi berbagai tantangan di setiap langkahnya. Ada beberapa tantangan yang harus segera diatasi, yaitu gencaran sosialisasi dan edukasi serta mempertinggi inovasi dalam layanan. “Industri syariah juga perlu memenuhi sumber daya manusia untuk memperkecil gap antara industri syariah dan konvensional,” tutur Deputi Gubernur Bank Indonesia, Halim Alamsyah, dalam acara HR Syariah Summit di Le Meridien, Rabu (11/4).

Ketua Masyarakat Ekonomi Syariah, Muliaman D Hadad, menuturkan perlu ada konsorsium keuangan syariah untuk menjadi acuan bagi perbankan dan industri syariah dalam mengembangkan sumber daya manusianya. Konsorsium ini diacu oleh masyarakat dan lembaga untuk kembudian mendesain ajaran agar pengajaran industri syariah tidak mengada-ada. Hasil konsorsium ini bisa menjadi panutan bagi masyaraka untuk membuka kursus yang sejalan dengan permintaan industri. “Ini semacam sertifikasi yang disepakati oleh industri syariah,” tutur Muliaman. Konsorsium ini perlu dilakukan untuk digunakan sebagai pegangan bagi siapapun yang ingin mengembangkan industri syariah.

Muliaman menambahkan, banyak istilah ekonomi syariah yang masih belum dipahami oleh masyarakat awam. Meskipun sudah begabung dengan perbankan syariah, masyarakat masih bingung menggunakan istilah-istilah yang dipakai. Mereka cenderung masih memakai istilah-istilah konveensional. Di Malaysia sendiri memutuskan untuk mengambil jalan pintas, kata Muliaman. Mereka cenderung menambahkan kata ‘Islam’ di belakang istilah perbankan yang menunjukkan perbankan tersebut merupakan perbankan syariah, misalnya ‘tabungan’ dan ‘tabungan islam’.

Oleh karena itu Indonesia sendiri harus membangun karakter dengan memberdayakan masyarakat. Pembangunan karakter ini bisa dilakukan dengan memberikan edukasi kepada masyarakat. Dengan adanya edukasi ini customer base akan lebih luas. Perluasan customer base akan mempertinggi pertumbuhan perbankan syariah.

Berbicara soal edukasi, tidak hanya masyarakat saja yang perlu diedukasi mengenai keuangan syariah. Pegawai industri syariah juga perlu diberikan edukasi, karena mereka memegang peranan penting dalam perkembangan perbankan syariah. Vice President Bank Syariah Mandiri (BSM), Eka B Danuwirana, menuturkan edukasi pegawai tidak melulu mengenai pekerjaan yang ia lakukan sesuai bidangnya, namun juga harus dilakukan pengembangan agar si pegawai memahami betul apa yang ia lakukan.

BSM memiliki pengelolaan pegawai yang terintegrasi dengan rencana strategis perusahaan. Selain mengajarkan apa yang rutin mereka lakukan, pegawai juga diberi kesempatan untuk mengembangkan diri. “Kami beri mereka wawasan melalui pendidikan pascasarjana,” tutur Eka.

Para pegawai juga diberi pelatihan-pelatihan yang bertujuan untuk memberikan pemahaman yang lebih mengenai industri syariah. Pegawai juga diberi pengarahan melalui mentoring, serta diklat. Hal ini bertujuan untuk memberikan penyegaran dan pemahaman yang terus-menerus kepada SDM karena industri syariah masih sangat muda. Diklat dilakukan di BSM selama 48 jam. Eka melanjutkan, SDM perlu dilakukan pembinaan agar mereka berkembang dengan baik di dalam perusahaan serta memberikan pengaruh positif terhadap pertumbuhan perusahaan.

Prinsip transparansi harus diterapkan dalam pengelolaan SDM. Sikap seorang pemimpin juga berpengaruh pada pembinaan SDM syariah. Seorang pemimpin harus menjadi contoh di kalangan pegawai. Misalnya, kata Eka, jika pemimpin melarang pegawai terlambat datang, maka ia pun tidak boleh datang terlambat.

Hal serupa dikatakan oleh Kepala HR Resourcing PT Bank Permata, Andi Irawan Dalimunthe. Ia menuturkan pemimpin yang baik merupakan kunci bertahan pegawai di sebuah perusahaan, termasuk perusahaan berbasis syariah.Ketika pemimpin menjalankan tugasnya dengan baik, pegawai akan bertahan lebih lama. “Sekitar 80 persen pegawai resign karena pemimpin,” kata dia.

Sumber : Republika

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


*

Loading Facebook Comments ...