Tak Terlalu Yakin Ekonomi Syariah Brantas Korupsi

ekonomi islamAKBAR FAIZAL
Anggota DPR Komisi II

Berbicara tentang pemberantasan korupsi, kata Anggota DPR Komisi II, Akbar Faizal, sungguh – sungguh ia meragukan dirinya. Apakah benar ia tidak korupsi? Demikian petikan ucapanya saat menjadi pembicara dalam dialog yang diselenggarakann oleh PKES (18/8) di Bank Indonesia – Jakarta.

Menurutnya, kebanyakan koruptor itu ada tiga jenis, pertama, koruptor yang sial, kedua koruptor yang belum mendapat kesempatan, dan ketiga koruptor yang beruntung dan belum ketahuan. “Itu pemahaman saya terkait dengan penegakkan anti korupsi di Indonesia,”jelas Akbar Faesal.

Kemudian terkaait dengan korelasi antara ekonomi syariah dan pemberantasan korupsi, Akbar Faizal berpendapat tidak terlalu yakin dengan ekonomi syariah selanjutnya korupsi itu menjadi hilang. Baginya, perbankan konvensional, perbankan syariah, bukanlah sebuah jaminan bahwa korupsi di negara ini menjadi tidak ada lagi.

Berbicara ekonomi syariah, Akbar merasa kaget, justru di inggris, syariah itu berkembang dengan luar biasa. “Dengan demikian, ekonomi syariah bagi negara yang konon kabarnya penduduk islamnya yang sangat besar ini tidak ada cara untuk kalah, kalau saya boleh menggunakan istilah itu,”jelasnya.

Terkait dengan pengembangan ekonomi syariah di Indonesia, Akbar melihat, melihat dunia syariah agak melempem, mungkin dari segi salam iya! Tapi sebenarnya yang dibutuhkan dunia syariah itu pengibar bendera.

Ia mencontohkan, sosok Ahmad Riawan Amin, pada saat itu pernah sebagai pengibar bendera di Industri keuangan syariah. Maka dari itu, ia berharap akan muncul para pengibar industri syariah seperti A. Riawan Amin. Ia mengakui, bahwa kehadiran bank muamalat pada 1992 itu adalah tonggak, walaupun saat itu banyak yang resmi syariah, tapi menurut saya dibutuhkan pengibar bendera yang lebih banyak, yang lebih kencang.

“ Saya rasa Pak Riawan, ketika memimpin Bank Muamalat berhasil melakukan itu, dan seharusnya lebih banyak lagi yang seperti beliau. Berarti kegagalanya adalah masalah regenerasi, karena sekarang sedikit yang menjadi pengibar bendera syariah,” ucapnya.

Kemudian tentang korupsi yang dibahas dalam dialog tersebut, sekali lagi ia katakan bahwa, tidak ada jaminan dengan syariah itu korupsi tidak ada lagi.

Hatta, tokoh bangsa kita, pendiri bangsa kita itu, tahun 1972 sudah mengatakan bahwa korupsi di negara kita sudah seperti kebudayaan. “Coba bayangkan! Saya orang kampung Pak ya, dari Bugis sana. Lahir dari seorang sersan berpangkat sersan satu, yang masih memegang budaya Bugis, yang masih saya tenteng dalam hidup saya. Tiba – tiba ada budaya baru bernama korupsi inikan sebenarnya sudah menjadi kecelakaan besar bagi kita,”terangnya.

Di kesempatan itu, Akbar juga menceritakan, jika ia baru saja pulang India, kunjungan kerja. Walau banyak yang protes soal kunjungan kerja, tapi kunjungan kerjanya ke India dikatakan luar biasa. Salah satunya yang berhubungan dengan budaya korupsi.

Saat itu ia bertemu dengan menteri dalam negeri di gedung parlemen. Ia seperti biasanya memakai jas, biasa diplomasi antar bangsa. Eh, menterinya memakai sarung, memakai sendal.

Aduh kenapa kaya gini? Katanya.

Tapi mereka bisa menjelaskan dengan sangat bagus negerinya mau dibawa kemana tahun-tahun mendatang. Intinya yang berkaitan dengan korupsi adalah gaya hidup. Akbar melanjutkan, mobilnya menteri-menteri di sana bermerk Ambasador produksi Tata sebuah industri Tata Corporation, semuanya warna putih dan modelnya seperti mobil tahun 70-an, yang harganya maksimal 100 juta.

“ Saya bertanya apakah mereka sebenarnya miskin? Mereka menjawab tidak,” katanya.

Sumber : PKES Interaktif

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


*

Loading Facebook Comments ...