Subarjo Joyosumarto: Pelopor BANK MUSTAHIL di Indonesia

ekonomi islamTerlihat pancaran semangat dari guratan wajah yang tidak lagi muda ini. Subarjo Joyosumarto, lelaki kelahiran Sidareja, 20 Oktober 1943 merupakan sosok yang santun lagi low profile. Di balik sederet jabatan-jabatan penting yang digenggamnya, Pak Barjo, demikian biasa disapa, sangat sopan dalam bersikap dengan siapa saja yang dihadapinya. Meskipun bawahannya ataupun orang yang lebih muda darinya. Demikian juga ketika menerima redaksi info pkes untuk mewawancarainya, di LPPI.

Sejak pertama muncul hingga sekarang telah berdiri 8 Bank Umum Syariah, 25 Unit Usaha Syariah, dan 143 Bank Perkreditan Rakyat Syariah (BPRS).

Awalnya, bank syariah dipandang sebelah mata. Bahkan dianggap sebagai impossible bank yang tidak mungkin bisa dijalankan. Sebuah lembaga keuangan yang tidak pada umumnya, dimana bunga harus ditiadakan. Bunga yang selama ini dianggap sebagai penopang pertumbuhan ekonomi suatu bangsa harus dihilangkan dalam penerapan sistem bank syariah.

Namun, tidak demikian bagi Subarjo Joyosumarto, mantan Deputi Gubernur Bank Indonesia tahun 1998-2000, memiliki pandangan yang berbeda dengan umumnya.

”Awalnya bingung dengan bank tanpa bunga. Apalagi contohnya-pun tidak ada,” tutur Pak Barjo, demikian biasa disapa. ”Tidak satupun praktek bank tanpa bunga yang bisa ditemukan di Indonesia pada tahun 1990,” lanjutnya.

Semula Pak Barjo tidak terlalu paham dengan sistem perbankan, apalagi perbankan beroperasi tanpa bunga. Karena selama ini lebih banyak berkutat pada perkembangan ekonomi makro, yaitu moneter. Sehingga pada akhirnya diberikan amanah untuk menjabat sebagai Kepala Biro Penelitian dan Pengembangan Perbankan – Bank Indonesia pada tahun 1990. Diantara produk kebijakan yang dihasilkan pada masa jabatan ini adalah Ketentuan Prudential tentang Kecukupan Modal Bank (capital adequacy ratio) dengan penerapan Basel 1, dan Ketentuan Penilaian Tingkat Kesehatan Bank.

Pada saat inilah, wacana untuk pendirian bank tanpa bunga banyak dibicarakan di kalangan para ulama, hingga muncul kegiatan Lokakarya Majelis Ulama Indonesia (MUI) tahun 1990 di Cisarua – Bogor, yang secara khusus membahas tentang bunga. Dan pada saat itu Pak Barjo adalah salah satu peserta undangan yang mewakili dari pihak pemerintah, yaitu Bank Indonesia.

Awal yang melelahkan

Berawal dari undangan MUI inilah Pak Barjo ikut terlibat untuk memikirkan pendirian bank tanpa bunga. Dengan semangat yang tidak kenal lelah Pak Barjo beserta tim dari BI — St. Ch. Fadjrijah, Ramzi A. Zuhdi, dan Muchtar Syafi’i melakukan pencarian data dan sistem perbankan serta melakukan penelitian tentang bank tanpa bunga.

Studi secara khusus dilakukan hingga mancanegara, Singapura, London hingga New York. Dari studi ini diantaranya ditemukan salah satu sekolah di London telah memberikan muatan mata ajarannya dengan materi sistem ekonomi Islam.

Berdasarkan beberapa temuan dari tim BI akhirnya disusunlah suatu panduan tentang bank tanpa bunga. Dimana pada asumsi awalnya bahwa tim BI beranggapan perbankan tanpa bunga adalah perbankan dengan sistem bagi hasil. Bunga diganti dengan bagi hasil. Dari panduan yang disusun tim BI semua aspek yang berkaitan dengan bunga diganti dengan bagi hasil. Sehingga pada saat itu masih memunculkan stigma bahwa tidak ada bedanya antara bank konvensional dan bank Islam, kecuali hanya pada sistem bunga dan bagi hasil. Sementara prakteknya sama saja. Sampai saat pendirian Bank Muamalat Indonesia, praktek operasionalnya masih memberlakukan tambal sulam, yaitu bunga diganti dengan bagi hasil.

Hingga pada suatu saat, berawal dari ajakan, Arifin Siregar, Menteri Perdagangan saat itu, untuk melakukan kunjungan kerja ke Iran, Pak Barjo menemukan sistem bank yang cukup berbeda dengan bank pada umumnya. Dimana bank-bank yang beroperasi di Iran menempatkan
lembaganya sebagai mitra untuk nasabah.

Pada jam kerja banyak karyawan bank tidak ada di kantor, tetapi lebih banyak di luar kantor untuk membina para nasabah menjalankan usahanya.

Seperti saat berkunjung ke salah satu bank pertanian milik pemerintah Iran di kota kecil Esfahan, Pak Barjo menemukan banyak karyawan absen di kantor bank tersebut. Menurut informasi pimpinannya, para karyawan bank sedang berada di tanah pertanian untuk membina para petani. Dari sinilah terpikirkan bahwa bank bagi hasil sangat cocok dengan Indonesia yang menganut paham gotong royong. Mestinya, bank seperti inilah yang dibutuhkan untuk membantu perkembangan ekonomi Indonesia. Hingga muncul tekad bulat Pak Barjo untuk memperjuangkan terus beroperasinya bank Islam di Indonesia.

Perjuangan tersebut telah memperlihatkan hasilnya sekarang. Meskipun pada awalnya harus melalui banyak cibiran dan cemoohan diantara dari koleganya sendiri. Namun tidak menyurutkan tekadnya untuk tetap memperjuangkan beroperasinya bank tanpa bunga (red; bank syariah) di Indonesia.

Pada mulanya, banyak koleganya yang berjuang di Bank Indonesia meragukan keberadaan bank syariah tersebut. Mereka menganggap bahwa hal tersebut merupakan impossible bank, dimana tidak mungkin, menurut mereka, ada bank yang bisa beroperasi dengan tanpa menggunakan bunga. “Berdirinya bank bagi hasil itu mustahil,” kata Subarjo mengikuti kata-kata mereka (kolega).

Laboratorium Syariah

Pesatnya perkembangan perbankan syariah sekarang, tidak serta merta menjadikannya puas, bahkan tidak harus puas untuknya. Karena bank syariah bisa jauh lebih besar dari sekarang. ”Masih banyak potensi yang belum tergali untuk bank syariah,” ungkapnya. ”Kita tidak boleh merasa cepat puas, harus terus berjuang. Bank syariah jauh lebih baik dari yang kita tahu sekarang”, tegasnya.

Untuk memperjuangkan perbankan syariah lebih dari sekarang, mantan Executive Director South East Asia Central Bank (SEACEN) tahun 2000-2006 ini, banyak terlibat aktif pada lembaga-lembaga pendukung perbankan syariah. Di tengah-tengah kesibukannya yang cukup padat, akhir tahun 2007 Pak Barjo terpilih sebagai Ketua Dewan Pengurus Pusat Komunikasi Ekonomi Syariah (PKES). Menurutnya, PKES salah satu organisasi yang tepat untuk mendukung perkembangan perbankan syariah.

Proses pendampingan terhadap bank syariah harus didukung oleh berkembangnya sistem ekonomi syariah itu sendiri. ”Sekiranya sistem ekonomi syariah tidak berkembang, jangan terlalu diharap perbankan syariah akan berkembang,” demikian jelasnya.

Untuk itu, disarankan bagi para praktisi bank syariah, khususnya kepada PKES nantinya, agar tetap berjuang tidak mengenal lelah dan putus asa dalam membangun sistem ekonomi syariah.

Seluruh yang berkepentingan terhadap ekonomi syariah harus bekerja maksimal guna terwujudnya perbankan syariah yang lebih baik. Bagi mantan Alternate Executive Director International Monetary Fund (IMF) – Konstituen Asia Tenggara ini, untuk mewujudkan itu semua perlu waktu kerja jangka panjang. Agar tidak cepat lelah dan putus asa, bagi semua yang terlibat, ditegaskan untuk tidak mementingkan sisi keduniawian.

Disamping itu, dalam ide dan gagasan Pak Barjo perlu dibuat laboratorium ekonomi syariah. Di mana ada tempat atau daerah secara khusus yang dijadikan proyek percontohan ekonomi syariah. Perlu dibangun suatu daerah yang seluruh perilaku dan kegiatan ekonominya sesuai dengan ajaran syariah Islam. Sehingga praktek ekonomi syariah akan mudah terwujud di masyarakat.

Dalam laboratorium tersebut merupakan proses uji coba prinsip-prinsip syariah diterapkan dalam perilaku ekonomi masyarakat. Menurutnya, perlu dukungan semua pihak untuk mewujudkan gagasan laboratorium syariah. ”Para bankir, akademisi, masyarakat dan pemerintah perlu terlibat untuk membangun daerah percontohan tersebut,” sarannya.

Selanjutnya, menurut Pak Barjo, untuk mendorong perkembangan ekonomi syariah, khususnya perbankan syariah, muatan materi ekonomi syariah harus dimasukkan sebagai mata ajaran di dunia pendidikan. Dari mulai tingkat Sekolah Menengah Umum (SMU) hingga Perguruan Tinggi. ”Kalaupun tidak bisa sebagai mata ajaran muatan nasional, karena terikat oleh kebijakan Dikti, mungkin awalnya bisa sebagai mata ajaran muatan lokal,” ungkapnya.

Ketiga hal tersebut merupakan target jangka panjang yang perlu segera dimulai dari sekarang. Diharapkan, PKES nantinya akan menjadikannya sebagai pilot project yang masuk program kerja jangka panjang.

Sumber: PKES Interaktif

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


*

Loading Facebook Comments ...