Sri Lanka Dapat Manfaatkan Kesempatan Jadi Hub Syariah

Sri Lanka
KOLOMBO–Sri Lanka dapat memanfaatkan kesempatan tumbuhnya industri keuangan syariah dengan menjadi pusat regional untuk jasa keuangan syariah, seperti yang dilakukan oleh negara-negara lainnya. Untuk menuju ke sana negara yang terletak di pesisir tenggara India ini dapat menerbitkan sukuk.

Head of global Islamic financial markets Thomson Reuters, Rushdi Siddiqui, mengatakan Australia dan Mauritius telah menyatakan ingin menjadi pusat keuangan syariah.” Sri Lanka sudah memiliki lebih dari satu dekade pengalaman di bidang keuangan syariah dan baru-baru ini juga telah menyetujui izin bank syariah. Itu menunjukkan regulator berpikiran terbuka,” kata Siddiqui, dikutip laman Lanka Business Online, Kamis (12/8).

Beberapa waktu lalu, bank sentral Sri Lanka memberikan persetujuan sementara untuk pendirian Amana Bank yang dilakukan oleh Amana Investment, sebuah grup usaha yang telah bergelut di bidang keuangan syariah selama lebih dari satu dekade. Sejumlah bank di Sri Lanka juga telah memiliki unit syariah. “Sri Lanka bisa menjadi jembatan untuk Maladewa, Mauritius dan India Selatan,” kata Siddiqui.

Ia menambahkan jika Sri Lanka menerbitkan sukuk, maka hal tersebut akan dapat meningkatkan profil Sri Lanka di antara negara-negara Teluk. Siddiqui menuturkan, penerbitan sukuk dapat dilakukan dalam denominasi rupee paralel maupun dolar. Langkah penerbitan sukuk, lanjutnya, telah dilakukan sejumlah negara. “Inggris telah membicarakan tentang penerbitan sukuk. Singapura juga sudah mengeluarkan sukuk, sedangkan Timur Tengah dan Malaysia telah menerbitkan obligasi syariah selama bertahun-tahun,” tukas Siddiqui.

Dengan menerbitkan sukuk, tambah Siddiqui, hal tersebut dapat memberikan acuan bagi perusahaan swasta untuk menjual sukuk. Sri Lanka diharapkan dapat membuat perusahaan-perusahaan swasta menerbitkan surat berharga sebelum akhir tahun. Hal tersebut disebabkan adanya banyak likuiditas di negara-negara Teluk, khususnya yang sedang mencari peluang investasi.

Namun, Head of Amana Investment, Feizal Salieh, mengatakan, Sri Lanka belum memiliki kerangka yang sama sekali terpisah untuk mengatur keuangan syariah. Ia menuturkan kendati telah ada dewan syariah di suatu lembaga keuangan syariah, tetapi tidak ada link dengan peraturan yang ada. “Walau dewan syariah memiliki pengetahuan dalam hal kepatuhan syariah mereka tidak benar-benar menjalankan lembaga keuangan syariah,” katanya.

Salieh memaparkan jika pengurus dan manajemen telah menjalankan perusahaan, maka dewan Syariah juga harus menjawab pasar. Etika bisnis dari manajemen lembaga keuangan syariah, lanjutnya, pun sama-sama penting.

Salieh mengatakan keuangan dan perbankan syariah saat ini adalah mengenai pengelolaan dan pemahaman risiko. Untuk dapat memajukan industry non ribawi ini, ujarnya, maka diperlukan pasokan sejumlah profesional yang mengerti kepatuhan prinsip syariah manajemen risiko dan kerangka pengawasan.

Grup Amana Investment menghimpun modal 3 miliar rupee sebagai modal Amana Bank. Salieh mengungkapkan kebanyakan pemain di industri keuangan syariah sedang menunggu berdirinya Amana Bank. “Kami memiliki tanggung jawab yang besar karena kita perlu melakukan hal yang benar, sehingga orang lain dapat mengikuti,” kata Salieh.

Sumber : Republika.co.id

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


*

Loading Facebook Comments ...