Siti Ch. Fadjrijah: Dibalik Layar Wanita Pengusung Ekonomi Syariah

ekonomi islamSeolah mudah Ia mendapatkan jabatan Deputi Gubernur Bank Indonesia Bidang Pengawasan (09/05/05) menggantikan Aulia Pohan yang telah
pensiun. Siti Ch. Fadjrijah menduduki jabatan Deputi dengan mendapatkan suara aklamasi dari Komisi XI DPRRI. Dengan mudah lulusan Fakultas
Ekonomi Universitas Gajah Mada ini menyisihkan pesaingnya saat itu Krisna Wijaya, Direktur Mikro dan Ritel Bank BRI.

Komisi XI DPR memilih Fadjrijah secara mutlak melalui aklamasi dalam sebuah rapat tertutup yang hanya memakan waktu sekitar satu jam. Dari 56 anggota Komisi XI yang hadir seluruhnya bersepakat mendukung Fadjrijah. Perempuan kelahiran Temanggung, Jawa Tengah, 2 September 1951 ini dianggap pilihan yang tepat sesuai dengan kriteria dan kebutuhan BI saat itu.

Fadjrijah terpilih secara mutlak karena seluruh anggota Komisi XI memiliki persepsi yang sama bahwa perempuan yang mengawali karirnya di Bank Indonesia sebagai Staf di Bagian Pemeriksa Bank-UPPB (1979) dianggap memiliki pengalaman yang lebih banyak dalam bidang pengawasan perbankan daripada calon lainnya. Disamping itu, Fadjrijah memiliki integritas, kemampuan, dan moralitas yang tinggi sesuai dengan kriteria dalam persyaratan UU No 3 Tahun 2004 tentang BI.

Pejabat Yang Gemar Mengaji

Siti Chalimah Fadjrijah besar dalam keluarga santri yang sangat religius. Ibu, ayah, dan kakeknya adalah guru mengaji. Bahkan kakeknya memiliki pesantren di Temanggung. Pendidikan menengahnya ia lalui di SMP dan SMA Islam sedangkan sekolah negeri (umum) ia jalani di SD dan perguruan tinggi.

Latar belakang masa kecilnya mempengaruhi hingga ia sudah bekerja. Sehingga, di lingkungan kerjanya, perempuan yang akrab disapa Bu Fadj dikenal aktif di bidang keislaman. Ia giat mengadakan dan mendorong kegiatan pengajian, baik tadarus Al-Qur’an, pengkajian Al-Qur’an, maupun diskusi keislaman. Setiap ada kesempatan, ia selalu memanfaatkannya untuk mengajar ngaji dan dakwah. ‘’Saya selalu berusaha mengamalkan hadis Nabi yang mengatakan, ‘Sampaikanlah apa yang engkau ketahui, walaupun satu ayat’,’’ kata lulusan Fakultas Ekonomi, Jurusan Akuntansi, Universitas Gadjah Mada Yogyakarta, dan Sekolah Tinggi Manajemen PPM, Jurusan Manajemen Internasional, Jakarta.

Intensitas mengajar ngaji dan dakwahnya semakin tinggi di bulan puasa. Biasanya, saat bulan Ramadhan, tiap pagi, dari pukul 07.00 hingga 08.30, Siti Fadjrijah memimpin sekelompok pegawai BI khusyuk dan semangat bertadarus Al-Qur’an. ‘’Saya sudah enam tahun mengadakan acara tadarusan di kantor,’’ kata Fadjrijah menambahkan. Baginya Al-Qur’an itu luar biasa. ‘’Bacaan yang paling saya senangi adalah Al-Qur’an,’’ tuturnya.

Selain di lingkungan kantor, perempuan yang aktif di Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) ini pun aktif mengajar ibuibu pengajian dilingkungan rumahnya, di Kompleks Perumahan Bank Indonesia Cipinang, Jakarta Timur. Siti Fadjrijah mengajar membaca Al-Qur’andi setiap hari Sabtu.

‘’Pesertanya, ibu-ibu penghuni kompleks. Dari yang sama sekali tidak mengenal huruf Al-Qur’an sampai yang sudah mulai kenal huruf namun belum lancar membaca Al-Qur’an,’’ ujar perempuan yang rajin membaca tentang buku-buku keislaman.

‘’Saya salut kepada orang tua. Ayah bilang, ‘Kalau mau jadi orang Islam harus mumpuni’. Karena itu, Beliau membekali anak-anaknya dengan pendidikan agama dan umum,’’ tambahnya. Ayahnya juga sering berkata, ‘’Saya tidak bisa meninggalkan buat kamu harta, tapi ilmu.’’ Pesan inilah yang sering dikenang Siti Fadjrijah.

Oleh karena itu, didikan yang diterima dari orang tuanya ia tularkan untuk anak-anaknya di rumah. Pendidikan agama dan pendidikan lainnya buatnya sangat penting untuk ditanamkan pada anak. Hal ini untuk menciptakan agar anak mumpuni. Fadjrijah selalu memperhatikan pendidikan anak-anaknya. ‘’Saya mengajarkan anak membaca Al-Qur’an sampai mereka bisa, baru kemudian saya memanggil guru mengaji. Hanya dua hal yang selalu saya ingatkan kepada anak-anak saya, yakni belajar, shalat, dan mengaji,’’ kata ibu tiga anak itu.

Saat berada di rumah, Siti Fadjrijah betul-betul menjadi seorang ibu. ‘’Kalau saya di rumah, orang tidak akan menyangka saya pejabat. Saya ikut belanja ke pasar. Saya pun membersihkan kamar mandi. Saya tidak merasa jabatan itu jadi beban. Jabatan itu di kantor, di rumah saya adalah ibu rumah tangga.” Dia menambahkan, ‘’Saya merasa salut sekali kepada Siti Khadijah (istri Rasulullah, {red}). Beliau seorang wanita yang kaya raya, seorang bos, namun begitu menikah dengan Muhammad, dia sangat berbakti.’’

Sumber: Kompas (Mei 2005), Republika (Mei 2005), dan PKES Interaktif (Juli 2011)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


*

Loading Facebook Comments ...