Sejarah Festival Ekonomi Syariah di Indonesia

Ditulis oleh Agustianto
Ekonomi Syariah
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono kembali meresmikan pembukaan Festival Ekonomi Syariah di Plenary Hall, Jakarta Convention Center, Rabu, 4 Februari 2009. Perhelatan ekonomi syariah terbesar ini dilaksanakan sejak tanggal 4 Februari sampai 8 Februari 2009. Festival ini merupakan rangkaian kegiatan pameran, hiburan, lomba dan seminar yang diselenggarakan oleh Bank Indonesia (BI) dan Islamic Bank (IB) dengan mengangkat tema “Indonesia Bisa Lebih Sejahtera”. Bank Indonesia terhitung sudah dua kali melaksanakan kegiatan Festival Ekonomi Syariah. Yang pertama dilaksanakan pada tahun 2008 di tempat yang sama dan juga dibuka oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.

Tak bisa dibantah, bahwa Festival Ekonomi Syariah adalah suatu kegiatan yang penting dan signifikan dalam upaya sosialisasi dan edukasi ekonomi dan bank syariah kepada publik. Karena itu, Festival Ekonomi Syariah, hendaknya tidak saja terpusat di Jakarta, tetapi di seluruh wilayah dan daerah Indonesia, agar program edukasi bank syariah secara khusus dan ekonomi syariah secara umum lebih meluas kepada masyarakat di pelosok negeri
Tulisan ini akan memaparkan sejarah Festival Ekonomi Syariah di Indonesia sebagai refleksi dan bahan pemikiran bagi para pegiat ekonomi syariah di daerah, baik pengurus MES (Masyarakat Ekonomi Syariah), IAEI (Ikatan Ahli Ekonomi Islam), ASBISINDO, Perguruan Tinggi, MUI dan ormas Islam lainnya. Harapan dari tulisan ini adalah agar kegiatan Festival Ekonomi Syariah atau apapun namanya (Ekonomi Syariah Fair atau Ekonomi Syariah Expo atau Bandung Syariah Expo), dapat dilaksanakan di berbagai daerah dengan mencontoh daerah yang telah sukses menyelenggrakannya.

Festival Ekonomi Syariah : Perspektif Historis
Festival ekonomi Syariah pertama kali dilaksanakan di Medan, pada tahun 2002, dengan berbagai kegiatan promosi yang luar biasa, dan banyak kegiatan promosi, seminar, workshop, tabligh akbar, perlombaan, pawai akbar, peluncuran buku, dan bedah buku yang berlangsung selama 1 bulan penuh. Kegiatan itu terus menerus dilanjutkan pada tahun-tahun berikutnya di Medan.
Festival Ekonomi Syariah pertama dan terbesar di Indonesia itu bertemakan, “Pencanangan Ekonomi Syari’ah Sumatera Utara”. Rangkaian acaranya berlangsung sejak tanggal 14 Maret 2002 sd 20 Mei 2002. Masa Festival berlangsung total 70 hari. Festival Ekonomi Syariah ini menggelar banyak agenda acara spektakuler.
Gaung Festival Ekonomi Syariah Sumatera Utara ini benar-benar luar biasa. Pengunjung membludak dan padat. Dari segi publikasi, ratusan bahkan mencapai 500an spanduk dan baliho di pasang di setiap tempat keramaian, pasar, masjid, Perguruan Tinggi, tempat-tempat pemasangan spanduk. Boleh dikatakan spanduk dipasang setiap jarak 100 sampai 200 meter. Beberapa baliho raksasa di pasang di pusat-pusat kota. Pendeknya masyarakat Medan benar-benar DEMAM Ekonomi Syariah saat itu. Media massa cetak dan elektonik (TV dan Radio) turut menyemarakkan Festival Ekonomi Syariah itu. Semua unsur masyarakat Islam dilibatkan, puluhan ormas Islam (seluruh remaja masjid), sekolah (SMP-SMU), belasan perguruan Tinggi terbesar, pemerintah daerah sampai ke tingkat kelurahan, dan masyarakat ekonomi syariah secara luas.
Dampaknya juga luar biasa yang bisa dikur dari pertumbuhan asset lembaga keuangan syariah, persentase persepsi masyarakat tentang bunga bank dan market share bank syariah Sumatera Utara dibanding market share daerah lain dan market share bank syariah secara nasional.
Selain itu, Bank Muamalat Cabang Medan pasca Festival itu menjadi Bank Muamalat terbaik se Indonesia, terutama dari segi pertumbuhan dan laba. Demikian pula Kantor KAS Bank Muamalat yang didirikan di Medan langsung menjadi kantor KAS terbaik se-Indonesia dari segi pengumpulan dana pihak ketiga. Jauh melampaui target. Hal ini berlangsung selama 3 tahun berturut.
Kerjasama yang dibangun benar-benar menunjukkan ukhuwah dan kebersamaan semua lapisan masyarakat. Logo organisasi dan instansi yang dipajang juga berjumlah besar, mencapai 30an logo diluar bank dan lembaga keuangan syariah. Sehingga semua masyarakat merasa memiliki dan bertanggung jawab untuk kesuksesan acara ekonomi syariah.
Fenomena ini jauh berbeda dengan Festival Ekonomi Syariah yang digelar di Jakarta. Sehingga kesannya, penyelengara hanya Bank Indonesia dan bank-bank syariah. Logo ormas dan assosiasi tidak masuk, karena tidak memberikan konstribusi dana. Padahal peran kesuksesan bukan hanya melalui dana, tetapi juga tenaga, pikiran dan massa yang besar. Tampilan logo dipublikasi mengesankan, bahwa tanggung jawab mengembangkan bank syariah hanya ada pada Bank Indonesia dan bank-bank syariah. Inilah kesalahan fatal gerakan akselerasi bank syariah. Padahal tangung jawab untuk mengembangkan bank syariah dan ekonomi Islam menjadi kewajiban setiap muslim. Maka, pada FES ini, tak ada ormas Islam yang dilibatkan secara langsung untuk menyukseskan acara ini. (NU, Muhammadiyah, MUI, Dewan Masjid, BKPRMI dan banyak lagi. Apalagi melibatkan jamaah masjid (Dewan Masjid dan BKPRMI). Tak satupun assosiasi penting di negeri ini yang diajak maju bersama. mengkampanyekan ekonomi Islam pada momentum FES . Kalaupun ada diberi peluang untuk berseminar, hanya sekedar itu. Keberadaannya tidak dianggap sebagai panitia yang bertanggung jawab untuk kesuksesan acara.
Panitia FES juga tak ada kerjasama dengan ratusan majlis ta’lim dan majlis zikir . Tak ada kerjasama dengan Gubernur DKI dalam menghadirkan massa. Tidak ada kerjasama dengan dinas pendidikan DKI Jakarta dan Kanwil Departemen Agama DKI Jakarta. Kedua institusi ini bisa bisa mengintruksikan kepada para kepala sekolah untuk mengerahkan massa menghadiri Festival Ekonomi Syariah.
Selain itu, seyogianya, ribuan masjid di Jabodetabek mengumumkan acara FES selama 3 jumatan berturut-turut pada momentum shalat jumat. Poster juga harusnya di pajang di seluruh masjid dan pesantren, Perguruan Tinggi, sekolah dan instansi-instansi pemerintah dan swasta. Jadi iklan bukan hanya di kompas dan Republika atau di TV secara selintas.
Kembali kepada sejarah Festival Ekonomi Syariah di Medan Perlu dicatat Kegiatan Festival Ekonomi Syariah terbesar ini dimotori oleh IAIN-Sumatera bekerjasama dengan Bank-bank Syariah dan Pemerintah Sumatera Utara, tanpa sedikitpun bantuan Bank Indonesia. Bank Indonesia saat itu sangat sulit diajak kerjasama karena berbagai faktor.
Yang terjadi di Medan, adalah IAIN mengajak bank-bank syariah mengadakan Festival.. Karena IAIN bertanggung jawab untuk melaksanakan syariah dan membumikanya di Indonesia. Acara itu sukses secara spektakuler. Semua elemen masyarakat dilibatkan. Tidak ada yang ingin menonjol sendiri, tetapi maju bersama. Adapun kegiatan-kegiatan ekonomi syariah yang digelar sepanjang lebih dari 2 bulan itu ialah :

1. Pada tahun 2002 itu, kegiatan Ekonomi Syariah EXPO (Pameran Ekonomi Islam) berlangsung selama 1 (satu) bulan penuh, mengambil tempat di Medan Fair atau biasa juga disebut Pekan Raya Sumatera Utara. Ekonomi Syariah Expo ini dikunjungi dan dipadati puluhan ribu pengunjung. Jumlah dan kepadatan pengunjung melebihi Festival Ekonomi Syariah di Jakarta Convention Centre (JCC). Meskipun jumlah bank syariah masih sedikit, hanya ada Bank Muamalat dan Bank Syariah Mandiri, namun jumlah stand cukup banyak, karena melibatkan seluruh BPR Syariah, BMT, Asuransi Takaful, dan Usaha Sektor Riil Syariah yang berasal dari para nasabah bank syariah, Perguruan Tinggi, Lembaga Assosiasi dan sebagainya. Padatnya pengunjung disebabkan manajemen pengarahan massa dilakukan secara canggih. Seluruh agenda kegiatan FES diumumkan di seluruh masjid pada setiap shalat jumat. Sekolah dan pesantren diundang dan dimobilisasi. Demikian majlis ta’lim dan Perguruan Tinggi. Di masjid-masjid dan kampus ditempel poster publikasi Festival Ekonomi Syariah. Radio dan TV dioptimalkan. Dialog Ekonomi syariah Di TVRI diadakan tentang Festival Ekonomi syariah.

2. Festival Ekonomi Syariah di Medan ini juga menyelenggarakan Seminar Nasional “Ekonomi Syari’ah dan Pemberdayaan Wakaf Produktif pada tanggal 1 – 2 Mei 2002, menghadirkan 16 Pembicara Nasioanal/ Internasional di Asrama Haji Medan. Kegiatan ilmiah yang berlangsung selama dua hari ini dihadiri 300 peserta dari berbagai daerah, baik Sumatera Utara maupun di luar propinsi Sumut. Pada seminar ini sebagai pembicara antara lain, Prof.Dr.M.Dawam Raharjo, Prof.Dr.M.Amin Aziz, Prof.Dr.M.Yasir Nasution, Mustafa Edwin Nasution, Ph.D, Dr. Uswatun Hasanah, Dr. Adi Sasono, Prof. Dr. M.A,Mannan, Prof. Dr. Monzer Kahf, Drs.Muhammad Hidayat, MBA (DSN), Prof.Dr. Nur Ahmad Fadhil Lubis, MA, Ir.Adiwarman Karim, MA, MAEP, John Tafbu Ritonga, M.Ec, Bapak Hilmi, SE (Mantan pejabat Seniar Bank Indonesia), dan Ahmad Bukhari dari Biro Perbankan Syariah Bank Indonesia. Bagi masyarakat akademis, seminar ini dipandang cukup penting dalam membuka cakrawala akademis untuk pengembangan ekonomi Islam di Indonesia, baik studi akademis maupun di lapangan.

3. Kegiatan ketiga Festival Ekonomi Syariah ialah acara Internasional Seminar on Dinar Dirham as Solution, oleh FKEBI (Forum Kajian Ekonomi dan Bank Islam) IAIN Medan, dan Yayasan Dinar Dirham, pada tanggal 14 Maret 2002 di Hotel Garuda Plaza Medan. Seminar ini juga menghadirkan banyak pakar dari luar negeri. Di antaranya dari Skotlandia dan dua orang pembicara asal Malaysia yang merupakan penasehat ekonomi PM Malaysia saat itu. Pembicara dari Indonesia adalah Bapak Dr. Adi Sasono, dan lain-lain.

4.Kegiatan yang sangat spektakuler dan paling meriah adalah Pawai Akbar Masyarakat Ekonomi Syari’ah dalam rangka menyambut Tahun Baru Islam 1423 H. Perlu dicatat, bahwa Festival Ekonoimi Syariah yang diselenggarakan di Medan berkaitan dengan Penyambutan Tahun Baru Islam. Kegitan pawai akbar ini mirip dengan Fun Walk yang digelar Bank Indonesia pada Festival Ekonomi Syariah 2008 dan 2009. Cuma dari segi jumlah massa, Pawai akbar ekonomi syariah Sumatera Utara jauh lebih besar, karena pawai akbar ini diikuti belasan ribu, bahkan 17.000 dari berbagai lapisan dan unsur masyarakat. Padahal seharusnya jalan santai di Jakarta jauh lebih ramai, karena dilaksanakan di ibukota, bukan di daerah. Jadi jika dievaluasi kegiatan FES yang ada di Jakarta, masih jauh dari yang diharapkan.
Pawai akbar di Sumatera melibatkan belasan ribu massa dari berbagai lapisan, (Perguruan Tinggi, Sekolah, Ormas Islam, praktisi Lembaga Perbankan dan Keuangan Syari’ah, jajaran Pemerintah sejak kelurahan, kecamatan, seluruh dinas pemerintah di Pemko Medan, partai politik Islam, lembaga-lembaga zakat, Sekolah dan Madrasah, Pesantren, seluruh remaja mesjid (BKPRMI), dsb. Dengan melibatkan semua unsur ummat tersebut, jelas sekali, kalau jumlah peserta pawai akbar ekonomi Islam mencapai 17.000an orang.
Yang sangat luar biasa dalam kegiatan FES Sumatera Utara ini adalah kerjasama hampir seluruh Lembaga Islam di Sumatera Utara, belasan Perguruan Tinggi, MUI, ORMAS-ORMAS Islam, BAZIS, BMT, BPRS, pesantren, pengusaha, pemerintah propinsi Sumut, pemerintah kota Medan, Departemen Agama, bahkan partai Politik Islam. Hampir tidak ada unsur masyarakat Islam yang tak terlibat. Pendeknya dalam kegiatan ini terdapat 30 pendukung aktif yang masuk sebagai sponsor.
Route pawai akbar ekonomi Islam ini mulai dari Masjid Agung (Kantor Gubernur Sumatera Utara) sampai halaman masjid Ulul Albab IAIN-Sumatera Utara. Pada Pawai Akbar kedua tahun 2003, Route diubah menjadi dari Masjid Agung ke Majid Raya Medan.

5. Festival Ekonomi Syariah pertama dan terbesar ini juga menggelar Tabligh Akbar Ekonomi Syari’ah di Istana Maimun yang dihadiri puluhan ribu jama’ah dan disponsori oleh lembaga-lembaga perbankan dan keuangan syari’ah. Ceramah disampaikan oleh H A. Abdullah Gymnarniar (AA Gym) dari Bandung. Pada momentum ini hadir banyak pejabat dan ormas Islam, tokoh masyarakat dari berbagai lembaga, pengusaha. Bank Muamalat dan Dewan Perdagangan Islam, merupakan sposnor utama acara ini.

6. Pada momentum FES 2002 ini juga diresmikan dan dilantik Dewan Perdagangan Islam Sumatera Utara oleh Gubernur Sumatera Utara. Dewan Perdagangan Islam merupakan hasil kerjasama dengan Dewan Perniagaan Islam Malaysia. Boleh dikatakan, bahwa inilah Assosiasi pengusaha muslim pertama setelah Syarikat Dagang Islam tahun 1911.

7. Kegiatan FES selanjutnya ialah Peluncuran Dua buah Buku, yaitu Buku Prospek Perbankan Syari’ah di Indonesia dan Percikan Pemikiran Ekonomi Islam karya Agustianto

8. Lomba Pidato ekonomi Islam tingkat Mahasiswa, Pesantren dan SMU di Medan Fair Plaza. Lomba Karya Tulis Ekonomi Syari’ah

Kegiatan Tahunan
Kegiatan FES tersebut digelar setiap tahun di Sumatera Utara mulai tahun 2002, 2003, 2004, 2005, 2006, 2007, 2008. dengan berbagai kegiatan yang sering dipadati pengunjung. Kegiatan FES Sumatera Utara kedua dilaksanakan pada tahun 2003 dengan menggelar beberapa kegiatan, seperti :

a. Tabligh Akbar Ekonomi Syari’ah Empat Propinsi bersama K.H.Ma’ruf Amin (Ketua DSN MUI) di Gelanggang Mahasiswa IAIN_SU dan Orasi Ekonomi Syariah oleh Drs.Agustianto,MA.
b. Peresmian Badan Waqaf Sumatera Utara oleh Menteri Agama Republik Indonesia, 2 April 2003. Perlu dicatat inilah Badan Waqaf Pertama di Indonesia yang didirikan berdasarkan wilayah propinsi. Badan Waqaf ini jauh mendahuli lahirnya Badan Waqaf Indonesia dalam skala nasional.
c. Pawai Akbar Masyarakat Ekonomi Syari’ah Sumatera Utara, 29 Maret 2003. Para peserta sama persis dengan Pawai Akbar pertama tahun 2002.

Kegiatan FES Ekonomi Syari’ah Ke 3 Propinsi Sumatera Utara tahun 2004. dengan menggelar beberapa agenda acara :

a. Malam Penggalangan Dana Cash Wakaf dan Silaturrahmi Pengusaha Muslim, ulama dan Birokrat
b. Peluncuran Buku Wakaf Produktif bersama Gubernur
c. Lounching Pembukaan Unit Usaha Syari’ah PT Bank Sumut
d. Pawai Akbar Masyarakat Ekonomi Syari’ah Sumatera Utara, yang melibatkan 15,000an masyarakat dari berbagai unsur masyarakat
e. “Economi Syari’ah CUP” yaitu pertandingan olahraga sesama masyarakat Ekonomi Syariah, yang melibatkan seluruh karyawan Lembaga Keuangan dan Perbankan syari’ah, serta Akademisi Ekonomi Syari’ah di Lapangan.GOR (Gedung Olahraga) USU, Universitas Sumatera Utara.

Pada tahun 2005, kota Medan kembali disemarakkan oleh kegiatan besar ekonomi syariah internasional, yaitu dengan dilaksanakannya Muktamar Pertama Ikatan Ahli Ekonomi Islam (IAEI) di Medan, tepatnya tanggal 18 – 19 September 2005 di Hotel Garuda Plaza. Muktamar yang dirangkai dengan Seminar Internasional itu dihadiri lebih dari 300 peserta dari seluruh Indonesia yang merupakan utusan Perguruan Tinggi dan pemerintah setiap propinsi. Para pembicara didatangkan dari dalam dan luar negeri, seperti dari Mesir, USA, Bangladesh dan Malaysia.
Selanjutnya, pada tahun 2007 kegiatan besar kembali digelar dengan nama Ekonomi Syariah Fair 2007 yang dibuka langsung Wakil Presiden RI, Yusuf Kalla dan dihadiri Gubernur bank Indonesia dan sejumlah Menteri. Kegiatan ini berlangsung selama tiga minggu sehingga banyak menyerap pengunjung. Dampaknya, market share bank syariah di Sumut meningkat secara fantastis dalam 1 bulan pasca acara, dari 1,9 menjadi 2,7 persen. Sementara di tingkat nasional, market share masih jauh tertinggal, belum menembus angka 1,8 persen saat itu.

Kegiatan Syariah EXPO di Sumetera Utara itu selanjutnya dikembangkan secara nasional di Jakarta yang dibawa oleh pegiat ekonomi syariah Medan berdasarkan pengamalan Medan selama bertahun-tahun mengelola Festival Ekonomi Syariah. Selanjutnya event Ekonomi Syariah Expo dipundakkan kepada MES (Masyarakat Ekonomi Syariah). Mulanya, rencana kegiatan ISE (Indonesia Syariah Expo) itu dibicarakan pada rapat pengurus IAEI awal Agustus 2005 di Universitas Indonesia menjelang Muktamar Ikatan Ahli Ekonomi Islam di Medan. Rapat IAEI itu dihadiri oleh para pegurus IAEI ; Prof.Syofyan Syafri Harahap, Aries Mufti, M.Syakir Sula, Mustafa Edwin Nasution, Dr.Uswatun Hasanah, Agustianto dan sejumlah pengurus IAEI lainnya, seperti Nurul Huda, Tatik Maryanti (Trisakti), dan lain-lain. Rapat itu telah menyepakati diadakannya FES atau Indonesia Syariah Expo yang dimotori oleh Masyarakat Ekonomi Syariah (MES).
Pada rapat itu dibagi tugas pengembangan ekonomi syariah. Karena pengurus IAEI juga adalah pengurus MES dan pengurus MES juga adalah pegurus IAEI. Namun, focus penekanannya berbeda. IAEI lebih focus pada pengembangan pendidikan melalui dunia akademis, sedangkan MES pada kegiatan yang lebih besar dan luas dari itu, seperti Expo dan Eksebisi. Maka EXPO ditangani oleh MES, sedangkan IAEI lebih focus pada pendidikan Ekonomi Islam dan studi akademis. Maka sejak tahun 2007, MES menggelar Indonesia Syariah Expo yang gaungnya juga angat hebat dan dampaknya sangat besar. Indonesia Syariah Expo kedua dilaksanakan oleh MES pada tahun 2008, bekerjasama dengan beberapa assosiasi ekonomi syaroiah lainnya, seperti IAEI, ASBISINDO, ASBINDO, PKES dan lain-lain.
Bank Indonesia baru memulainya pada 2008 sebagai upaya untuk meningkatkan peran sistem keuangan syariah sebagai bagian dari sistem ekonomi nasional. Selanjutnya pada 4 sd 8 Februari Bank Indonesia, kembali menggelar Festival Ekonomi Syariah kedua di Jakarta Convention Centre. Demikian sekilas tentang sejarah Festival Ekonomi Syariah di Indonesia. Semoga bermanfaat.

Penutup
Festival Ekonomi Syariah (FES) merupakan ajang promosi, edukasi dan sosialisasi yang cukup penting bagi gerakan dan pengembangan ekonomi syariah di Indonesia. FES merupakan momentum paling strategis dalam pengembangan ekonomi syariah di Indonesia. Karena itu, acara Fstival Ekonomi Syariah hendaknya dilaksanakan di seluruh daerah Indonesia. Tahun 2008 lalu, beberapa daerah sudah mulai menggelar Festival Ekonomi Syariah, seperti Surabaya, Ujung Pandang, Balik Papan, Palembang dan beberapa daerah lainnya. Namun manajemennya harus ditingkatkan secara lebih profesional dan merangkul banyak kalangan massa. Majlis Ulama dan Perguruan Tinggi harus menjadi pelopor di depan bersama Bank Indonesia dan Bank-Bank Syariah. Pemerintah propinsi wajib dilibatkan secara aktif, baik dalam masalah dana maupun massa.
Sejarah Festival Ekonomi Syariah ini dibentangkan dalam sebuah tulisan, dengan tujuan agar masyarakat di daerah dapat meniru kegiatan serupa, sehingga seluruh propinsi bisa mengelar Festival Ekonomi Syariah. Mengapa masyarakat Sumatera Utara bisa melaksanakannya dengan rentang waktu yang panjang dan rangkaian kegiatan yang banyak. Daerah-daerah lain perlu belajar dan meniru Festival Ekonomi Syariah yang pernah digelar dengan sukses di Medan. Kalaupun pada tahun 2008 ada Festival Ekonomi Syariah di sebagian kecil daerah, hal itu terwujud berkat peranan Bank Indonesia. Harusnya Masyarakat Ekonomi Syariah di daerah bergerak dan bangkit, meskipun tanpa bantuan Bank Indonesia. Namun, jika Bank Indonesia di daerah mau membantu, tentu hal itu jauh lebih baik. Saya menyampaikan ini kepada teman-teman di seluruh daerah di Indonesia, agar jangan terlalu menggantungkan kegiatan ekonomi syariah kepada Bank Indonesia, meskipun Bank Indonesia di daerah harus diajak.
Di masa depan, Bank Indonesia didesak untuk menggandeng para assosiasi ekonomi syariah dan kalau perlu menyerahkan pelaksanaan FES kepada assosiasi yang memiliki komitmen tinggi dalam mengembangkan ekonomi syariah. Dengan demikian, kegiatan FES tidak perlu dilaksanakan dua kali setahun. Selama ini, kegiatan expo menjadi dua kali, yaitu dilaksanakan oleh MES dengan nama Indonesia Syariah Expo dan Bank Indonesia dengan nama Festival Ekonomi Syariah. Kedua Festival ekonomi syariah harus disatukan, sehingga bank-bank syarah tidak kehabisan energi. Bank Indonesia hendaknya jangan tampil sendirian, tetapi secara bersama-sama dengan penggiat ekonomi syariah lainnya menggelar kegiatan tersebut. Ingat, bersama kita bisa, bersatu kita teguh dan kuat.Al-Ittihadu Quwwatun. Wassalam

(Penulis adalah Sekjen IAEI dan mantan Sekjen Festival Ekonomi Syariah Sumatera Utara 2002, 2003, 2004)

Sumber : pesantrenvirtual.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Loading Facebook Comments ...