Saatnya Perbankan Syariah Garap Sektor Industri

Perbankan SyariahPerekonomian nasional terus menunjukkan gejala deindustrialisasi. Kendati pertumbuhan ekonomi masih berada pada angka positif, namun pertumbuhan tersebut tidak ditopang sektor industri dan malah makin bergeser pada sektor jasa yang kurang menyerap tenaga kerja.

Pengamat ekonomi dari Universitas Indonesia, Faisal Basri, mengatakan, salah satu pemicu deindustrialisasi adalah rendahnya dukungan perbankan dalam pemberian kredit atau pembiayaan ke sektor industri.

Menurut Faisal, menjauhnya sektor perbankan dari industri masih akan terus terjadi pada tahun 2011 mendatang. Pada waktu yang sama, pertumbuhan perbankan syariah terus mengindikasikan pertumbuhan yang signifikan. Karena itu, Faisal meminta agar perbankan syariah tidak ikut-ikutan ‘berbuat dosa’ seperti perbankan konvensional. “Caranya ya jangan menjauhi industri, justru harus serius menggarap sektor ini,” ujar Faisal melalui sambungan telepon kepada Republika, Kamis (25/11).

Dikatakan, pada masa sebelum krisis ekonomi 1997/1998, perekonomian nasional sangat ditopang industri dengan dengan pertumbuhan rata-rata 12 persen per tahun. Namun ironisnya, kini saat pertumbuhan ekonomi nasional mencatat angka positif sekitar enam persen, pertumbuhan industri justru tinggal empat persen atau cenderung lebih rendah daripada Produk Domestik Bruto.

Akibatnya, jumlah pengangguran terus meningkat lantaran lemahnya kemampuan sektor industri menyerap tenaga kerja. Sementara itu, kinerja perbankan yang positif cenderung ditopang keberhasilan mereka mendongkrak pembiayaan di sektor konsumsi. “Padahal, pertumbuhan ekonomi yang bagus itu seharusnya dibarengi dengan perkembangan industri yang baik, bukan berlomba banyak-banyak konsumsi atau impor,” ujar Faisal.

Perbankan syariah yang saat ini tengah memasuki masa booming di Indonesia, lanjut Faisal, tidak boleh mengikuti langkah perbankan konvensional dalam hal pembiayaan konsumtif. “Harus ke sektor produktif.”

Lebih jauh dia menerangkan, agar perkembangan perbankan syariah bisa terus terjaga dan mampu memberikan dampak positif terhadap perekonomian nasional, maka perbankan syariah harus berani menjadi bank yang spesifik atau fokus terhadap sektor tertentu. “Misalnya BSM (Bank Syariah Mandiri) garap pembiayaan muamalat, BRI Syariah gadai emasnya, bank syariah yang lain fokus ke yang lain.”

Dengan kekhususan pasar setiap bank syariah, Faisal optimistis perbankan syariah bisa menjelma menjadi pemain utama dalam dunia perbankan nasional. Lagipula, apabila bank syariah terlalu ‘rakus’ untuk menggarao seluruh sektor layaknya perbankan konvensional, maka faktor sumber daya manusia perbankan syariah tidak akan mampu menjalankannya.

“Ingat, di Cina itu bank-bank terbesar justru bank yang fokus ke sektor tertentu. ICBC (Industrial and Coomercial Bank of China) fokus pada industri, sementara CCB (China Construction Bank) fokus pada infrastruktur,” terang Faisal.

Direktur Risiko dan Kepatuhan BNI Syariah, Imam T Saptono, menyatakan, selama ini perbankan syariah sudah mempunyai visi dan paradigma kerja yang sejalan dengan pertumbuhan sektor produktif. Buktinya, komposisi pembiayaan yang dilakukan perbankan syariah banyak diberikan kepada sektor produktif dan UMKM.

Namun masalahnya, lanjut Imam, pangsa pasar perbankan syariah yang baru mencapai angka 3,1 persen masih terlalu kecil untuk bisa memberikan dampak signifikan terhadap pertumbuhan sektor industri. “Karena itu yang diperlukan sebenarnya pemahaman yang sejalan, karena untuk pertumbuhan yang baik kita tidak sekadar butuh cepat tapi juga volume (pangsa pasar)-nya,” ujar Imam.

Sumber : Republika

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


*

Loading Facebook Comments ...