Premi Asuransi Syariah Global Diproyeksikan Meningkat

Kontribusi premi industri asuransi syariah global diproyeksikan akan melebihi 8,8 miliar dolar AS tahun ini. Hal tersebut terutama didorong industri asuransi syariah Indonesia dan Uni Emirat Arab yang menjadi pasar asuransi syariah tercepat di dunia.

Ernst&Young LLP menyatakan kontribusi industri asuransi syariah secara global akan meningkat 30 persen menjadi 8,9 miliar dolar AS di tahun ini. Negara-negara Teluk akan berkontribusi sebesar 6,47 miliar dolar AS atau 73 persen dari proyeksi tahun ini.

Pertumbuhan industri asuransi syariah Indonesia menjadi yang tercepat di Asia Tenggara dengan rata-rata pertumbuhan 35 persen antara 2005-2008, sementara Uni Emirat Arab menjadi pasar asuransi syariah yang mengalami pertumbuhan terpesat di dunia dengan rata-rata pertumbuhan 135 persen. Namun dari jumlah kontribusinya Arab Saudi menjadi yang terdepan dengan jumlah 2,9 miliar dolar AS.

Diikuti oleh Malaysia dengan kontribusi premi 900 juta dolar AS. Di luar negara-negara yang tergabung dalam Dewan Kerjasama Teluk (Gulf Cooperation Council/GCC) dan Asia Tenggara, Sudan menjadi negara yang memiliki pasar paling siginifikan dengan total kontribusi premi 280 juta dolar AS.

Pertumbuhan industri asuransi syariah di GCC melampaui pertumbuhan asuransi syariah global dengan rata-rata 45 persen. Rata-rata pertumbuhan asuransi syariah global sendiri tercatat sebesar 39 persen. Sementara di kawasan lainnya seperti Afrika industri asuransi syariah tumbuh 18 persen dan di Asia Tenggara tumbuh 28 persen.

Adanya kewajiban menggunakan asuransi kesehatan di Arab Saudi turut mendorong pasar asuransi. Asuransi kesehatan di Arab Saudi terutama berkontribusi besar bagi asuransi keluarga dengan perkiraan akan memberikan kontribusi kotor sebesar 49 persen bagi pasar asuransi syariah di kawasan Timur Tengah dan Afrika Utara.

Sementara penetrasi asuransi kesehatan di Asia Tenggara menjadi yang tertinggi dengan porsi 73 persen dari kontribusi premi bersih. ”Saat industri tetap tumbuh dengan kuat, tantangannya bagi operator asuransi adalah menyeimbangkan profitabilitas di masa tahun awal pengembangannya,” kata Head of Ernst & Young’s Middle East Islamic Financial Services Group, Sameer Abdi.

sumber : republika

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Loading Facebook Comments ...