Pertumbuhan Perbankan Syariah di Yogya Lampaui Perbankan Konvensional

Perbankan Syariah
Perkembangan ekonomi syariah di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) cukup menggembirakan. Bahkan untuk sektor perbankan syariah, pertumbuhannya justru melebihi perbankan konvensional.

Berdasarkan data Bank Indonesia (BI) Yogyakarta, pertumbuhan perbankan syariah di DIY hingga Agustus 2010 lalu mencapai 19,04 persen dari posisi pada Desember 2009. “Total aset perbankan syariah di DIY pada Agustus 2010 mencapai Rp 1,532 Trilyun naik 19,04 persen dari posisi Desember 2009 yang hanya Rp 1,287 Trilyun,” terang tim kajian ekonomi BI Yogyakarta, Dwi Suslamanto, Selasa (19/10).

Pertumbuhan tersebut kata dia, melebihi pertumbuhan perbankan konvensional maupun Bank Perkreditan Rakyat (BPR) di DIY. Pasalnya,perbankan konvensional di DIY hanya tumbuh 7,88 persen. Pertumbuhan itu terlihat dari total aset perbankan konvensional di DIY pada Agustus 2010 sebesar Rp 26,5 Trilyun dari posisi Desember 2009 sebesar Rp 24,6 Trilyun. Sedangkan pertumbuhan BPR di DIY mencapai 13,13 persen yaitu dari total aset Rp 1,98 Trilyun pada Desember 2009 menjadi Rp 2,25 Trilyun pada posisi Agustus 2010.

Pertumbuhan perbankan syariah di DIY itupun didominasi oleh peningkatan dana pihak ketiga yang mencapai 29,09 persen yaitu dari Rp 886 Milliar pada Desember 2009 menjadi Rp 1,143 Trilyun di posisi Agustus 2010. Pembiayaan juga tumbuh signifikan sebesar 28,54 persen dari Rp 700 miliar menjadi Rp 899,9 milliar di posisi Agustus 2010.

Dengan pertumbuhan yang signifikan tersebut kata dia, maka share perbankan syariah di DIY mencapai 5,78 persen di tahun 2010 ini dari totalaset perbankan. Share tersebut ternyata melebihi share perbankan syariah nasional. ‘Pertumbuhan perbankan syariah di DIY memang tertinggi di Indonesia,” terangnya.

Diakuinya, tingkat pendidikan masyarakat DIY yang rata-rata lebih tinggi dibanding daerah lain menjadi penyebab signifikan terhadap pesatnya pertumbuhan perbankan syariah di Yogyakarta. Meski tumbuh pesat kata Dwi, tetapi kedepan sosialisasi perbankan syariah masih harus terus dilakukan.Pasalnya pangsa pasar untukperbankan syariah ini masih cukup tinggi. Selain itu posisi kantor perbankan syariah di DIY masih ada di perkotaan dan menyebar ke seluruh wilayah di DIY.

Kendala terbesar perbankan syariah di DIY menurutnya adalah sumber daya manusia (SDM) yang mengelola perbankan syariah itu sendiri.Menurutnya jumlah perguruan tinggi yang membuka program study perbankan syariah masih cukup minim. “Yang ada adalah ekonomi syariah dan bukanperbankan syariah,” terangnya.

Padahal lanjutnya, kebutuhan SDM perbankan syariah di Yogyakarta cukup tinggi seiring dengan tumbuhnya sektor tersebut. Selama ini lanjut dia, kebutuhan SDM di perbankan syariah tersebut dipenuhi dari SDM perbankan konvensional. Karenanya BI sejak tiga tahun terakhir menyelenggarakan sertifikasi manajer perbankan syariah. Itu dilakukan agar maindset perbankan syariah benar-benar tertanam dan dipraktekkan secara baik oleh manajer tersebut.

Sumber : Republika

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Loading Facebook Comments ...