Perdagangan Sumbang Pembiayaan Bermasalah Terbesar BPRS Suriyah

Direktur Utama BPRS Suriyah, Ahmad Mujahid, mengatakan pembiayaan bermasalah BPRS Suriyah mayoritas berasal dari sektor perdagangan. Porsi itu sesuai dengan besaran penyaluran pembiayaan BPRS Suriyah ke sektor tersebut.

Per April total outstanding pembiayaan BPRS yang berlokasi di Cilacap, Jawa Tengah ini sebesar Rp 15,6 miliar dan yang masuk dalam kolektibilitas pembiayaan non lancar Rp 577 juta, atau dengan rasio NPF gross 3,7 persen. ”Sekitar 60 persen pembiayaan BPRS Suriyah disalurkan ke perdagangan, jadi otomatis NPF sebagian besar juga berasal dari sektor itu,” kata Mujahid, Jumat (25/6).

Sektor perdagangan yang fluktuatif menjadi salah satu faktor sebagian besar NPF terjadi di sektor tersebut. Untuk menjaga kualitas pembiayaan, Mujahid melakukan pendekatan persuasif kepada nasabah. ”Kita melihat usaha nasabah kalau masih prospektif dan memiliki kemampuan membayar kita melakukan restrukturisasi atau penjadwalan kembali. Alhamdulillah belum pernah ada pembiayaan bermasalah yang masuk sampai pengadilan,” paparnya.

Sampai akhir tahun, dia akan berusaha menekan NPF menjadi 1,7 persen. NPF BPRS Suriyah pada April 2010 mengalami penurunan dari bulan sebelumnya yang mencapai 3,9 persen. Untuk mencapai target NPF tersebut, BPRS Suriyah akan tetap menjaga kualitas pembiayaan dengan menerapkan prinsip kehati-hatian bank.

Sumber : Republika.co.id

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Loading Facebook Comments ...