Perbedaan Pajak dan Zakat

yang membedakan Pajak dan Zakat antara lain:

Pertama, tidak ada asma Allah dalam pajak. Kita terlanjur terlalu lama menjadi sekuler, memisahkan urusan agama dengan dunia. Termasuk dalam konteks ini, zakat dibedakan dengan pajak. Warga negara—muslim—yang sudah mengeluarkan uangnya untuk zakat, masih harus membayar pajak kepada negara. Jadi, harus membayar dua kali lipat, satu kewajiban agama, satu lagi “paksaan” negara. Padahal, syariah-nya kalau sudah bayar zakat, maka bersihlah hartanya.

Hal ini berimplikasi serius, yaitu pada penyikapan terhadap uang itu. Jika zakat, pengelola dan distributornya, akan berhati-hati karena ada “nama Allah” di setiap keping rupiah itu. Maka peruntukannya juga sangat hati-hati, zakat adalah uang titipan Allah.

Sementara, kalau “hanya” uang pajak—sebagaimana yang terjadi selama ini—banyak orang berani korupsi. Karena, agaknya menurut mereka, uang pajak tidak dilekati “nama Allah”. Saat membayar, wajib pajak tidak harus membaca asma Allah dan nawaitu untuk agama, mereka hanya harus tandatangan di form tertentu. Ini membuat tidak ada nilai sakral dalam uang pajak.

Idealnya, perlu “membalut” seluruh uang yang dibayar wajib pajak dengan asma Allah. Kehadiran asma Allah dalam pembayaran setiap rupiah dari uang pajak akan menggugah ketakwaan—bukan sekedar ketakutan—pada nurani setiap aparat negara, baik pemungut mau pun pengelola. Mereka akan ekstra hati-hati, agar setiap rupiah dari uang pajak yang dikelolanya dapat dipertanggungawabkan “ke atas”, yaitu Allah subhanahu wa ta’ala, dan “ke bawah”, yaitu kepada segenap rakyat yang membayar (muzakki) maupun yang berhak menerima manfaat (mustahiq).

Kedua, pembayar pajak banyak, lebih dilindungi. Menurut Masdar F Mas’udi, ada tiga persepsi tentang zakat, yaitu [1] pajak sebagai upeti (dlaribah), [2] pajak sebagai imbal jasa (jizyah) dan [3] pajak sebagai zakat, keadilan untuk semua. Agaknya, yang terjadi di Indonesia sekarang ini adalah pajak dengan jenis pertama dan kedua. Warga membayar pajak atas “paksaan” negara—yang melabeli segala produk dan aktivitas warga dengan pajak, dan membayar pajak sebagai “imbal jasa” pengamanan.

Maka, yang terjadi sungguh menyesakkan dada. Pengusaha komprador dan mereka yang korupsi dan menggerogoti uang pajak dari rakyat—dengan cara yang “legal”—tetap akan dilindungi, karena secara legal, pajak mereka besar dan lancar. Sementara pedagang kaki lima atau pengusaha kecil yang tak mampu bayar pajak, tidak mendapat perlindungan memadai dari aparat, bahkan sering diusir-usir.

Rakyat kaya pembayar pajak besar berhak mendapatkan layanan dari negara lebih besar dibanding yang diterima pembayar pajak kecil. Pada saat yang sama, rakyat miskin papa yang tidak mampu membayar pajak sama sekali, secara normatif, tidak berhak menuntut apa-apa dari negara selain menunggu tetesan kedermawanan (tricle down effect) belaka dari para elitenya. Bayar mahal dilindungi, bayar sedikit terusir. Di manakah keadilan ini diletakkan?

Ketiga, harus diadakan sosialisasi untuk revolusi pemahaman akan pajak, yaitu membayar atas nama Allah. Dari sini akan muncul akibat, dari sudut rakyat pembayar (tax-payer), pajak akan dibayarkan dengan hati ikhlas sebagai kewajiban ilahiyah untuk kebaikan dan kemaslahatan bersama. Selain itu, gerutuan yang selama ini menyertai setiap momen pembayaran pajak dan membuatnya sebagai “uang panas dan kotor”, akan digantikan dengan keikhlasan beribadah yang akan mengubah status uang pajak menjadi halal dan penuh berkah.

Jika itu sudah terwujud, akan terjadi proses peralihan pada uang pajak yang dalam konsep upeti (dlaribah) atau imbal jasa (jizyah) merupakan uang penguasa, bergeser menjadi uang Allah untuk kepentingan segenap rakyat tanpa membedakan agama dan keyakinannya (Qs. at-Taubat: 60).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Loading Facebook Comments ...