Perbankan Syariah Indonesia Diminati Investor Timur Tengah

ekonomi islamPotensi pengembangan sistem keuangan Islam, khususnya perbankan syariah di Indonesia masih tetap menarik minat para investor Timur Tengah dan pelaku usaha sektor terkait. Hal ini terbukti dengan tampilnya Konjen RI Dubai, Mansyur Pangeran, sebagai salah satu pembicara dalam kegiatan ‘Islamic Finance Forum 2011 (IFF)’, ujar Sekretaris Pertama/ Konsul Fungsi Pensosbud KJRI Dubai, Adiguna Wijaya dalam keterangan pada ANTARA London, Jumat (24/6).

Tampilnya Konjen Mansyur sebagai pembicara dalam forum ini atas undangan khusus Saed Al Awadi, CEO Dubai Exports Development Corporations/ DEDC (Departemen Pembangunan Ekonomi Pemerintah Dubai) selaku panitia IFF 2011. Peserta forum terdiri atas manajer bank syariah/non-syariah, baik tingkat nasional maupun internasional, pengusaha dan investor perusahaan terkemuka, serta pakar dan konsultan sistem keuangan Islam.

Pembicara lainnya yang tampil terdiri dari pakar, konsultan serta pelaku perbankan dan keuangan berdasarkan hukum Islam atau syariah dari berbagai negara, seperti Dr. Hussain Hassan (Dar Al Sharia Legal and Financial Consultancy, Mesir), Giambattista Atzeni (BNY Mellon, Italia).

Selain itu juga menjadi nara sumber Shar Nazim (Ernst & Young), Dr. Nikolaus Siegfried (LandesBank Berlin, Jerman), Geert Bossuyt (Dar Al Istithmar, Dubai), Rizwan Kanji (King & Spalding, Nigeria), Tim Casben (Lawrence Graham), Moinuddhin Malim (Mashreq Al Islami, Dubai), serta Anwar Belgaumi (Dubai Islamic Bank Capital, Dubai).

Dalam paparannya bertajuk ?Current Indonesia Economy Outlook: Opportunities of Islamic Finance?, Konjen Mansyur menyampaikan kemajuan signifikan ekonomi nasional Indonesia yang 2010 Indonesia dengan berbagai kekayaan sumber daya alamnya tercatat sebagai negara yang mengalami pertumbuhan tercepat (fastest growing country) ketiga diantara anggota G20.

Dikatakannya Indonesia juga menempati posisi 17 kekuatan ekonomi terbesar dunia. Konjen Mansyur menjelaskan mengenai peningkatan jumlah masyarakat kelas menengah (middle class) yang mencapai 17 persen dari total populasi 240 juta penduduk. Hal ini merupakan salah satu faktor pendukung bagi peningkatan permintaan domestik (domestic demand) yang mendorong pertumbuhan ekonomi nasional Indonesia.

Kekuatan kelompok masyarakat kelas menengah ini yang dinilai telah mampu menginvestasikan uangnya pada bank, sehingga menjadi target perbankan termasuk perbankan syariah. Pada kesempatan forum ini, Konjen Mansyur mengumumkan mengenai perubahan jadwal rencana kunjungan Misi Dagang UAE Islamic Financial Service (UIFS) ke Indonesia.

Pada awalnya kunjungan Misi Dagang UIFS dijadwalkan tanggal 26-28 September , namun disepakati menjadi tanggal 17-19 Oktober. Menurut rencana Delegasi Misi Dagang UIFS akan mengadakan pertemuan dengan pejabat tinggi dan pengusaha terkemuka di Indonesia, dalam rangka menjajaki peluang pengembangan sektor keuangan dan perbankan syariah di Indonesia.

Menutup paparannya, Konjen Mansyur menekankan saat ini merupakan waktu yang tepat bagi para peserta IFF 2011 untuk turut berpartisipasi dalam kunjungan Misi Dagang UIFS tersebut. Kunjungan tersebut akan dirangkaikan dengan kegiatan menghadiri Trade Expo Indonesia 2011 di Jakarta tanggal 19-23 Oktober mendatang.

Peluang bisnis sektor perbankan syariah Salah satu pembicara lainnya menyoroti mengenai perbankan syariah di Indonesia ialah Presiden Direktur Islamic Financial Services Group, Dubai Islamic Bank (DIB) Capital, Dr. Anwar Belgaumi. Melalui paparannya yang bertajuk “Islamic Finance Opportunities in Indonesia”, Belgaumi yang beberapa kali melakukan kunjungan kerja ke Indonesia, memaparkan berbagai peluang bisnis pada sektor perbankan syariah di Indonesia.

Dikatakannya pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun 2011 mencapai 6,4 persen. Hal ini dikarenakan tren ekspektasi pasar yang tetap positif, walaupun masih dibutuhkan keberanian pemerintah Indonesia mencapai target dan program yang sudah dicanangkan. Belgaumi memperkirakan situasi Indonesia yang kondusif akan berlangsung hingga 2016, dimana ekonomi Indonesia terus ekspansif dan ke depannya akan sangat cerah. “Hambatannya hanya satu, yakni perilaku sistem yang jarang berubah,” tambahnya.

Bahkan Belgaumi menilai saat ini kondisi Indonesia seperti era `90-`97 ditandai dengan stabilnya politik, booming-nya pasar finansial, dan suku bunga berada pada level terendah sepanjang sejarah, serta perbankan. Indonesia dinilai sangat sehat sehingga 80 persen dari ekuitas mendukung untuk pertumbuhan ekonomi.

Berdasarkan kondisi tersebut di atas, Belgaumi menawarkan beberapa pilihan peluang sektor keuangan syariah di Indonesia, yaitu mengakuisisi bank yang ada, membangun bank baru, membuka cabang baru, membuat produk syariah pada bank konvensional, ataupun investasi dengan skema keuangan syariah.

Secara keseluruhan, pembicara lainnya yang tampil dalam IFF 2011 yang dibuka secara resmi Sheikh Butti Bin Suhail Al Maktoum, CEO Royal Emirates Group, memiliki kesamaan pandangan mendukung sistem keuangan syariah sebagai solusi bangsa untuk kemakmuran. Selain itu, dinyatakan lembaga bank syariah juga mempunyai fungsi amanah yang artinya berkewajiban menjaga dan bertanggung jawab atas keamanan dana yang dititipkan. Apabila sewaktu-waktu dana ditarik kembali sesuai dengan perjanjian.

Hubungan bank dengan nasabah adalah hubungan kontrak (akad) antara investor pemilik dana (shohibul maal) dengan investor pengelola dana (mudharib) yang keduanya berinteraksi melakukan kerja sama yang produktif dan keuntungan dibagi secara adil (mutual invesment relationship). Dengan demikian, maka dapat dihindari hubungan eskploitatif antara pihak bank dengan nasabah maupun sebaliknya antara nasabah dengan pihak bank.

Sumber : Republika

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


*

Loading Facebook Comments ...