Perbankan Syariah Butuh Penyempurnaan Konsep

Perbankan SyariahPerbankan nasional tengah menggeliat. Jumlah penduduk yang mencapai 237 juta jiwa dengan mayoritas Muslim membuat Indonesia menjadi potensi baru kekuatan keuangan syariah di dunia.

Kemunculan Bank Muamalat Indonesia di awal tahun 1990-an merupakan tonggak dimulainya aksi koorporasi perbankan syariah. Namun demikian, memasuki dekade ketiga perbankan syariah nasional, ternyata masih diperlukan sejumlah terobosan konseptual dan inovasi-inovasi produk perbankan syariah.

Berangkat dari latar belakang tersebut, Bank Indonesia (BI) bekerja sama dengan sejumlah lembaga akan menggelar Forum Riset Perbankan Syariah (FRBS) di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, 9 Desember mendatang. Ketua Panitia Pengarah (steering committee) FRBS, Masyhudi Muqorobin, mengatakan, forum riset merupakan bagian dari upaya mengatasi permasalahan dalam pengembangan perbankan syariah di Indonesia.

Kecuali itu, forum juga bertujuan sebagai wadah para akademisi dalam memberikan kontribusi berupa sumbang pikir dalam bentuk karya ilmiah. “Bidikan utamanya adalah mendukung pengembangan industri perbankan syariah di tanah air,” kata Masyhudi.

Masyhudi melanjutkan, forum akan dikemas dalam bentuk seminar yang memaparkan makalah-makalah ilmiah dari para akademisi, peneliti dan pemerhati ekonomi dan keuangan syariah. Makalah-makalah didapat dari proses seleksi (call for papers) dengan penilaian aspek orisinalitas, metodologi penulisan, kedalaman analisa, kemanfaatan bagi industri dan ruang lingkup pembahasan.

Forum riset yang mengambil tema Menuju Sistem Perbankan Syariah yang Sehat, Kuat dan Konsisten terhadap Prinsip Syariah diharapkan mampu memberikan dampak aplikatif terhadap pertumbuhan perbankan syariah nasional. “Kami berharap banyak partisipan call for papers dalam forum riset,” ujar Masyhudi.

Dikatakan, untuk memicu para akademisi mengirimkan makalahnya, panitia juga menyediakan kompenssai kepada para penulis dalam bentuk uang senilai Rp 6,5 juta (untuk peneliti pemula) dan Rp 10 juta (untuk peneliti madya). Kategori peneliti pemula adalah mahasiswa S1, Sarjana S1, dan mahasiswa S2 atau setingkat.Sedangkan untuk kategori peneliti madya/utama adalah mereka yang mempunyai gelar magister (S2), mahahiswa program doktoral, dan pemegang gelar doktor atau atau setingkat.

Sumber : Republika

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


*

Loading Facebook Comments ...