Pembiayaan Sektor Mikro Bank Umum Syariah (BUS) Ancam BPR Syariah

ekonomi islamRencana bank umum syariah (BUS) memperbesar pembiayaan sektor mikro dinilai mengancam Bank Pembiayaan Rakyat Syariah (BPRS). Membesarnya pembiayaan sektor mikro BUS berdampak pada semakin kompetitifnya margin.

Persaingan dengan BUS paling berat akan dirasakan adalah dalam pricing produk, sehingga BPRS dituntut harus lebih kreatif karena dari sisi regulasi juga belum ada yang berpihak ke BPRS.

Sebenarnya ada jalur kerjasama antara BUS dan BPRS dalam penyaluran pembiayaan, yaitu dengan skema channeling atau executing. Akan tetapi, BUS lebih memilih kerjasama dengan skema executing dimana resiko gagal dari pembiayaan harus ditanggung BPRS. “Untuk faktor resiko, BUS agak menghindar. Dari sisi bisnis channeling ini tidak terlalu menarik, karena BUS tidak mau menanggung resiko, “ ujar Direktur BPRS Artha Karimah Irsyadi, Mahrus Junaidi.

Karena dari sisi regulasi pun dinilai sulit untuk menekan BUS bekerjasama melalui skema channeling. Maka dia menghimbau kepada pelaku BUS agar memiliki kesadaran dalam berbisnis di pembiayaan sektor mikro, “Kita berbagi kue saja, jangan garap semua, “ ujarnya.

Meski pembiayaan sektor mikro semakin kompetitif, BPRS dinilai masih memiliki keuanggulan dibanding BUS. Mahrus mengaku optimis pihaknya masih dapat ekspansi pembiayaan ke sektor mikro lantaran lebih dekat dengan nasabah. BPRS dapat lebih intensif dalam pelayanan yang membuat nasabah enggan berpindah ke lembaga keuangan lain.

Direktur BPRS Al Salaam Cahyo Kartiko mengungkapkan seharusnya ada pengaturan pasar untuk pembiayaan ke sektor mikro. Dia menilai pasar mikro saat ini sudah ramai tanpa ada pengaturan yang jelas untuk segmentasi pasar. “Seharusnya untuk pembiayaan mikro dipatok saja Rp 50 juta ke bawah dan tidak boleh dimasuki bank syariah yang sudah besar, “ ujar dia.

Dia mengakui akan sulit bagi BPRS untuk bersaing dengan BUS yang memiliki modal jauh lebih besar. Lantaran hal itu, perlu ada dorongan regulator untuk mengatur pasar. “Pengaturan pasar ini sangat menentukan, sekarang ini pasar mikro sudah crowded. Bank umum syariah itu masuk ke mikro dengan produk yang sama dan price sama, “ papar dia.

Sementara itu, Direktur Utama BPRS Harta Insan Karimah Bekasi, Okta Prawisma Yepri mengungkapkan pelayanan dan transaksi BPRS saat ini juga masih terbatas. Hal ini lantaran BPRS tidak bisa membuka kliring. “Pelayanan dan transaksi kami terbatas, sementara BUS sudah ekspansi ke pembiayaan mikro, “ ujar dia.

Meski demikian, dia mengaku tetap optimis BPRS ke depan masih bisa tumbuh. Hal itu didorong faktor kekuatan BPRS dalam pelayanan terhadap nasabah. “BPRS memiliki wilayah kerja terbatas. Kita memiliki pendekatan yang lebih baik dan BUS tidak akan sefleksibel BPRS dalam bermain di mikro, “ ujar dia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


*

Loading Facebook Comments ...