Pembiayaan Mikro Pertanian jadi Target BSM

mandiri syariah
Bank Syariah Mandiri (BSM) membidik pembiayaan mikro di sektor pertanian. Sekarang ini pembiayaan mikro BSM yang dilakukan melalui Warung Mikro baru merambah di sektor perdagangan dan industri kecil.

Direktur BSM, Hanawijaya, mengatakan, pihaknya telah melakukan riset selama satu tahun terakhir sebelum menentukan masuk ke sektor pertanian untuk pembiayaan mikro.

”Potensi mikro sangat besar dengan 97 persen usaha di Indonesia merupakan usaha mikro. Bank syariah belum banyak masuk ke sana karena itu BSM masuk. Dari hasil studi kami sektor pangan juga jangan dianggap remeh,” kata Hanawijaya usai media gathering di Wisma Mandiri, Rabu malam (25/8).

Hanawijaya menuturkan, biasanya perbankan masuk ke sektor perkebunan. Namun kali ini pihaknya pun sedang mencari pola bisnis yang tepat untuk merambah ke sektor pertanian. “Kami menargetkan untuk pilot project pertanian dapat dimulai September 2010 dengan memfokuskan di Sumatra dan Jawa, dan juga memulai spot-spot di Kalimantan,” ujar Hanawijaya. Selain itu, tambahnya, tak menutup kemungkinan pembiayaan mikro pertanian juga diperluas hingga Papua, di mana BSM memiliki dua outlet jaringan.

Hanawijaya memaparkan, untuk pembiayaan mikro pertanian BSM menyediakan pembiayaan antara Rp 15-35 juta. Untuk tahap awal pembiayaan mikro tersebut menggunakan akad murabahah. Namun, tambahnya, ada pula pembiayaan dengan menggunakan akad Salam untuk perkebunan tebu di Jawa Timur.

Sampai akhir tahun BSM menargetkan pembiayaan mikro pertanian sebesar Rp 50 miliar. Secara keseluruhan, ujar Hanawijaya, pihaknya menargetkan pembiayaan mikro dapat menyumbang tiga persen dari total pembiayaan, atau sekitar Rp 500 miliar hingga akhir 2010. Secara bertahap pembiayaan mikro diharapkan dapat berkontribusi sampai 10 persen dari total pembiayaan pada 2012 mendatang. Per 20 Agustus tercatat pembiayaan mikro BSM sebesar Rp 350 miliar.

Warung Mikro BSM terdiri dari tiga produk, yaitu Mikro Tunas, Madya, dan Utama. BSM memberikan pembiayaan mikro dengan plafon maksimal Rp 100 juta. Saat ini BSM memiliki 122 outlet warung mikro. Meskipun terdapat penambahan bidikan sektor pertanian,
Hanawijaya menuturkan, pihaknya belum memiliki rencana untuk menambah jumlah outlet mikro dan akan mengembangkan outlet eksisting. Per Juli 2010 aset BSM tercatat Rp 26,8 triliun, dana pihak ketiga Rp 23,6 triliun, pembiayaan Rp 20,3 triliun. BSM juga tercatat memiliki jaringan 425 outlet yang didukung 5.991 pegawai.

Sumber : republika

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Loading Facebook Comments ...