PELUANG, TANTANGAN, DAN IMPLEMENTASI WAKAF UANG DI ERA MILLENIALS

Adelia Tamara

Lembaga keuangan berbasis Islam mengelola beberapa instrumen mengenai keuangan Islam dengan tujuan untuk kesejahteraan masyarakat. Keuangan Islam bersifat wajib seperti membayar zakat dan bersifat anjuran seperti infaq, sadaqah dan wakaf. Di era modern ini sistem keuangan berbasis Islam telah dilaksanakan oleh masyarakat diberbagai penjuru dunia, namun, di Indonesia yang mayoritas penduduknya beragama Islam dalam pendistribusian zakat, sadaqah, dan wakaf belum terlaksana sesuai yang diharapkan. (Republika, 2003)

            Salah satu lembaga sosial ekonomi Islam yang menarik perhatian umat di Indonesia untuk dikembangkan adalah wakaf. Wakaf adalah salah satu lembaga sosial Islam yang sangat dianjurkan untuk digunakan oleh seseorang atau lembaga sebagai sarana penyaluran rezeki yang diberikan oleh Allah SWT kepadanya.Wakaf dikategorikan sebagai amal jariah yang pahalanya akan terus mengalir walaupun si pemberi wakaf telah meninggal dunia, karena harta wakaf terus dimanfaatkan untuk kepentingan dan kesejahteraan masyarakat banyak.

Pada dasarnya di Indonesia praktik wakaf telah lama dikenal dan berkembang. Namun sampai saat ini istilah wakaf hanya identik dengan wakaf atas tanah atau bangunan yang digunakan untuk masjid, lembaga pendidikan dan lahan perkebunan. Pemahaman ini harus diubah, belajar dari apa yang dilakukan dinasti Islam bahwa wakaf tidak hanya terjadi pada tanah tetapi segala sesuatu yang termasuk kategori harta menurut ulama baik bergerak maupun tidak, bisa dijadikan materi wakaf. Karena potensi wakaf sangatlah besar jika dikelola secara maksimal. Menurut data Departemen Agama RI terdapat 403.845 lokasi tanah wakaf dengan luas 1.566.672.046 M 2 . Suatu jumlah yang seharusnya dapat menjadi sumber daya pengembangan ekonomi Islam di Indonesia. potensi wakaf yang ada sebelum terkelola secara maksimal yaitu karena pemahaman atas wakaf pada umat Islam di Indonesia yang masih tradisional juga dikarenakan kurangnya dana yang mencukupi untuk mengelola tanah wakaf yang ada menjadi produktif.

Salah satu pengelolaan wakaf pada zaman milenial ini melalui wakaf uang. Wakaf uang memiliki ketentuan yang umum, dimana setiap orang bisa menyumbangkan hartanya tanpa batas-batas tertentu atau harus menunggu menjadi tuan tanah terlebih dahulu. Dengan adanya wakaf uang diharapkan praktik wakaf yang pada masa-masa dahulu terkesan sulit dan berat dapat dihindarkan. Dengan wakaf uang, bentuk wakaf bisa berwujud harta lancar yang penggunaanya sangat fleksibel, mobilisasi uang di masyarakat lebih mudah karena lingkup sasaran pemberi wakaf lebih luas dibanding wakaf biasa, masyarakat juga bisa memberikan kontribusinya dalam wakaf tanpa harus menunggu pengumpulan capital dalam jumlah yang besar.

Wakaf uang telah mendapatkan legitimasi untuk dilakukan berdasarkan Keputusan Dewan Fatwa MUI yang sekaligus dijadikan sebagai acuan guna menyempurnakan Peraturan Pemerintah No. 28 tahun 1977 yang pada akhirnya menjadi Undang-Undang Republik Indonesia No. 41 Tahun 2004 tentang wakaf dengan harapan agar menjadi Undang-undang wakaf yang lebih akomodatif dan ekstensif.

Berdasarkan survei yang dilakukan oleh Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia ( APJII), ada sebanyak 143,26 juta orang yang menggunakan internet di Indonesia, 80 persen dari angka tersebut merupakan jumlah pengguna internet yang dilakukan melalui smartphone. Fakta ini menjadi sebuah peluang yang diambil oleh berbagai pihak, tak terkecuali oleh lembaga keuangan syariah untuk megelola wakaf dalam menghadapi revolusi industri 4.0.

Di zaman modern ini dengan canggihnya teknologi membuat semua aktifitas manusia akan menjadi lebih mudah dan efisien. Salah satunya yaitu dalam pengelolaan wakaf dimana sudah terdapat sebuah aplikasi (e-wakaf) untuk memudahkan masyarakat dalam menyalurkan hartanya untuk diwakafkan, sehingga harta wakaf bisa menjadi modal finansial yang disimpan di bank atau di lembaga keuangan. (Direktorat Pemberdayaan Waakaf : 2006)

Ada banyak peluang yang bisa dimanfaatkan melalui wakaf uang. “Misal dalam industri makanan halal dunia, pada tahun 2016 jumlah konsumsi makanan halal adalah sebesar 1.245 miliar US dollar dan Indonesia memiliki tingkat konsumsi makanan halal tertinggi di dunia juga menjadi salah satu destinasi wisata halal dunia. selain itu dengan pengelolaan wakaf uang melalui e-wakaf, dana yang terkumpul dapat digulirkan dan di investasikan ke dalam berbagai sektor yang halal dan produktif. Seperti pengelolaan wakaf uang dalam pengembangan produk perbankan syariah atau membangun suatu kawasan perdagangan yang sarana dan prasarananya dibangun di atas lahan wakaf dan dari dana wakaf yang mana usaha ini ditunjukan bagi kaum miskin yang memiliki bakat bisnis untuk terlibat dalam perdagangan pada kawasan yang strategis dengan biaya sewa tempat yang lebih murah sehingga akan mendrong penguatan pengusaha muslim sekaligus menggerakan sektor rill secara massif dan keuntungannya dapat dimanfaatkan untuk pemberdayaaan umat dan bangsa secara keseluruhan. (M. Cholic Nafis : 20)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Loading Facebook Comments ...