Pelarangan Terhadap Bunga

Pada sistem umum orientasi pemahaman ethico-economy Islami, makna etis ekonomis pelarangan bunga dipadukan bersama. Kemudian marilah kita pahami mengapa pelarangan bunga menjadi suatu keharusan dalam kerangka analisis ini.
Kehadiran bunga dalam kegiatan ekonomi dan keuangan menunjukkan pertentangan antara dua sektor utama perekonomian. yakni sektor moneter dan sektor produktif (riil). Uang dianggap sebagai komoditas di sektor moneter. Harganya dibentuk untuk mengkapitalisasi risiko yang sesungguhnya dapat dihindari dengan berbagai macam alternatif. Risiko diasumsikan untuk mengadakan ex-ante karena pemegang uang dapat secara subjektif menetapkan risiko dan kemudian memasukkan hal tersebut dalam harga uang, yang berupa bunga. Oleh karena itu dengan mengasumsikan ex-ante risiko dapat  menghasilkan pendapatan dari uang pinjaman. Meskipun begitu sebagai gantinya risiko dapat dihindari atau dikurangi dengan mobilisasi sumberdaya, dari pada menahannya di bank atau di gerai spekulatif. Uang tersebut tidak disimpan tetapi dimobilisasi dalam sektor riil untuk memperoleh keuntungan ekonomi yang nyata. Sektor riil kemudian membayar kembali dana pinjaman tersebut.
Begitu pula dalam makroekonomi, kebijakan untuk menstabilkan inflasi, memperlambat kelebihan permintaan sumber investasi, dan menarik tabungan dunia ke dalam ekonomi nasional, mencerminkan pendekatan pemerintah untuk membuat sektor moneter bertindak secara independen dari sektor riil. Dalam kasus ini, tingkat bunga digunakan sebagai dasar instrumen moneter. Akibatnya, potensi untuk mengurangi ketidakstabilan makroekonomi dan ketidak seimbangan dengan membangkitkan sektor riil dalam hubungannya dengan aliran modal, diabaikan. Hasil akhirya adalah sektor moneter lebih menguntungkan dari sektor riil melalui keuntungan yang diperoleh dari dana pinjaman. Kedua sektor tersebut justru sekali lagi dihubungkan melalui kompetisi.  
 
Mengetahui bahwa orang kaya mendapatkan keuntungan dari pasar uang dalam bentuk pendapatan bunga dan masyarakat miskin hanya mendapatkan keuntungan dari aktivitas sektor riil, dimana keduanya secara terpisah mempunyai dampak negative bagi orang miskin. Etika akuisisi kekayaan dan ketertiban sosial oleh karena itu menjadi tidak adil. Memang, dalam beberapa tahun ini terjadi demam bunga berbunga spekulatif, di pasar keuangan global yang telah meninggalkan ekonomi nasional dalam keadaan kacau dan masyarakat miskinlah yang pertama terkena dampaknya.
 
Dari segi sifat intertemporal akumulasi tabungan dapat dilihat sebagai penarikan belanja dari potensi usaha produktif, hal ini menyebabkan orang-orang yang memegang uang dapat mengambil keuntungan dari penghasilan bunga atas simpanan. Tabungan sehingga menjadi insentif yang terkait dengan suku bunga. Pemisahan tabungan sebagai salah satu kegiatan ekonomi dari kegiatan belanja menyebabkan persaingan antara pasar uang dan pasar produksi. Tabungan menarik keluar sumber daya ke sektor moneter. Dengan demikian sumber daya yang ada, akan meninggalkan sektor riil ketika suku bunga berlaku sebagai insentif untuk tabungan terhadap pengeluaran. Tabungan sehingga sekali lagi menyebabkan ekonomi harus menghubungkan kedua sektor tersebut bersaing dalam lintas aktifitas dan sektoral. Sehingga netralitas kebijakan moneter terhadap pendapatan full-employment adalah hasil dari sebuah ekonomi sektor riil yang tidak lagi menguntungkan. Hal tersebut membuat sektor moneter tidak memberi keuntungan terhadap produktivitas.
Pandangan ekonomi Islam adalah dengan membuat pengeluaran sebagai dasar mobilisasi sumberdaya. Dengan demikian ketika rumah tangga menyimpan uangnya di bank-bank Islam, maka dana tersebut dimobilisasi oleh bank dalam rangka untuk memperoleh keuntungan dari investasi produktif  yang dibolehkan. Keuntungan dari sumber daya tersebut adalah keuntungan dari sektor riil. Tidak ada keuntungan uang dalam uang. Uang hanyalah sebuah eks-pos media untuk melayani kebutuhan sektor riil bagi kegiatan produktif yang diperbolehkan. Risiko dibagi antara agen dan sektor (ekonomi) dalam magnitudo reate of return yang didapat dari sektor riil. Konsep tabungan sebagai penarikan pengeluaran digantikan oleh gagasan mobilisasi sumber daya produktif pada investasi produktif yang dibolehkan melalui bank-bank Islam. Bank harus memutar modal uang secara cepat dengan menjadikannya modal nyata melalui kegiatan kewirausahaan (Choudhury 1997) .
 
Bertentangan dengan mekanisme mobilisasi sumberdaya, bunga pembiayaan menentukan secara subjektif peningkatan estimasi resiko uncapitalized pada penabung atau peminjam dengan harapan mereka dapat mengamankan jaminan kembalian (keuntungan) tabungan. Harga inilah, yang merupakan bunga, sebagai tingkat subtitusi marjinal keuntungan nyata. Diskon intertemporal kemudian berakibat pada metode kapitalisasi evaluasi resiko usaha dalam sistem bunga (interest). Tingkat diskon digunakan dengan tidak obyektif ataupun tidak bebas risiko. Keberadaan risiko uncapitalized dan harganya dengan tingkat bunga dari waktu ke waktu menunjukkan penyempitan aliran sumber daya ke sektor riil secara permanen. Hal tersebut membunuh jiwa kewirausahaan. Ekonomi tidak dapat bertahan  sepanjang  laju pembangunan dalam ketidakpastian kondisi harga sosial yang mahal.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


*

Loading Facebook Comments ...