Nonmuslim Lebih Antusias Beli Produk Syariah

Produk SyariahIndonesia kini tengah berada pada fase booming produk-produk keuangan syariah. Dengan jumlah penduduk Muslim terbesar di dunia dan perekonomian terbesar di Asia Tenggara, potensi pengembangan keuangan syariah di Indonesia masih sangat terbuka lebar.

Menilik makalah Michael Skully yang ditulis seorang profesor perbankan dan keuangan dari Monash University, Australia, posisi Indonesia dalam market share keuangan syariah dunia masih berada pada peringkat ke-16. Dalam makalah berjudul ‘Opportunities for Growth in the Global Islamic Financial Sector’ tersebut, Skully menyebutkan, market share pasar keuangan syariah Indonesia jauh berada di bawah negara-negara populasi Muslim lain seperti Iran, Arab Saudi, Malaysia, Pakistan, dan Bangladesh.

Dengan market share sebesar 1,39 persen, posisi Indonesia bahkan masih berada di bawah Inggris yang notabene merupakan negara minoritas Muslim. Kendati tak menyebutkan secara spesifik, Skully menyiratkan jika keberhasilan perekonomian syariah di sebuah negara sangat ditopang antusiasme penduduk Muslim yang mempercayakan transaksi keuangan mereka di lembaga-lembaga keuangan syariah.

Dengan prinsip universalitas keuangan syariah, tulis Skully, lembaga-lembaga keuangan syariah terbukti mampu mengakomodasi kepentingan dan kebutuhan transaksi keuangan masyarakat global lintas etnik dan agama. “Tapi tetap dengan kontibusi masyarakat Muslim yang sangat antusias,” tulisnya.

Atas salah satu poin kesimpulannya tersebut, Skully sejatinya ingin mengatakan jika kesuksesan praktik keuangan syariah sebuah negara hanya bisa terjadi manakala kaum Muslim menjadi subyek terdepan dalam pertumbuhan lembaga-lembaga keuangan syariah. “Harus berjalan seiring,” tegas Skully.

Sayangnya, indikasi tingginya animo masyarakat Muslim terhadap lembaga keuangan/produk keuangan syariah di Indonesiam, belum sepenuhnya terjadi. Bahkan pada beberapa segmen produk syariah, tingkat animo masyarakat nonmuslim (nonsyariah) justru menunjukkan tren yang lebih antusias.

Kepala Bagian Pengembangan Kebijakan Pasar Modal Syariah pada Biro Standar Akuntansi dan Keterbukaan Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan, Muhammad Touriq, mengungkapkan, investor nonsyariah justru mendominasi produk pasar modal syariah berupa sukuk pada pasar perdana. “Statistiknya 63 persen investor nonsyariah dan 37 persen investor syariah,” paparnya.

Dari 63 persen investor sukuk nonsyariah tersebut, lanjut Touriq, 47 persen di antaranya adalah perusahaan asuransi umum, diikuti dana pensiun umum (19 persen), bank umum (14 persen), perusahaan sekuritas (enam persen), dan lain-lain. Sementara profil investor syariah masih dikuasai bank umum syariah (75 prsen) yang diikuti asuransi syariah (13 persen) dan reksadana syariah (12 persen).

“Kalau ditanya kenapa investor nonsyariah yang lebih berminat beli sukuk, saya tidak bisa menjawab. Kami hanya memaparkan angka statistiknya saja,” ucap Touriq.

Sumber : Republika

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


*

Loading Facebook Comments ...