Model Pengukuran Income

Ada banyak model pengukuran income yang disebutkan dalam literature-literatur termasuk model akuntansi biaya historis tradisional oleh Ijiri (1971), model penilaian sekarang mengguanakan replacement cost dalam income bisnis Edwards dan Bell (1961), income realisasi menggunakan exit price (nilai realisasi bersih) oleh Chamber (1966) dan Sterling (1970), lebih dekat kepada konsep income ekonomi variable income oleh Solomons (1961), konsep residual Solomon (1965) dan Interested Adjusted Income oleh Shwayder (1970) bagi pelaporan internal dan Earned Economic Income (Grinyer 1985). Untuk menjaga agar diskusi singkat dan terkait dengan pelarangan riba dalam Islam serta konsekuensi agama terhadap model berbasis bunga, Earned Economic Income (yang saya percaya dapat diadopsi sesuai paraturan dalam Islam terkait suku bunga dalam model), income residual dan Interest Adjusted Income tidak akan didiskusikan disini.

Biaya Historis-Ijiri
Ini adalah dasar bagi akuntansi income tradisional, income berbeda antara revenue realisasi dan biaya historis i.e pengorbanan dalam arti uang dinilai pada saat akuisisi asset atau jasa pada saat realisasi revenue. Depresiasi adalah ukuran penggunaan asset jangka panjang yang didasarkan pada biaya historis akuisisi asset dan sejalan dengan pengeluaran lain diperbandingkan dengan revenue untuk menghitung income.
Pembela paling gigih konsep ini adalah Yuji Ijiri. Ia mengemukakan bahwa akun biaya historis telah teruji dan telah dipraktekkan berabad-abad, hanya Ijiri mulai pembelaannya dengan mengutip kutipan berikut:
It is truly remarkable that historical cost accounting has been the principal methodology of accounting over several centuries
Dalam pandangannya, akuntansi memiliki dua tujuan yang secara fundamental berbeda i.e. Equity Accounting: untuk melindungi pihak yang berkepentingan terhadap perusahaan (sekarang dikenal dengan stakeholders) dan Operational Accounting: untuk menyediakan informasi bagi pengembilan keputusan. Dimana informasi akuntansi operasional harus relevan dan tepat waktu namun hal ini membutuhkan biaya verifikasi dan objektifitas yang sanagat esensial bagi akuntansi modal (equity accounting) dan historical cost sediakan. Ia mengklaim bahwa penilaian biaya historis hanya satu-satunya metode penilaian yang memasukkan, bagian integral struktur prosedur penilaian dalam sistem double-entery system, persyaratan penting akuntansi modal adalah bahwa setiap perubahan aktual yang berasal dari sumber entitias harus dicatat dengan menghubungkan input dan output yang berhubungan yang bisa dilacak dan diidentifikasi tiap kali dibutuhkan. Kiranya keterlacakan ini menuju pada persyaratan verfibelitas dan objektifitas.
Ia lebih jauh menyatakan bagi kesesuaian fungsi ekonomi, sistem akuntansi tidak hanya memberi kepastian kepada investor bahwa seluruh sumber yang diinvestasikan dapat dikontrol secara baik (fungsi penjaggan) namun juga tiap bagian investor juga dilindungi dari investor lain dan para stakeholder. Ini merupakan tujuan equity accounting dan daerah dimana akuntansi tradisional dikembangkan.
Kita dapat menghubungkan akuntansi modal pada argument awal penggunaan income sebagai penyelesai konflik kepentingan dalam distribusi income. Ijiri berpendapat bahwa current cost income bisa lebih diperbantahkan dan oleh karena itu tidak sesuai bagi dasar distribusi income daripada historical cost income.
Macneal (1962), dilain pihak secara tajam mengkritisi akuntansi historical cost serta inkonsistensi prinsip-prinsipnya. Ia mengutip kasus penipuan besar-besaran McKesson dan Robbin pada tahun 1938, pada saat akuntansi konvensional digunakan untuk membimbing investor dan kerditur kearah yang salah dengan menyerahkan uang mereka, hal tersebut berangkat dari fakta bahwa akuntan yang berorientasi pada transaksi lebih tertarik pada pemeriksaan dokumen biaya historis dari pada realitas fisik yang terjadi serta penilaian entitas. “teori going concern” bersama dengan desakan akuntan memaksa realisasi sebelum pengakuan profit, yang membawa kearah yang salah, kekeliruan dalam mengintrepretasikan earning dan penipuan berikutnya terhadap investor. Hal ini susah untuk menjustifikasi akuntansi biaya historis berpura-pura melindungi investor dan memecahkan konflik kepentingan sebagaiaman klaim Ijiri.
Meskipun begitu Ijiri, berpendapat bahwa current cost accounting berdasar pada transaksi semu dan ada banyak transaksi yang mungkin semu dengan tujuan untuk mengganti atau membuang sumber daya yang ada (e.g domestic vs. pasar luar negeri, diskon kuantitas dll), hal ini tidaklah cukup bahwa transaksi semu menjadi masuk akal terkait dengan banyaknya transaksi semu yang masuk akal. “dengan tujuan menghindari perselisihan terhadap persoalan income, harus ada bagaimana menentukan transaksi unik yang di kontemplasikan dengan sumber daya yang ada” (p 6), sejak, biaya historis menghindari masalah ini dan mendasari pada transaksi aktual yang dipilih oleh entitas, maka hal inilah yang terbaik untuk menghindari perselisihan yang terjadi. Ia lebih jauh berpendapat bahwa current costs non-additiv i.e. fakta current cost dari dua sumber dapat lebih (kurang) berharga dibanding dengan penjumlahan current cost individual. Ia lebih jauh menandai sangat sulit untuk menspesifikasi dan memverivikasi transaksi semu jika penilaian current cost digunakan terkait dengan fakta akan sangat mudah bagi perusahaan untuk menukar penawaran. Biaya historis dengan bersandar pada transaksi aktual yang bisa diverivikasi itu lebih baik dalam menghindari perselisihan atau konflik kepentingan karena “kontemplasinya sendiri bukalah imbalan atau hukuman terkait dengan isinya karena terlalu lemah atau hubungan legal antara pihak yang berkepentingan”.
Lebih jauh, akuntansi current cost yang merupakan biaya pendirikan dan operasional dapat sangat besar, selama assement biaya tahunan, kalkulasi serta audit dan biaya pemecahan perselisihan (jika auditor ditantang untuk tidak jujur dan menipu). Akuntansi biaya historis, disisi lain dipersiapkan sebagai by-product akuntansi modal dan biaya tambahan publikasi biaya historis pernyataan keuangan lebih sepele dibandingan dengan kesiapan dengan menggunakan current cost.
Meski, Ijiri mengakui kebutuhan untuk menambah tipe informasi, ia percaya informasi yang disedikan oleh biaya historis masih tetap berguna bagi manajemen dan investor. Proses dinamisasi manajemen “membutuhkan studi masa lalu yang hati-hati untuk tujuan prediksi masadepan. Untuk mengganti data current cost bagi data historis itu seperti menyapu bersih seluruh pengalamannya” (p10). Informasi biaya historis berguna ketika untuk menganalisa trend, siklus, dan perbandingan perusahaan dan ketika dibandingkan dengan data current cost. Investor menggunakan data informasi biaya historis dapat juga untuk memperoleh kepastian bahwa mereka tidak di beri informasi palsu tentang keadaan perusaahaan oleh manajemen dengan tujuan menarik dana atau menaikkan harga sahamnya, sebagai biaya historis lebih sedikit kemungkinan untuk terjadinya manipulasi dibanding dengan current cost yang kesemunya tunduk pada peraturan yang ketat dan regulasi pelaporan keuangan dari pada data current cost yang digunakan dalam akuntansi operasional.
Ijiri menyarankan daripada mencari alternative penilaian, akuntan harus mengeksplorasi jalan lain dalam rangka menyediakan informasi yang berguna untuk mengatasi penggantian sistem biaya historis dengan:
a) Penetapan sistem perekaman dan pencatatan berdasar pada komitmen kontrol kontrak yang lebih baik dan komitmen keuangan lainnya serta menyediakan informasi mengenai kontrak yang luar bisaa dll.
b) Keinginan untuk melaporkan lebih sering dari waktu ke waktu serta pengungkapan segera fakta-fakta kepada publik e.g merger dan akuisisi, rencana konstruksi, pengenalan proyek baru dll, meski hal ini bertentangan dengan kebutuhan untuk melindungi diri dari pesaing.
c) Penilaian biaya historis menyediakan data yang (kiranya) lebih mengurangi perselisihan dari pada menyediakannya berdasar metode valuasi lain, dan hal ini merupakan prasyarat esensial akuntansi modal. Akuntansi income telah teruji oleh waktu ‘objektif dan verifiable. Namun akuntansi ini kurang relevan untuk diterapkan dalam pengambilan keputusan bisnis sebagai nilai masalalu adalah tidak relevan kecuali dapat diprediksiikannya arus kas masa depan. Akuntansi income juga dikritik karena tidak memasukkan perubahan pada nilai (i.e goodwill) perubahan Alexander (1977). Ia menyimpulkan bahwa “tidak ada prinsip yang valid yang telah di kembangkan untuk menjamin keterasingan nilai berjalan dan dterminasi income” kecuali alasan yang memungkinkan inklusi tersebut dapat mencegah perbandingan antar periode waktu. Akuntansi income juga telah dikritik karena desakannya terhadap prinsip realisasi yang mengabaikan nilai perubahan jika tidak direalisasikan .

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Loading Facebook Comments ...