Mendekatkan PTAI Terhadap Wacana Ekonomi dan Entrepreneurship

PTAIPerbincangan tentang persoalan ekonomi dan entrepreneurship di kalangan PTAI sebenarnya termasuk hal baru. Biasanya PTAI di mana-mana, berbicara mengenai pemikiran Islam, hukum Islam, pendidikan Islam, dakwah, dan Bahasa Arab, dengan berbagai cabangnya. Perbincangan tentang semua itu dipandang sebagai wilayah kajiannya, yaitu kajian Islam.

Demikian pula, kajian Islam tidak banyak menggapai hal yang terkait dengan ekonomi, kecuali pada beberapa tahun terakhir ini setelah perguruan tinggi umum, mengambil prakarsa membuka jurusan atau program studi ekonomi Islam dan atau cabang-cabang lainnya yang dikaitkan dengan syariah. Baru kemudian PTAI ikut-ikut membuka program studi tersebut sekalipun sebenarnya sudah agak terlambat.

Memang rasanya agak aneh, namun hal demikian itu yang dianggap benar, bahwa orientasi studi Islam di mana-mana diarahkan untuk memperluas wawasan tentang Islam sebagai bekal mendapatkan derajad taqwa. Jenis ketaqwaan seperti apa yang dimaksudkan, seringkali juga tidak jelas. Yang pen ting dari program yang diselenggarakan diberikan kegiatan mengkaji al-Qur’an, hadits nabi, pemikiran Islam dan sejenisnya dengan diberi ukuran atau bobot tertentu sehingga pada saatnya dipandang pantas diberi gelar master agama atau bahkan Doctor.

Evaluasi tentang apakah bekal itu memadai bagi seseorang dengan ijazah dan gelar yang disandang juga tidak pernah dipikirkan. Yang penting mereka kuliah, mengikuti program, menyelesaikan tugas-tugas dan akhirnya lulus dan diwisuda. Itulah ritual penyelenggaraan program studi Islam selama ini. Olerh karena itu ketika saya diberitahu, agar ikut mengisi kegiatan dalam pertemuan pimpinan pascasarjana di IAIN Medan semula agak terkejut, sekaligus gembira.

Perasaan gembira dan terkejut itu muncul karena ternyata sudah mulai ada pemikiran yang benar-benar baru di kalangan PTAI. Ternyata dari PTAI telah muncul fenomena baru, dan hal itu sangat tepat karena lahir atau diprakarsai oleh pascasarjana. Selain itu, dengan berpikir ekonomi dan entrepreneurship maka artinya dari PTAI sudah mau keluar dari sarang tradisinya selama ini dan selanjutnya berani menunjukkan bahwa apa yang dilakukan selama ini, disadari masih ada sesuatu yang perlu dipikir ulang dan perlu diperbaharui.

Dalam surat resmi yang dikirim oleh panitia, saya diminta berbicara tentang sumbangan PTAI dalam mengembangkan ekonomi Islam. Namun saya mendapatkan informasi lebih lanjut dari Prof.Dr. Muhaimin dan Dr. Syamsul Hadi yang keduanya adalah pengelola pascasarjana UIN Maliki Malang, agar topik pembicaraan itu diubah menjadi pengembangan entrepreneurship di kalangan PTAI. Sebelum mendapatkan informasi itu sebenarnya saya sempat lama merenung, dan akan mengatakan bahwa PTAI selama ini belum memberikan sumbangan apa-apa pada pemikiran pengembangan ekonomi.

Kalau selama ini PTAI telah merasa berbicara tentang ekonomi Islam, maka sebenarnya pembicaraan itu baru sebatas dari perspektif fiqh dan bukan dari pencaharian konsep atau teori terkait dengan disiplin itu. Bahkan saya juga pernah mendengar, bahwa jurusan atau program studi ekonomi Islam atau cabang lain serupa itu yang dikembangkan oleh sementara PTAI masih belum menyentuh sisi-sisi yang diperlukan bagi pengembangan konsep ekonomi. Lagi-lagi pembicaraannya baru pada wilayah yang abstrak, berisi hal-hal yang bersifat normatif, yang bersumber dari al-Qur’an maupun hadits nabi.

Oleh karena itu, maka kalau dalam pertemuan ini akan berbicara secara serius terkait dengan ekonomi dan entrepreneurship, maka PTAI, menurut hemat saya, adalah menjadi institusi yang luar biasa. Artinya para pengelola pascasarjana sudah mulai sadar terhadap persoalan masyarakat yang sebenarnya harus dijawab melalui konsep-konsep Islam, dan tidak lagi sebagaimana sebelumnya.

Antara Agama dan Islam
Seringkali disadari atau tidak, orang-orang di kalangan PTAI terjebak oleh pengertian, antara agama dan Islam. Berbicara agama, sebagaimana agama-agama lainnya maka yang muncul adalah konsep tentang ritual, hukum-hukum syari’ah, transmisi ajaran agama, dan sejenisnya. Berbicara agama biasanya hanya menyangkut tentang tempat ibadah, perkawinan, kematian dan lainnya di seputar itu. Agama berkonotasi sempit, sehingga sebutan institusi yang terkait dengannya menjadi sangat sempit pula. Kementarian agama, misalnya sudah dianggap cukup sukses tatkala berhasil mengurus ibada haji, pendidikan, dan melakukan bimbingan masyartakat Islam sekalipun sifatnya terbatas.

Hal itu lain umpama yang dibicarakan adalah tentang Islam. Pembicaraan tentang Islam selalu mengacu pada al-Qur’an dan hadits nabi. Kedua sumber ajaran Islam itu tidak hanya berbicara tentang tatacara ritual, melainkan berbicara tentang ilmu pengetahuan, berbagai konsep tentang bagaimana menjadikan manusia berkualitas unggul, berbicara tentang keadilan, amal saleh atau bekerja secara benar dan tepat atau dalam bahasa kekiniannya disebut professional. Memang Islam juga berbicara tentang kegiatan ritual, tetapi kegiatan itu bukan segala-galanya.

Al-Qur’an dan hadits nabi tidak saja berbicara tentang tauhid, fiqh, akhlak tasawwuf, tarekh dan bahasa Arab, tetapi kitab suci dan tradisi kehidupan nabi juga berbicara tentang tuhan, penciptaan, kehidupan manusia, berbicara tentang alam dan juga keselamatan dan kesejahteraan, baik di dunia maupun di akherat. Ajaran Islam sedemikian luas, meliputi berbagai lapangan kehidupan yang tidak terbatas. Sehingga sangat kurang tepat, jika Islam kemudian disama sebangun kan dengan pengertian agama sebagaimana digambarkan itu.

Kajian Islam adalah berbeda dengan kajian agama. Sehingga kemudian, mana di antara keduanya yang akan dipilih. Jika yang menjadi pilihan adalah kajian agama, atau secara kelembagaan adalah perguruan tinggi agama Islam ——-STAIN dan IAIN, maka sudah benar tidak perlu berbicara ekonomi, sosial politik dan bahkan sains. Selain itu juga tidak terlalu salah jika tidak ikut bertanggung jawab terhadap persoalan ekonomi, politik dan kemunduran ummat yang sedang terjadi pada saat ini. Apalagi harus berbicara entrepeneurship segala.

Namun jika yang dimaksudkan itu adalah Islam,——dan bukan sebatas agama, maka PTAI harus terlibat dalam perb incangan yang luas sebagaimana yang dipahami dari sumber ajaran Islam yaitu al-Qur’an dan hadits nabi. Perguruan tinggi Islam harus berbicara semua hal terkait dengan lingkup ajaran Islam itu. Pembicaraan akan menyangkut tentang ilmu pengetahuan dan teknologi, membangun manusia secara utuh, keadilan dan akhlak dan profesionalisme atau amal saleh tanpa menganggap remeh kegiatan ritual.

Bahkan kalau berani, juga seharusnya memperjuangkan agar ada rekonstruksi kembali terhadap bangunan ilmu dan kelembagaan perguruan tinggi Islam. Perlu ada keberanian berpikir secara sungguh-sungguh, dan bahkan radikal bangunan keilmuan dan bahkan kelembagaannya. Perlu dipertanyakan kembali, apakah dengan keilmuan yang dipelihara dan dikembangkan selama ini sudah relevan dengan misi Islam yang sebenarnya. Jika selama ini, Islam hanya dipahami sebatas ajaran tentang tauhid, fiqh, akhlak, tasawwuf, tarekh dan bahasa Arab, maka gambaran itu belum memadai.

Demikian pula terkait dengan produk-produk yang dihasilkan, PTAI hanya dianggap berkom peten mengisi jabatan-jabatan tertentu, semacam guru agama, pegawai kantor kementerian agama, peradilan agama dan sejenisnya, maka sebenarnya hal itu belum sesuai dengan misi Islam yang sesungguhnya. Maka itulah sebabnya perlu dilakukan pemikiran dan atau perenungan secara terus-menerus dan keberanian untuk menyuarakannya secara bersama-sama.

Peran Strategis PTAI dalam Pengembangan Ekonomi
Jika kebanyakan PTAI tetap bertahan sebagaimana keadaannya sekarang, maka keberadaannya tidak terlalu relevan dengan problem-problem ekonomi masyarakat seperti sekarang ini. Pada saat sekarang ini telah lahir budaya kapitalisme dan liberalisme ekonomi yang dahsyat hingga melahirkan ketidak adilan di mana-mana. Para pemilik modal menguasai sektor-sektor ekonomi hingga menjadikan mereka yang tidak bermodal tidak bisa berbuat apa-apa, kecuali menjadi buruh dengan bayaran yang belum tentu mencukupi.

Budaya kapitalis dan liberalisme ini tidak saja menjadikan orang kecil semakin kehilangan akses ekonomi, melainkan juga berpengaruh pada seluruh aspek kehidupan termasuk politik, hukum, sosial, pendidikan dan bahkan juga agama. Terjadinya jual beli kekuasaan , money politik, mafia hukum, mafia pajak dan sebagainya, sebenarnya adalah ekses dari budaya kapitalisme dan liberalisme itu.

Secara sederhana dan sangat mudah bisa kita lihat sehari-hari, bahwa hadirnya pasar-pasar modern seperti Carrefour, alfamart, indomart dan semacamnya yang meruntuhkan pedagang tradisional adalah bagian dari lahirnya budaya kapitalisme dan liberalisme itu. Selain itu, masuknya banyak bupati, walikota, gubernur, mantan menteri, pimpinan Bank, BUMN ke penjara pada akhir-akhir ini jika dicari akar masalahnya, di antaranya adalah sebagai akibat kapitalisme dan liberalisme. Itulah kehidupan yang pada saat ini kita alami bersama. Persoalannya, apakah sumbangan PTAI tatkala sehari-hari mengkaji pemikiran Islam, hukum Islam, pendidikan Islam dan sejenisnya, relevan dengan persoalan nyata di tengah-tengah masyarakat sebagaimana digambarkan itu.

Persoalan tersebut jika ditelusuri lebih jauh ke belakang, sebenarnya yang terjadi adalah adanya ketidak-merataan dalam penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi. Ada sementara orang yang telah mengembangkan ilmu pengetahuan sedemikian maju, hingga berhasil mengetahui berbagai potensi sumber daya alam dan selanjutnya berusaha memanfaatkannya. Sementara lainnya tidak ada daya dan kemauan untuk mengikuti jejak itu, melainkan pasrah seolah-olah tidak akan memerlukannya.

Kita lihat saja negara-negara maju yang menguasai berbagai akses kehidupan ini adalah mereka yang berhasil mengembangkan ilmu dan teknologi. Sebaliknya, mereka yang tertinggal adalah yang miskin ilmu pengetahuan. Bangsa Indonesia sekalipun sehari-hari mengatakan kaya sumber-sumber alam, bahkan semua jenis tambang tersedia, maka masih tetap miskin oleh karena tidak mampu mengolah kekayaan yang melimpah itu. Bahkan selama ini jika potensi itu diekploitasi, maka yang mengambil untung lebih besar bukan rakyat Indonesia, melainkan pihak asing, karena merekalah yang memiliki teknologi dan modal.

Saya yakin bahwa selama ini produk-produk PTAI tidak banyak tahu, manakala Tuhan telah menganugerahkan secara melimpah berbagai potensi kepada bangsa Indonesia. Semestinya, karunia itu dimanfaatkan dengan piranti ilmu pengetahuan dan teknologi. Akan tetapi, oleh karena mereka gagal membekali diri dengan ilmu pengetahuan dan teknologi, maka berkah itu tidak tidak bisa dinikmati dan akhirnya dimanfaatkan orang lain, sekalipun bertempat tinggal jauh dari sumber-sumber alam itu tetapi memiliki pirantinya.

Padahal sebenarnya, ajaran yang dikaji sehari-hari oleh PTAI, ——-al-Qur’an dan hadits nabi, menganjurkan agar mengembangkan ilmu pengetahuan seluas-luasnya, kapan saja dan dari mana saja. Ummat Islam juga dianjurkan untuk bertebaran di muka bumi untuk mencari berkah dari Allah. Lebih jelas dari itu, ummat Islam dianjurkan untuk menggunakan akalnya, mempertajam pandangan mata dan telinganya, menggunakan hati lembutnya dan agar selalu berjuang dengan sebenarnya perjuangan untuk kemanusiaan yang lebih luas.

Namun sebagai akibat keterbatasan wilayah keilmuan yang dibangun dan dikembangkan selama ini, maka PTAI belum berhasil memberikan sesuatu yang banyak tentang ekonomi. Dalam hal pengembangan ekonomi, bahkan PTAI justru ikut menjadi sumber masalah. Kita dengarkan di mana-mana lulusan PTAI banyak menganggur dan kurang berhasil mendapatkan akses yang luas dalam pentas kehidupan ini.

Membangun Ekonomi Ummat Diperlukan Kebangkitan PTAI
Belajar dari sejarah selama ini, PTAI perlu melakukan reorientasi secara menyeluruh dan mendasar, baik yang terkait dengan aspek ideal, bangunan keilmuan yang dikembangkan, maupun kelembagaannya. Dengan membatasi diri dan menganggap Islam hanya sebatas agama, maka menjadikan PTAI kurang memberikan peran yang luas dan mampu menjawab tantangan riil dalam kehidupan ini.

Jika nabi Muhammad tatkala membangun ummat diperlukan israk dan mikraj, maka para ilmuan yang tergabung dalam PTAI juga perlu melakukan kegiatan semacam itu. Nabi sebelum membangun masyarakat di Madinah dibimbing oleh Allah untuk melakukan perjalanan jauh hingga tidak bisa dibayangkan oleh manusia pada umumnya, yaitu ke sidratul muntaha. Rasul ini ditunjukkan alam raya, tentang langit lapis tujuh, tentang kehidupan yang menakjubkan, yaitu termasuk kehidupan surga dan neraka. Melalui kisah mikraj itu, nabi juga dipertemukan dengan para rasul yang ternyata masih hidup, padahal mereka telah mati jauh sebelumnya.

Belajar dari kisah-kisah spiritual yang ditunjukkan oleh Nabi itu, mestinya berhasil membangkitkan PTAI untuk keluar dari pusaran pemikiran sebelumnya, yang ternyata belum berhasil menjawab persoalan-persoalan kehidupan yang lebih nyata, termnasuk dalam pengembangan ekonomi itu. Sebagai bagian dari konsolidari ideal itu, perlu melakukan kajian ulang terhadap apa saja yang selama ini dilakukan, apakah masih relevan PTAI menangkap ajaran yang dibawa oleh Muhammad dipahami hanya sebatas agama, dan bukankah seharusnya Islam ditangkap secara utuh.

Tatkala PTAI berani menangkap Islam secara utuh, maka kajian-kajiannya harus dikembalikan pada al-Qur’an dan hadits, hingga yang dikembangkan adalah ilmu pengetahuan secara luas, membangun kualitas manusia secara unggul, tatanan kehidupan berdasar keadilan, dan bekerja atas dasar ilmu dan pengalaman yang cukup hingga disebut professional atau amal shaleh, serta membekali diri dengan kegiatan ritual untuk membangun pribadi yang kokoh.

Sebenarnya di berbagai tempat sudah muncul isu tentang gerakan kembali kepada al-Qur’an dan hadits, tetapi lagi-lagi rupanya dalam tataran implementasi masih belum sampai sasaran yang sebenarnya dituju. Ide besar berupa kembali pada al-Qur’an dan hadits, ternyata selama itu yang diperbaiki hanya sebatas kegiatan ritual, dan belum menyentuh pada aspek yang mendasar, yaitu pada pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang sebenarnya justru diperlukan itu. Lagi-lagi jargon kembali kepada al-Qur’an dan hadits nabi hanya dimaknai sebagai upaya mengoreksi dan membenarkan cara-cara beritual, yang ternyata juga tidak bisa diterima oleh semua kalangan.

Manakala PTAI menjadikan dirinya sebagai kekuatan untuk kembali mengkaji al-Qur’an dan hadits nabi, dan kemudian mewujudkannya dalam gerakan ilmu dan teknologi secara luas, maka sebenarnya institusi ini telah sekaligus bermakna mendekatkan dirinya dengan pengembangan ekonomi dan juga entrepreneurship. Ke depan siapapun, tidak akan mungkin memenangkan kompetisi dalam bidang apa saja, termasuk ekonomi, tanpa melibatkan ilmu dan teknologi.

Sebagai contoh sederhana,dengan ditemukannya teknologi informasi dan komunikasi, maka mereka yang memiliki akses bidang tersebut itulah yang teruntungkan. Kita memiliki sumber alam yang melimpah, tanah yang luas, lautan, hutan, segala macam tambang, namun menjadi sama saja, tidak memiliki apa-apa, lantaran tidak mampu mengolahnya, oleh karena miskin ilmu dan teknologi. Tuhan telah memberikan rahmat yang sedemikian banyak, dan bahkan melimpah, tetapi kaum muslimin selama ini tidak bisa memanfaatkannya.

Contoh lainnya, pada saat ini, bangsa di seluruh dunia mengkhawatirkan akan kekurangan sumber-sumber energi. Dikatakan bahwa minyak bumi sudah semakin habis, maka mestinya para ilmuwan muslim atas dasar inspirasi dari al-Qur’an mampu menggali sumber-sumber energi lain, misalnya sinar matahari dan bahkan juga angin. Jika misalnya, dari PTAI ditemukan cara-cara mendapatkan alternatif energi baru, maka institusi ini akan menjadi kekuatan pengubah dunia dan bahkan akan menjadi rahmat bagi seluruh alam. Melalui pertemuan para pimpinan pascasarjana ini, semoga gerakan itu benar-benar muncul. Itulah makna PTAI sebenarnya menjadi bangkit.

Akhirnya jika pandangan itu ditindak-lanjuti dan dikembangkan, PTAI perlu segera mereformulasi bangunan keilmuannya, kelembagaannya dan bahkan juga mindset seluruh para pendukung dan stakeholdernya, sehingga kelak kehadirannya memang benar-benar diharapkan oleh masyarakat, berhasil menolong mereka dalam mengembangkan ekonomi, termasuk jiwa entrepreneurship. Tanpa itu semua dikhawatirkan PTAI akan ditinggal oleh orang lain, dan bahkan alih-alih memberi sumbangan pada kemajuan peradaban, malah justu akan dianggap sebagai beban gerak kemajuan peradaban. Tentu saja, kita tidak ingin menjadi seperti itu. Wallahu a’lam.

Penulis : Prof. Dr. H. Imam Suprayogo
ekonomi islam
Penulis adalah Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Maulana Malik Ibrahim Malang

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


*

Loading Facebook Comments ...