Majalah Sharing: Bagaimana Membuat Kaum Miskin Bankable?

perbankan syariahMajalah Sharing sebagai majalah inspirator bisnis dan ekonomi syariah bekerja sama dengan Bank Sinar Mas Syariah menggelar kajian bulanan perdana bertema: “Bagaimana Membuat Kaum Miskin ’Bankable’? Integrasi ZISWAF dan Modal Sosial dalam Pemberdayaan Berbasis Kelompok di Indonesia” pada Senin (17/1) di Plaza Sinarmas, Jakarta Pusat.

Jumlah penduduk miskin di Indonesia berjumlah 31,02 juta jiwa (13,33%). Jumlah ini sebetulnya potensial jika mampu dijangkau oleh bank syariah sebagai objek penyaluran pembiayaannya. Namun, yang menjadi masalah, kaum miskin tersebut belum tentu termasuk dalam daftar penerima pembiayaan UMKM yang selama ini digaungkan oleh bank syariah dengan persyaratan pembiayaan yang rumit serta plafon pinjamannya juga termasuk besar (puluhan juta rupiah). Selain itu, ketiadaan jaminan, tingginya biaya transaksi dan risiko bisnis juga menjadi pengganjal bagi kaum miskin untuk tersentuh oleh bank.

Dr. Yulizar Djamaluddin Sanrego (Peneliti LPPM STEI TAZKIA) yang juga pemenang Forum Riset Perbankan Syariah 2010 hadir sebagai pembicara dengan memaparkan bagaimana kajian lintas ilmu seperti psikologi ekonomi dan ekonomi Islam dapat bersinergi untuk mengatasi problem kaum miskin untuk bankable. Lagi-lagi, pola Grameen Bank yang sukses dikenalkan oleh M. Yunus dari Bangladesh menjadi acuan agar kaum miskin dapat terjangkau oleh perbankan. Kisah sukses Program Ikhtiar yang dilakukan oleh Koperasi Baytul Ikhtiar di Bogor merupakan bukti nyata bahwa pola Grameen Bank ala Indonesia dapat diterapkan.

“Program Ikhtiar juga terbukti dapat mempengaruhi pola perilaku menabung masyarakat,” kata Sanrego.

Pola group lending model yang diterapkan pada program tersebut selain dapat memperkuat modal sosial pada kelompok masyarakat miskin juga dapat mempermudah akses pelayanan keuangan dan perbankan kepada mereka.

Nana Mintarti (Direktur Utama Indonesia Magnificence of Zakat) juga tampil sebagai pembicara dengan menyoroti bagaimana zakat dapat memberdayakan masyarakat, terutama di daerah pedesaan. Nana memberikan contoh bagaimana program Masyarakat Mandiri yang dilakukan oleh lembaga zakat dapat dengan efektif membantu masyarakat miskin meningkatkan kesejahteraan. Pola pemberian kredit secara berkelompok juga diterapkan dalam program ini.

Salah satu kesimpulan yang mencuat dari diskusi tersebut adalah harus ada dua aspek yang dimiliki oleh bank syariah untuk dapat menjaring masyarakat miskin, yaitu social intermediary dan financial intermediary. Selain itu, bank syariah juga dapat memaksimalkan linkage program dengan lembaga keuangan syariah yang sifatnya mikro agar dapat lebih efektif menyalurkan pembiayaan kepada masyarakat miskin.

Sumber : IBnews Eramuslim

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Loading Facebook Comments ...