Korupsi Sudah Ada Zaman Nabi

ekonomi islamIKHWAN ABIDIN BASRI
Anggota DSN-MUI

Banyak yang membicarakan korupsi dengan istilah ruslah atau suap. Suap itu hanya terkait dengan masalah hukum, dengan masalah trik yang dilakukan untuk mendapat legitimasi walau dengan cara tidak benar dan untuk mendapatkan suatu harta.

Menurut Ikhwan Abidin Basri, Anggota DSN MUI, dalam acara dilaog interaktif yang di selenggarakan oleh PKES (18/8) di Bank Indonesia ,mengatakan, sebetulnya kalau dlihat perkembangan dunia saat ini, korupsi itu sangat luas tidak hanya terkait masalah hukum dan sebagainya tapi juga terkait dengan jabatan publik atau jabatan yang tidak publik juga. Jadi definisinya luas.

Lalu ada kesan, ketika sudah kembangkan ekonomi syariah tidak akan ada korupsi. “Saya kira hal itu tidak berdasar pada nature dari pada agama Islam. Korupsi itu sudah ada dari jaman nabi,” terangnya.

Pada jaman nabi sejatipun terjadi korupsi bahkan terjadi juga kejadian yang sifatnya kriminal. Jadi tidak dengan sendirinya ketika ekonomi Islam kita kembangkan lantas korupsi dapat hilang.

Korupsi kata Ikhwan Abidin, memang terjadi di setiap jaman, hanya intesitasnya yang berbeda-beda. Itu harus dipahami. Dalam Islam sendiri, hal ini terkait dengan proses hukum huddud yaitu hukum Islam yang sudah ditetapkan, seperti hukum rajam, potong tangan. Hukum ini harus diterapkan. Karena bila tidak, bagaimana pun indahnya ajaran islam, akan tetap terjadi pelanggaran-pelanggaran yang tidak bisa diselesaikan dengan himbauan.

Selain itu ada juga ta’jir, adalah hukuman-hukuman yang sifatnya lebih diwakilkan pada mahkamah atau rhodi dan itu bersifat mendidik. Huddud dan ta’jir ini merupakan penopang hukum Al-Qur’an, karena Al-Qu’an itu tidak bisa tegak dengan sendirinya.

Begitu pun dengan korupsi, sekalipun ekonomi islam diterapkan secara menyeluruh, itu tidak akan menyelesaikan masalah, karena akan masih ada hal-hal korup yang merupakan bagian dari diri manusia. Dengan demikian jangan pegiat ekonomi islam dengan sederhana menyatakan tidak akan ada korupsi.

Abidin juga mengungkapkan, Jika dilihat dari data transparansi nasional, tidak ada negara Islam yang mayoritas muslim ini kadar korupsinya itu minimal. Hanya Qatar yang memiliki indeks korupsi yang rendah. Jadi semua itu tidak mutlak menjamin sama sekali. Apalagi bila budaya islam itu tidak mengakar. Dan bila ini tidak disesuaikan, tidak akan ada kesadaran dari masyarakat untuk membenci pada korupsi.

“Kesimpulannya adalah apabila kita mensosialisasikan syariat Islam, entah itu dalam lapangan ekonomi ataupun hal yang lain, itu tidak menjamin bahwa tindak korupsi tidak ada. Oleh karena itu harus ada penegakan di aspek-aspek yang lain seperti huddud dan ta’jir,”katanya.

Sumber : PKES Interaktif

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


*

Loading Facebook Comments ...