Kontekstualisasi Ekonomi Islam

ekonomi islamSEORANG kawan menanggapi tulisan saya ”Membangun Budaya Berekonomi” di harian ini beberapa waktu lalu. Bagaimana kemungkinan berekonomi Islam untuk membangun peradaban ekonomi Islam? Budaya berekonomi Islam akan terwujud ketika ada komunitas memulai.

Yakni memulai meyakini kebenaran ekonomi Islam, mengembangkan (ilmu)-nya, melakukan kegiatannya dalam skala apapun, mendakwahkannya, serta sabar mengimplementasi sebagai bentuk komitmennya.
Menurut Anshari (1985), Surat Al ‘Ashr mengajarkan tentang komitmen muslim terhadap Islam, yakni meng-iman-i Islam, meng-ilmu-i Islam, meng-amal-kan Islam, men-dakwah-kan Islam, dan sabar dalam ber-Islam.

Budaya, kebudayaan, adalah semua aktivitas nyata manusia dalam berbagai bidang yang berlangsung dari satu generasi ke generasi. Aktivitas budaya, menurut Koentjaraningrat, dapat terbentuk tiga wujud. Pertama, wujud ideal, yakni kebudayaan sebagai ide atau gagasan, nilai, norma dan sebagainya. Kedua, wujud kelakuan (perilaku), yakni perilaku berpola pada masyarakat. Ketiga, wujud benda yakni kebudayaan yang terwujud dalam benda-benda budaya (1985).

Semua wujud kebudayaan pada dasarnya adalah respons manusia yang terus berlanjut baik bersifat teknis maupun konsep terhadap persoalan yang terjadi di sekelilingnya (Huntington, dalam Supriyadi: 2008). Kebudayaan sering dipahami sebagai hasil karya, rasa, dan cipta masyarakat, yang kemudian sering diidentikkan dengan kesenian: nyanyian, lagu, tari, makanan khas; produk makanan tertentu.

Kebudayaan akan menjadi peradaban ketika telah mencapai puncaknya dan menjadi karakter sebuah zaman dari satu komunitas dan merupakan titik akhir/ hasil proses kebudayaan. Sesungguhnya peradaban adalah puncak prestasi masyarakat pada suatu masa yang berkomitmen terhadap perilaku tertentu meski dari sisi kewilayahan tidak menjadi satu komunitas. Peradaban terkait erat dengan sejarah kemanusiaan bangsa dari waktu ke waktu. Inilah yang membedakan antara bangsa atau masyarakat primitif dan bangsa atau masyarakat yang berbudaya tinggi (Kamaluddin, dalam Habibie: 2009).

Koridor Alquran

Salah satu pilar peradaban dalam Islam adalah doktrin keagamaan. Masyarakat madani atau masyarakat yang berperadaban adalah masyarakat yang kehidupannya berdasarkan pada dien, yaitu dienul Islam (Hidayat: 2008, Zarkasyi: 2008, Din Syamsuddin: 2009). Karena itu membangun peradaban Islam adalah membangun superioritas dan intelektualitas muslim dengan tetap dalam koridor Alquran dan Hadis. Yakni membangun kembali semangat, komitmen untuk menjadikan nilai-nilai Islam sebagai sumber inspirasi tindakan, perilaku, dan pergerakan individu dan masyarakat dalam rangka menyiapkan hari depan yang lebih baik (al Hasyr: 18).

Semua diawali dengan penyadaran dan penumbuhan komitmen untuk menerapkan nilai-nilai agama sebagai landasan perilaku, baik melalui pendekatan moral maupun struktural. Penghayatan itu dijadikan penuntun perilaku individu dan masyarakat.

Untuk membangun peradaban berekonomi Islam, maka harus mengembangkan ilmu pengetahuan tentang ekonomi Islam yang arahnya sejalan dengan konteks kekinian dan sosialisasi yang lebih intensif, terarah kepada masyarakat agar mereka mengetahui, memahami, dan mengamalkan pengetahuannya dalam kehidupannya.

Hal ini memungkinkan seseorang memberikan respons terhadap masalah kehidupan yang terjadi di sekitarnya, karena ilmu pengetahuan akan memberikan pencerahan untuk memilih dan menentukan tindakan: menerima atau menolak, sekarang atau menunggu waktu. Ilmu pengetahuan akan sangat berpengaruh untuk memberi warna, dan corak perilaku sebagai respons terhadap apa yang dihadapinya.

Pentingnya ilmu pengetahuan dalam membentuk peradaban suatu bangsa, menurut Ibnu Khaldun, ada pada peran ilmu pengetahuan tersebut. Peradaban hanya akan terwujud apabila ilmu pengetahuan berkembang dan dikembangkan oleh institusi masyarakat.

Gerakan Memulai

Membangun budaya berekonomi syariah menuju terbangunnya (kembali) peradaban (ber)ekonomi Islam harus dilakukan secara bersama-sama lewat gerakan saling memulai, saling menghargai, dan tidak saling memaksakan kehendak, serta saling menopang antarbidang yang berkomitmen dan berkompetensi membangun sumber daya insani yang andal. Salah satu pilar penting dari peradaban Islam adalah amwaal/ ekonomi.

Sementara ekonomi Islam adalah ajaran dengan nilai yang bertujuan memberi solusi hidup yang paling baik. Contohnya, pensyariatan zakat, yang menurut Yusuf Al Qardlawi diturunkan oleh Allah sebagai salah satu jalan mengatasi kemiskinan.

Zakat pada dasarnya mempunyai konsep sosial yang sangat kuat. Namun dalam praktiknya masih ”sekadar” memenuhi Rukun Islam, yang lebih banyak dianggap sebagai masalah pribadi, sekadar meringankan beban sesaat bagi fakir miskin, sehingga dampak sosial-ekonomi zakat dengan konsepnya yang mulia itu tidak nampak.

Men-tasharruf-kan zakat untuk kemaslahatan umat yang lebih berjangka panjang tidaklah menyalahi konsep dasar pensyariatannya. Melalui zakat sebenarnya telah terjadi proses pemindahan kekayaan dari golongan yang kaya kepada golongan miskin. Terjadi pula pengalihan kekayaan sumber-sumber ekonomi yang tentu saja dari sudut pandang ekonomi akan terjadi (pula) perubahan-perubahan tertentu yang bersifat ekonomis. Perubahan tersebut dapat saja terjadi pada aspek konsumsi ataupun produksi.

Menyikapi zakat dengan manfaat maksimal, sebenarnya masuk ke wilayah ekonomi dan sistem ekonomi, sebagai salah satu sumber ekonomi yang penggunaannya harus mendatangkan manfaat optimal, baik konsumtif maupun manfaat produktif.

Kontekstualisasi

Pengembangan kesadaran keimanan didorong seiring dengan perkembangan zaman dan permasalahan kehidupan, agar selalu terjadi tautan antara agama dan dinamika sosial masyarakat untuk mengontekstualisasikan nilai agama.
Pengembangan ilmu-ilmu diarahkan dari quasi scientific menjadi science yang logis karena dikembangkan atas dasar pemikiran akal manusia. Pengembangan ilmu akhirnya menjadi tuntutan. Kesadaran iman dan semangat mengembangkan keyakinan melalui perkembangan ilmu dan perkembangan sosial kemasyarakatan diharapkan akan mengantar ditemukannya kebenaran ajaran agama tentang berekonomi Islam dan menambah spirit untuk mengimplementasikannya ke dalam bermuamalah.

Membangun peradaban membutuhkan waktu dan kesabaran. Contohnya, proses pembangunan peradaban Islam oleh Muhammad yang dimulai dengan perintah membaca sebagai gerbang ilmu pengetahuan. Pada esensi yang sama kita menyikapi tekad untuk menuju ke peradaban ekonomi Islam itu.

Oleh Imam Munadjat

— Drs Imam Munadjat SH MS, dosen Fakultas Ekonomi Unissula, mahasiswa program S3 Ekonomi Islam Unair

Sumber : Suara Merdeka

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Loading Facebook Comments ...