Kontekstualisasi dan Reaktualisasi Solusi Kemajuan Syariah

ekonomi islamYuslam Fauzi Dirut Bank Syariah Mandiri saat menjadi narasumber dalam kuliah Umum di Islamic Ekonomi Finance Trisakti (IEF) Jakarta, mengatakan bahwa tujuan syariah memberikan kesejahteraan umat, banyak aspek yang belum memenuhi dari harapan syariah. Dimana masyarakat Indonesia yang mayoritas Muslim dengan populasi terbesar dalam urutan ke tiga dunia, mempunyai pemahaman rendah dengan negara muslim lain. Masyarakat hanya mengenal syariah dalam konteks maghrib (Maysir, Gharar, Haram dan Riba).

Akibat dari pemahaman sempit mengenai syariah, menurutnya, terjadilah piramida terbalik di dalam dunia Islam. Dimana kemiskinan menjadi faktor atas terhambatnya kemajuan dari negara muslim yang ada di dunia. Tingkat kesejahteraan sangat minim, lebih sedikit orang kaya dan berhasil dibanding orang yang susah. Selama ini negara Muslim berada di urutan ke 50 untuk kesejahteraan masyarakat yaitu negara Bahrain yang memiliki ladang minyak dan penduduk sedikit, sekitar 6000 ribu jiwa, satu kecamatan di Indonesia.

Selain itu, menurut data, kesejahteraan masyarakat dilihat dari tiga faktor yaitu kesehatan, pendidikan dan pendapatan. Indonesia yang menjadi population terbesar Muslim belum maksimal untuk memenuhinya. Ekonomi syariah di Indonesia masih belum ada grafik terbaik, sebagai sebuah solusi pemberantasan kemiskinan. Dalam menjawab itu, maka sejarah tidak boleh dilepaskan, sebuah peradaban baik telah diambil dan diaplikasikan oleh Rasulullah dan para Sahabat.

Menurutnya, Islam tidak melecehkan peradaban kaum ataupun suku, Kebaikan yang ada merupakan milik dari kaum muslimin, inilah perkataan dari Ali RA. Kolaborasi dari kaum lain telah digunakan dalam Islam seperti sebagian akad yang digunakan berasal dari Jahiliyah, Penanggalan Hari dari Senin hingga ahad, dinar dan dirham merupakan kebudayaan Mesopotamia. “ Jadi, semuanya bukan berasal dari kaum Muslim mengapa harus memakainya, maka sesuatu yang tidak melanggar dari Islam maka tidak salah untuk digunakan”, ungkap Yuslam.

Untuk mengembangkan syariah di Indonesia dan mengembalikan fungsi dan tujuannya, ia menekankan, umat Islam perlu melakukan Ijtihad tersendiri tidak harus ikut dengan timur tengah. Indonesia memiliki konteks lapangan yang berbeda dengan negara muslim yang ada di Dunia. Majelis Ulama Indonesia sebagai dewan fatwa harus berani melakukan Kontektualisasi dan Reaktuliasasi agar menjadi landasan kuat dari industri Syariah di Indonesia.

Sumber : PKES Interaktif

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


*

Loading Facebook Comments ...