Kiblat Dalam Shalat, Kiblat Dalam Bisnis

KUALA LUMPUR— Sudah sewajarnya sebuah entitas bisnis mengejar keuntungan. “Namun, hendaknya keuntungan itu dikejar dengan prinsip-prinsip yang menjunjung tinggi etika,” tegas Ketua Asosiasi Bank Syariah Indonesia (Asbisindo), A Riawan Amin.

Tokoh perbankan syariah itu menegaskan hal tersebut saat menyampaikan makalah bertajuk “Membangun Bisnis yang Beretika” pada acara World Islamic Economic Forum di Kuala Lumpur, Malaysia, Kamis (20/5).

Lebih jauh Riawan menekankan pentingnya mendasari perilaku bisnis yang beretika pada perspektif Celestial Management (manajemen langit). Yakni bisnis sebagai sarana peribatan yang sakral (business is a place of Worship), bisnis sebagai sarana untuk mencari, mengeksplorasi, mendapatkan, dan berbagi kemakmuran (business is a place of Wealth), dan bisnis sebagai tempat pertempuran menegakkan kebenaran dan kemakmuran (business is a place of Warfare).

Ia menjelaskan, di dalam perilaku bisnis yang seusai perspektif Celestial Management hadir karakteristik bisnis Islami, seperti robbaniyyah (ketuhanan), insaniyyah (manusiawi), syumuliyah (komprehensif), al-waqi’iyyah (realistik), al-wasathiyah (seimbang), al-wudhuh (jelas), ijtima’iyah (solidaritas), dan lain-lain.

“Sebagai paradigma baru dalam memandang bisnis, Celestial Management menjunjung tinggi prinsip-prinsip fairness (keadilan), sincerity (kejujuran), dan transparancy (keterbukaan). Karena semuanya berakar pada al-Quran dan as-Sunnah yang berjalan beriringan dengan etika kemanusiaan yang beradab,” tutur Riawan.

Penerapan bisnis yang beretika, kata penulis buku “The Celestial Management”, “Satanic Finance” dan “Indonesia Militan” itu akan menghasilkan dampak yang luar biasa. Ia lalu mengutip sejumlah kajian tentang perusahaan-perusahaan internasional yang meraih sukses karena menerapkan bisnis yang beretika.

The Performance Group, sebuah konsursium perusahaan-perusahan bisnis besar, seperti Volvo, Unilever, Monsanto, Imperial Chemical Industries, Deutch Bank, Electrolux, dan Gerling, telah melakukan studi selama dua tahun. “Hasilnya menakjubkan. Pengembangan produk yang memperhatikan aspek-aspek alam (ramah lingkungan) dan peningkatan environment conpliance ternyata dapat meningkatkan EPS (earning per share) perusahaan, menaikkan profitabilitas, dan mempermudah perusahaan dalam memperoleh kontrak atau persetujuan investasi,” ujarnya.

Studi lain menunjukkan hal yang sama. Jurnal Business and Society Review pada tahun 1999 telah mengungkapkan bahwa 300 korporasi besar yang memiliki komitmen terhadap publik atas dasar kode etik ternyata mampu mendongkrak market value added sampai dengan dua hingga tiga kali lipat dibanding korporasi yang tidak melakukan hal serupa.

Begitupun, DePaul University yang melakukan riset di tahun 1997 menemukan bukti bahwa perusahaan yang mau merumuskan komitmen korporatnya dalam menjalankan prinsip-prinsip yang beretika ternyata memiliki kinerja keuangan yang lebih baik dibanding perusahaan lainnya. “Hasil-hasil kajian di atas menambah daftar panjang suksesnya etika bisnis sebagai penunjang pencapaian profit bagi organisasi,” tegas Riawan Amin.

Bila ada pertanyaan lanjutan, haruskah dengan etika Islami? Jawabanya, dengan etika apa lagi? Jika kita telah memiliki Ka’bah sebagai kiblat dalam ibadah shalat kita, maka sudahkah kita memiliki kiblat dalam ibadah bisnis kita? Mari arahkan wajah kita menuju kiblat dalam berbisnis, dan berekonomi. Tak kecuali bisnis keuangan,” tegas Riawan Amin

Sumber : republika.co.id

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


*

Loading Facebook Comments ...