Kendala Perkembangan Bank Syariah

Bank SyariahPerkembangan bank syariah hingga kini masih terkendala sumber daya manusia (SDM). Akibatnya, tingkat kepercayaan masyarakat menggunakan jasa perbankan syariah belum sesuai harapan.

Padahal secara prinsip, bank syariah menggunakan sistem transaksi maupun administrasi yang dipercaya lebih adil dan melindungi hak masyarakat ketimbang bank konvensional, sehingga pemberdayaan umat bisa tercapai.

Hal tersebut dikatakan Auditor Bank BNI Syariah Pusat, Abu Muhammad Dwiono Koesen Al Jambi dalam acara Syari’a Economist Training 2 yang diadakan Forum Silaturahmi Studi Ekonomi Islam Komisariat Semarang bekerja sama dengan Bank BNI Syariah Cabang Semarang di ruang kelas Fakultas Ekonomi Unissula Jalan Kaligawe, akhir pekan lalu.

Menurut Abu, belum berhasilnya bank syariah hingga kini menjadi pembelajaran para pengelolanya untuk meningkatkan kompetensi dan profesionalitas para pegawainya. “Karena ini bank yang berlandaskan nilai-nilai keislaman, harusnya, para SDM harus menguasai ilmu Islam secara penuh. Lebih baik lagi jika latar belakangnya dari pendidikan Ekonomi Islam,” tandasnya.

Secara bersamaan, kata dia, kejujuran para praktisi perbankan syariah harus ditingkatkan.Selain itu, sosialisasi perihal sistem bank syariah yang mengedepankan prinsip keadilan harus dilakukan secara intens kepada masyarakat.

“Selama ini, masyarakat ragu menggunakan jasa perbankan syariah karena takut dananya tidak aman, terlebih bank syariah belum akrab karena masih kecilnya market share dibanding bank konvensional. Memang untuk merubah persepsi negatif masyarakat itu, butuh waktu,” ungkapnya.

Solusi

Dikatakan, untuk mendongkrak kepercayaan masyarakat terhadap bank syariah, maka jika sewaktu-waktu suatu bank syariah mengalami masalah terkait SDM-nya, hendaknya lebih memilih mengkomunikasikan terlebih dulu ke Dewan Syariah Nasional guna dicari solusi terbaik.

Seluruh bank syariah, menurutnya, harus meningkatkan layanan hingga menjadi lebih baik ketimbang bank konvensional. “Jangan terkesan kaku. Penguasaan produk syariah juga harus ditingkatkan, sehiangga dapat dengan mudah menjelaskan ketidakpercayaan masyarakat terkait produk syariah,” jelasnya,

Dikatakan, pencampuran uang dengan bank konvensiaonal yang notabene induk dari bank syariah bersangkutan, perlu dihindari karena masyarakat akan menganggap bank syariah hanya menambah label syariah pada produk-produknya.

Keyakinan bank syariah bisa memberdayakan umat, menurut Abu, karena sistem bagi hasil lebih bersahabat dengan masyakat. Jika untung bank syariah makin besar, maka bagi hasilnya pun lebih besar. “Kalau di bank konvensional, apapun kondisi bank bersangkutan, bunganya tetap,” ujarnya.

Ke depan, peluang bank syariah makin berkembang, amat besar. Pihaknya optimis karena sejak memisahkan diri dengan BNI konvensional, market share dan keuntungan meningkat secara bertahap. “Bulan Maret ini saja berhasil meraup laba Rp 58 miliar. Padahal, target laba dalam setahun Rp 200 miliar. Artinya, laba BNI Syariah tahun ini bisa jauh melebih target.”

Sumber : Suara Merdeka

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


*

Loading Facebook Comments ...