Isu Gender di Perbankan Syariah Mulai Luntur

Perbankan SyariahInstitusi perbankan syariah di Asia rupanya menarik perhatian banyak wanita eksekutif dan dari kalangan terpelajar untuk mengisi posisi-posisi penting di perusahaan besar di Timur Tengah.

Dewan Syariah Malaysia pada November lalu memasukkan perempuan kedua ke dalam 11 anggotanya. Indonesia bahkan menempatkan 6 orang perempuan dalam 35 anggota Dewan Syariahnya. Ma’ruf Amin, Ketua Dewan Syariah Nasional Indonesia, mengatakan hal tersebut dalam sebuah wawancara pada 30 Desember lalu. Bank sentral Malaysia dan Komisi Keamanan Malaysia keduanya dipimpin oleh seorang wanita, sementara Liza Muhammad Noor adalah Kepala Eksekutif RAM Rating Services yang menyelenggarakan pemeringkatan untuk obligasi syariah (sukuk).

“Dahulu, sangat sulit bagi seorang perempuan untuk masuk ke industri, sekarang orang-orang telah mematahkan batasan itu, khususnya di Malaysia,” kata Aznan Hasan, profesor dari Universitas Islam Internasional Malaysia yang berbasis di Kuala Lumpur.
“Banyak perempuan yang masuk dan hal ini baik karena kita butuh SDM,” tambahnya.

Meningkatnya jumlah wanita yang bekerja di keuangan syariah akan membantu kebutuhan para ahli dalam industri tersebut yang diperkirakan tumbuh 20% sejak tahun 2000, dengan jumlah aset mencapai $1 trilyun. Sekitar 50 ribu profesional akan dibutuhkan dalam kurun waktu 5—7 tahun mendatang untuk memenuhi kebutuhan SDM. Ishaq Bhatti, Direktur Program Perbankan dan Keuangan Syariah Universitas La Trobe di Melbourne mengatakan hal tersebut dalam sebuah wawancara pada 10 Desember lalu di Kuala Lumpur.

Halangan Budaya
Kurangnya jumlah pekerja wanita pada dasarnya adalah karena “sejarah, budaya, dan persepsi perempuan,’ kata Nida Raza, Presiden Direktur Pasar Modal Bank Investasi Unicorn BSC di Bahrain.

Di Arab Saudi, negara dengan mayoritas muslim Sunni mengharuskan wanita dalam penjagaan pria, sekitar 15% dari buruh di sana adalah wanita pada tahun 2009, berdasarkan laporan Jenewa, Organisasi Buruh Internasional, PBB.

“Mendapatkan visa ke Saudi sangat sulit, dan meskipun sudah di sana, aku menemukan banyak tantangan,” kata Noripah Kamso, Direktur Eksekutif Manajemen Aset CIMB Kuala Lumpur, bagian dari grup CIMB, salah satu pengelola sukuk terbaik. “Aku pernah sekali dikejar oleh polisi Saudi karena masuk dari pintu yang salah, dan bepergian tanpa teman laki-laki sangat tidak mungkin,” tambahnya.

“Kolam Bakat”
Di Malaysia, regulasi ditujukan untuk membatasi suatu konflik atau keinginan. Di bawah regulasi Bank Negara Malaysia, para lulusan Syariah hanya dapat menduduki satu organisasi dari masing-masing jenis lembaga keuangan Islam, artinya, seorang yang ahli dalam perbankan syariah hanya dapat menjabat sebagai dewan syariah di entitas non-bank seperti perusahaan asuransi atau takaful.

Aturannya adalah ‘memperluas kolam bakat dan memberi banyak peluang’, ujar Engku Rabiah yang pernah ditunjuk sebagai anggota dewan syariah di 6 dari 7 bank syariah dan perusahaan takaful sebelum aturan tersebut dikeluarkan pada 2004.

Raza dari Bank Investasi Unicorn mengatakan bahwa sedikitnya jumlah wanita di keuangan syariah akan memudahkan banyak wanita Barat untuk memasuki pasar.

“Hal ini akan menyebabkan efek K-O di Timur Tengah sehingga mengakibatkan meningkatnya jumlah perempuan di industry keuangan syariah,” kata Raza.

Sumber : IBnews Eramuslim

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Loading Facebook Comments ...