Irfan Syauqi Beik : Optimis Perbankan Syariah Indonesia Capai Skenario Moderat

ekonomi islamIrfan Syauqi Beik merupakan akademisi yang sangat concern bagi kemajuan ekonomi syariah di Indonesia. Bagi seorang Dosen di Fakultas Ekonomi dan Management Institut Pertanian Bogor, yakin bahwa pertumbuhan bank syariah di Indonesia akan mencapai scenario moderat versi Bank Indonesia yaitu Tumbuh sekitar 45-55%.
“Kita bersyukur bahwa pertumbuhan bank syariah di tanah air semakin meningkat dari waktu ke waktu. Dari sisi aset, saya yakin pertumbuhan tahun ini akan mencapai skenario moderat optimis versi BI, yaitu sekitar 45-55%,”ungkapnya kepada eramuslim,Kamis (2/6).

Ia mengamati kesadaran masyarakat dan kalangan dunia usaha untuk menggunakan jasa bank syariah semakin meningkat.
Kemudian dari sisi fungsi intermediasi, sebut Syauqi bank syariah jauh lebih baik dibandingkan dengan bank konvensional.
“ Ada beberapa indikator terkait hal ini. Pertama, nilai FDR bank syariah yang lebih dari 90%. Artinya, hampir seluruh dana yang dihimpun bank syariah disalurkan ke sektor riil. Kedua, dari beberapa studi yang dilakukan oleh kami di FEM IPB dan juga BI, sistem bagi hasil berbanding lurus dengan Industrial Production Index, yang merupakan proxy dari pertumbuhan sektor riil. Berbeda dengan bunga yang justru berbanding terbalik dengan IPI. Ini membuktikan bahwa dampak perbankan syariah terhadap sektor riil sangat positif,”terang Syauqi yang mendapat gelar M.Sc. Islamic Economics, Institute of Islamic Economics International Islamic University Islamabad, Pakistan kemudian mendapat gelar Ph.D. Islamic Economics, Kulliyyah of Economics and Management Sciences, International Islamic University Malaysia.
Syauqi juga melihat bahwa ada sejumlah persoalan krusial yang harus segera diatasi. Pertama, masalah SDM. Kebutuhan akan SDM sangat luar biasa besar. Pada jangka pendek, kebutuhan ini bisa diatasi melalui beragam program rekrutmen dan training-training perbankan syariah. Tapi pada jangka panjang, solusi SDM ini mau tidak mau harus diselesaikan melalui pembangunan sistem pendidikan ekonomi syariah yang terencana dengan baik. Bahkan kalau bisa ekonomi syariah diperkenalkan sejak dini.

Kedua, jelasnya perlu adanya sosialisasi , baik kepada para pengambil kebijakan, pelaku bisnis dan masyarakat secara umum. Banyak yang masih belum memahami konsep ekonomi syariah dengan benar. Misalnya murabahah, apa bedanya dengan kredit berbasis bunga, bagaimana filosofinya, bagaimana aplikasi murabahah yang tepat, dan lain-lain.
“Kadang-kadang pegawai bank syariah, seperti bagian customer service-nya, juga kurang menguasai konsep transaksi keuangan syariah.Karena itu, sosialisasi ini harus dilakukan terus menerus,”sebutnya.
Ketiga, perlu adanya dukungan regulasi, terangnya lagi.
Dia mengatakan sudah saatnya pemerintah lebih serius lagi mendukung bank syariah, seperti menempatkan dana APBN di bank syariah, ONH melalui bank syariah sepenuhnya, asuransi hajinya harus asuransi syariah, menempatkan sebagian dana BUMN di bank syariah dan lain-lain. Dukungan ini harus secara total diberikan.

“Keempat, tugas akademisi adalah memperkuat riset dan kajian keuangan syariah secara komprehensif, sehingga perkembangan ekonomi dan keuangan syariah dari sisi keilmuan dapat berjalan dengan baik,” jelasnya akademisi muda ini mengakhiri.

Sumber : IBnews Eramuslim

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


*

Loading Facebook Comments ...