Institusi Amal

Amal dalam Islam memiliki makna yang luas. Zakat adalah salah satu bentuk amal. Zakat sebagai amal adalah kewajiban untuk mengambil harta tertentu untuk tujuan tertentu pula dengan mempertemukan tanggung jawab sosial sebagaimana dijelaskan dalam Al Qur’an (Bab 2, ayat 177). Salah satu kewajiban sosial yang termaktub adalah pengurangan kemiskinan. Disini Zakat menjamin kebutuhan dasar bagi mereka yang membutuhkan dan menjaga keseimbangan sosial serta keadilan distribusi pendapatan. Penggunaan Zakat dapat dilihat sebagai contoh aspek deontologis (hak dan kewajiban) etika transformasi pasar. ‘Deontological consequentialism’ pasar adalah masalah sosial yang menjadi perhatian Sen pada teorinya tentang kesejahteraan sosial.
Sadaqah adalah bentuk lain dari amal. Hal ini secara khusus dan secara sukarela dikeluarkan bagi fakir miskin. Meskipun begitu, tidak ada alasan mengapa sadaqah tidak dapat diorganisir sebagai mana zakat. Kesimpulan berikut ini diambil dari sebuah ayat Al Qur’an yang mengidentifikasi keduanya dengan modus pengeluaran yang serupa. Lihat Alquran, juz 2, ayat 177 dan 215. Ayat 177 merupakan ayat spesifik yang berhubungan dengan  Zakat, sedangkan ayat 215 menyebut amal secara luas, namun organisasi dan pola pengeluarannya mempunyai pola sama. Akibatnya, implikasi seluruh organisasi Zakat bisa disamaratakan untuk semua bentuk amal, termasuk sadaqah.
 
Makna amal dalam Islam melampaui zakat dan shadaqah. Memberikan kekayaan publik bagi kemaslahatan umat (waqf), membangun sebuah lingkungan di daerah kantong (hima) bagi keseimbangan ekologi, dan barang secara umum dan pertukaran di masyarakat secara individu dan kolektif, adalah bentuk amal. Oleh karena itu amal menjadi sumber aliran dana yang diterima secara luas dalam perekonomian hibah dengan elemen baik moneter maupun aset sosial dan segala yang terkait dengannya. Berkenaan dengan masalah ini, derma mempengaruhi hubungan antar kelompok sosial ekonomi di masyarakat. Tujuannya adalah untuk memobilisasi amal untuk mencapai keadilan sosial, kesetaraan dan keadilan distribusi, dan transformasi produktif bagi penerima dan pemilik asset (orang kaya).
 
Amal dalam Islam tidak dimaksudkan untuk menghasilkan free-ridership (orang yang menggantungkan hidupnya pada amal). Hal tersebut tidaklah dieperlakukan sebagai pengeluaran tanpa pengembalian yang mempunyai dampak positif bagi transformasi sosial ekonomi. Akibatnya, zakat dipahami sebagai media mobilisasi produktif sosial dari mereka yang mempunyai sumber daya lebih (kaya) kepada si miskin untuk mengaktifkan kedua kelompok tersebut untuk saling berinteraksi, mengintegrasikan dan sejahtera dalam sosial ekonomi. Orang kaya mendorong integrasi tersebut dengan berpartisipasi dalam pemenuhan kebutuhan sosial melalui pengeluaran sebagian sumber daya yang demilikinya. Orang yang membutuhkan berpartisipasi dengan memanfaatkan sumber daya yang diberikan kedalam bentuk kegiatan produktif dalam rangka transformasi pengurangan kemiskinan dalam negara. Hal Ini mengharuskan adanya prinsip  komplementer seluruh hubungan sektoral, partisipasi ekonomi secara lebar, sebagaimana dijelaskan sebelumnya. Hubungan saling menguntungkan antara orang  kaya dan miskin dalam hal ini adalah untuk berbagi dalam usaha amal sebuah prospek untuk mencapai stabilitas sosial dan hibah ekonomi yang menghantarkan barang sosial sebagai balasan bagi semuanya.
Dalam suatu lingkungan yang mempunyai transformasi produktif dapat berakibat pada pentingnya sumber daya yang mengalir melalui instrumen ekonomi partisipatif seperti profit-sharing dan partsipasi modal (equity). Meningkatnya instrumen seperti itu dalam hubungan terbaliknya antara instrumen ekonomi partisipatif dan suku bunga, sebagai tahapan dari rezim tingkat suku bunga. Sistem perawatan umum yang menjadikan amal sebagai sumber daya tambahan akan meningkatkan kapasitas produksi masyarakat miskin bersamaan dengan pembentukan  badan usaha bagi mereka. Pendekatan Seperti itu dapat mengatur integrasi masyarakat miskin dalam kegiatan ekonomi utama, perdagangan dan pembangunan, serta pengembangan dan pemberdayaan melalui partisipasi pengambilan keputusan, sebagai sumber daya manusia yang maju.
 
Ada banyak cara yang inovatif dimana sumberdaya amal termasuk zakat dan sadaqah dapat dimobilisasi melebihi usaha produktif diatas dan perbaikan transformasi. Salah satu contohnya adalah dengan menyiapkan suatu dana pembangunan yang akan mendorong kegiatan informal, termasuk tenaga kerja sumber daya manusia dalam hal ketika upah rendah menimbulkan efek menurunnya semangat dan rendahnya kalori yang didapat oleh masyarakat miskin (Choudhury & Hasan 1998). Dalam kasus tersebut, eksploitasi upah oleh pemberi kerja dapat dihindari sementara kegiatan produktif dapat terus ditingkatkan. Seperti dana pengembangan dapat dipersiapkan dengan memberikan perspektif internasional amal Islam sebagai aliran sumber daya dari yang kaya kepada kelompok miskin dalam dunia Islam. Mobilisasi total gabungan produktivitas masyarakat miskin sejalan dengan orang kaya melalui usaha partisipatif dimana dana zakat dapat dimobilisasi untuk meningkatkan formasi total kekayaan melalui mobilisasi sumberdaya produktif. Hal ini pada gilirannya akan meningkatkan total output nasional, sumber daya dan kekayaan.
 
Sesungguhnya zakat adalah klaim atas kekayaan, bukan hanya pada uang tunai ataupun pendapatan. Dalam ekonomi Islam, kekayaan dibentuk melalui mobilisasi modal dengan cara regenerasi keuntungan produktif di jalur yang tepat. Seperti konsepsi produksi kekayaan jika digabungkan dengan keadilan distribusi kekayaan, yang bergantung pada amal, lebih penting lagi adalah zakat, menandakan sebuah hubungan antara zakat dan etika produksi dan distribusi kekayaan. Zakat oleh karena itu tidak bisa, menyebabkan disinsentif transformasi sumber daya produktif menjadi kekayaan.
Cara zakat dalam membuat dan mendistribusikan kekayaan tidak seperti akumulasi modal dengan tabungan menggunakan instrumen suku bunga. Dalam masalah ini, keberadaan bunga mencederai kegiatan produktif dengan membatasi pasokan dana pinjaman dan mengakibatkan kenaikan biaya investasi. Rate of return (tingkat pengembalian) kemudian akan menjadi negatif dipengaruhi oleh tingkat suku bunga. Aktiva produktif dan aktiva moneter tetap bersaing dan terpengaruh secara negatif terhadap suku bunga sebagai harga modal uang.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


*

Loading Facebook Comments ...