perbankan-syariah logo

Indonesia Penentu Proyeksi Perbankan Syariah Global

Indonesia Penentu Proyeksi Perbankan Syariah GlobalMenurut laporan Pusat Penelitian Perbankan Syariah Global Ernst & Young (EY) baru-baru ini, dalam empat tahun ke depan industri perbankan syariah global diproyeksikan akan terus mengalami peningkatan yang cukup signifikan. Padahal, kita tahu perekonomian dunia belum sepenuhnya pulih. Proyeksi Pertumbuhan Perbankan Syariah Global itu ditentukan oleh aktivitas ekonomi dari negara-negara yang selama ini menjadi pusat keuangan berbasis Islam itu, Indonesia salah satunya.

Laporan Pusat Penelitian Perbankan Syariah Global Ernst & Young juga memperkirakan aset perbankan syariah global akan mencapai 3,4 triliun dolar AS atau setara Rp39.440 triliun di tahun 2018. Tercatat ada enam negara yang aktifitasnya berpotensi menjadi menentukan aset perbankan syariah dunia, yakni Qatar, Indonesia, Arab Saudi, Malaysia, Uni Emirat Arab, dan Turki. Besarnya laju aset keuangan yang tidak mengenal bunga itu terlihat dari pencetakan laba.

“Meski pertumbuhan laba bank-bank syariah di berbagai negara mengagumkan, tetapi rata-rata pertumbuhannya sekitar 15 persen -19 persen itu masih di bawah bank konvensional,” ujar Kepala Keuangan Syariah Global Ernst & Young, Ashar Nazim.

“Regionalisasi dan transformasi operasional yang kini tengah berjalan dapat mendorong perbankan syariah susul konvensional,” kata dia.

Di samping itu, Nazim menambahkan masih terdapat ruang yang belum tergarap secara maksimal. Dan ini menjadi potensi besar bagi pertumbuhan industri.

Nazim mencontohkan, saat ini sebanyak 38 juta nasabah diestimasikan telah beralih dari bank konvensional ke bank syariah. Namun, masih sebagian kecil dari total nasabah tersebut berpindah secara penuh. Sebagian besar masih memiliki rekening bank nonsyariah.

Setiap nasabah pada perbankan berlandas akad itu hanya dua produk. Bandingkan dengan bank konvensional yang telah memasarkan lima produk per nasabah.

“Membangun kepercayaan konsumen melalui keunggulan layanan, terutama ketika datang ke nasabah yang membuka rekening, dan cross selling dapat meningkatkan pangsa pasar hingga 40 persen dari pelanggan ini,” tandas dia.

Potensi lainnya adalah penyaluran pembiayaan bagi sektor UKM. Bisnis di sektor menengah bawah itu dapat tumbuh melebihi batas yang ada saat ini.

“Dengan meningkatnya perdagangan dan arus modal antara Turki, Timur Tengah, dan Asia Pasific, terdapat negara-negara baru yang hendak mengembangkan industri keuangan syariah. Demikian pula dengan menghubungkan dengan mesin pertumbuhan ekonomi dunia yakni India dan China. Industri syariah dapat menjadi “jembatan” bisnis ekonomi di sana,” kata Kepala Layanan Keuangan Ernst & Young MENA, Gordon Bennie.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


*

Loading Facebook Comments ...