Dinar dan Dirham sebagai Alat Tukar Menurut beberapa pendapat Ulama

DirhamWalaupun tidak ada pendapatnya yang menjelaskan tentang keharusan menggunakan dinar dan dirham sebagai alat tukar dalam transaksi, tetapi Ibnu Taimiyyah mengatakan bahwa untuk mencetak mata koin haruslah dengan nilai sebenarnya atau sesuai dengan nilai intrinsiknya, agar tidak terjadi kezaliman.

Karena dengan adanya satuan tukar yang tidak sesuai dengan nilai intrinsiknya, kadang-kadang pemerintah bisa membatalkan mata uang koin tertentu dan mencetak jenis mata uang lain untuk penduduk, itu akan merugikan orang-orang yan memiliki uang karena jatuhnya nilai mata uang lama.

Al- Ghazali juga berpendapat, bahwa beliau membolehkan peredaran uang yang sama sekali tidak mengandung emas dan perak asalkan pemerintah menyatakannya sebagai alat bayar resmi.

Sejalan dengan pendapat al-Ghazali, Ibnu Khaldun juga mengatakan bahwa uang tidak perlu mengandung emas dan peraka, tetapi emas dan perak menjadi standar nilai uang. Uang yang tidak mengandung emas dan perak merupakan jaminan pemerintah menetapkan nilainya. Karena itu pemerintah tidak boleh mengubahnya. Pemerintah wajib menjaga nilai uang yang dicetaknya karena masyarakat menerimanya tidak lagi berdasarkan berapa kandungan emas perak di dalamnya. Katakanlah, pemerintah mengeluarkan uang nominal Rp 10.000, yang setara dengan setengah gram emas. Bila kemudian pemerintah mengeluarkan uang nominal Rp. 10.000 seri baru dan ditetapkan nilainya setara dengan seperempat gram emas, uang akan kehilangan makna sebagai standar nilai. Oleh karena itu, Ibnu Khaldun selain menyarankan digunakannya uang standar emas/perak, beliau juga menyarankan konstannya harga emas dan perak. Dalam keadaan nilai uang yang tidak berubah, kenaikan harga atau penurunan harga semata-mata ditentukan oleh kekuatan penawaran dan permintaan. Setiap barang akan mempunyai harga keseimbangannya.

Dari pendapat ketiga ulama di atas, bahwa gambaran umum dari mereka memang tidak ada yang mengharuskan adanya ketetapan untuk menjadikan satuan mata uang dinar dan dirham untuk dijadikan sebagai alat tukar, tetapi standar dari nilai uang haruslah didasarkan pada standar emas dan perak, sehingga nilai uang itu tidak berubah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


*

Loading Facebook Comments ...