Dana Haji Jangan Disimpan di Bank Konvensional

MakkahPenghimpunan dana haji oleh Kementerian Agama dinilai sebagai salah satu potensi sumber uang likuid yang sangat besar bagi perbankan syariah. Dana haji yang setiap tahunnya mencapai triliunan rupiah tersebut selama ini lebih banyak terparkir dalam bentuk surat berharga, baik obligasi maupun Surat Berharga Syariah Negara (SBSN).

Padahal, bila perbankan syariah mampun memanfaatkan potensi sumber uang dari dana haji, maka bisa menimbulkan efek signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi di sektor riil. “Karena itu seharusnya tak boleh sepeser pun dana haji tersimpan di bank konvensional atau dalam bentuk SBSN,” kata pengamat ekonomi dari Universitas Indonesia, Faisal Basri, dalam seminar akhir tahun bertema Outlook Perbankan Syariah 2011, di Jakarta, Rabu (24/11).

Menurut Faisal, banyaknya uang masyarakat yang terparkir dalam SBSN telah menurunkan rasio pembiayaan terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). Rasio pembiayaan terhadap PDB nasional saat ini hanya berada di angka 38 persen. Bila dibandingkan dengan negara seperti Cina, Malaysia, dan Singapura, rasio pembiayaan terhadap PDB Indonesia sangat terpaut jauh.

“Rasio pembiayaan terhadap PDB mereka sudah di atas 100 persen, Indonesia bahkan masih di bawah Mongolia yang rasio pembiayaan terhadap PDB-nya sudah 40 persen,” imbuh Faisal.

Melalui pemanfaatan dana haji, lanjut Faisal, perbankan syariah bisa meningkatkan pembiayaan ke sektor riil yang secara langsung berdampak pada pertumbuhan ekonomi nasional. Perbankan syariah tidak boleh lagi ikut-ikutan pola operasional perbankan konvensional yang semakin menjauhi dunia industri. “Pasar pembiayaan sektor industri ini harus dimaksimalkan perbankan syariah, untuk perolehan dananya bisa memanfaatkan dana haji,” kata Faisal.

Sumber : Republika

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Loading Facebook Comments ...