Capital dan Capital maintenance

Dalam akuntansi, capital (modal) dapat dikatakan sebagai kumpulan asset tangible (berwujud) dan intangible (tidak berwujud), keduanya dapat berbentuk moneter dan non moneter,. ini “sebuah ekspresi hak kepemilikan entitas dalam asset bersih” dan merepresentasikan potensi jasa masa depan (Lee 1985), berbasis transaksi dan tergantung pada proses perolehan income dari tiap transaksi yang tercatat. Bagi ekonom, capital adalah servis potensial dimana income mengalir i.e ekonom melihat kedepan dalam istilah servis terantisipasi dan ekspektasi-ekspektasi ini berasal dari basis penentuan modal(Lee 1985).

Fisher (1930), contohnya, mendefinisikan capital sebagai present value dari keuntungan antisipatif masadepan yang dapat direpresentasikan dengan persamaan berikut;
Ko=S Ct(1+i)-t
Dimana K0 = modal pada periode t = 0 dan Ct merpresentasikan antisipasi konsumsi masa depan dalam arti arus kas teramal dan I, adalah tingkat suku bunga (tingak opportunity cost seseorang). Fisher melihat bunga sebagai jembatan antara income dan capital, sementara Hicks mendefinisikan capital sebaga well-offness dan mendefinisikannya sebagai kapitalisasi nilai uang di masa mendatang, pendangannya capital dan income adalah satu namun terpisah untuk tujuan pengukurannya.
Hal ini dapat dilihat bahwa perbedaan antara modal akuntansi dan ekonomi adalah satu ukuran. Sebgaimana Boulding (1962) mengemukakan; dimana akuntan mengukur modal dalam bentuak aktualisasi produk dari proses pengukuran income, ekonom mengukurnya dalam bentuk potensinya dalam mengukur income ekonomi. Ide berkenaan dengan modal dan maintenencenya bergantung pada difinisi dan penilain sistem yang digunakan. Contohnya modal dapat didefinisikan sebagai modal uang, modal fisik (tangible asset/kapasitas operasi), konsumsi potensial (pengukuran discounted cash flow ekonom) atau daya beli. Nilai tersebut termasuk historical cost, biaya penggantian, nilai realisasi bersi atau present value. Semua kemungkinan-kemungkinan ini memberikan berbagai macam permutasi income dan capital.
Capital maintenance
Capital maintenance adalah konsep yang sangat penting dalam pengukuran income capital perlu dipertahankan sebelum diakuinya income (untuk keperluan penyusutan), atau pun distribusi (e.g deviden) dapat dibuat disusun dari modal. Ini adalah illegal dibawah peraturan perusahaan bagi korporasi karena ditakutkan bahwa distribusi dividen modal akan mengurangi jumlah uang yang tersedia bagi kreditor, yang hanya sumber pembatasan kewajiban perusahaan dalam keadaan normal adalah modal dan simpanan.
Konsep mempertahankan modal secara utuh berdampak pada kebutuhan penyusutan menurut Pigou (1941), capital, pada tiap saat terdiri dari kumpulan barang fisik yang tidak ambigue dan jika tiap objek dalam pengumpulan ini telah usang, maka harus digantikan oleh objek yang sebanding,. Namun, perubahan pada komponen nilai capital membuat notasi capital maintenance menjadi susah (Hayek 1941). Sejak capital, pada dunia nyata, terdari dari banyak hal yang heterogen, magnitude fisik hanya bisa dihadirkan dengan menyamakan semua item-item ini dalam item yang sebanding dimana tiap komponen berharga bagi persamaan item lain. Kesulitan muncul, pada saat nilai relative semua hal tidak independent dari poroses penyamaan, maka capital tidak akan bisa dipertahankan, jika terdapat perubahan nilai relative komponennya, bahkan jika persediaan fisik tetap sama. Permasalahan lainnya adalah keusangan terkait dengan perubahan teknologi harus dianggap sebagai depresiasi, meskipun modal fisik tetap utuh. Hayek mengusulkan bahwa prediksi keusangan harus di buat bagus sebelum diperoleh income bersih. Hicks juga menganggap prediksi keusangan sebagai “depresiasi yang sesungguhnya” dan harus disediakan untuk mempertahankan modal. Prediksi keusangan menurut dia adalah kerugian modal. Dalam praktek, akan sangat sulit untuk membedakan dapat diramalkan dan tidak dapat diramalkannya keusangan suatu barang, oleh karena itu keusangan dapat menyebabkan kerugian modal (capital loss) (Goyle 1990).
Beberapa konsep modal juga menyebabkan kesulitan, modal apa yang harus di pertahannkan? Apakah uang (original cost) modal, modal riil (daya beli) atau kapasitas operasi (untuk mempertahankan income). Untuk mempertahankan modal dengan utuh, cukup depresiasi yang mendasari biaya akuisisi (historis) asset. Dalam periode inflasi umum, meski money income akan sama pada periode-periode selanjutnya, pemilik tidak akan dapat untuk mengkonsumsi jumlah barang yang sama sebagaimana ia lakukan pada periode sebelumnya, dan hal ini bertentangan dengan konsep income-nya Hiks. Jika modal riil dipertahankan untuk periode tertentu di saat harga-harga naik maka biaya asset akan menjadi berlipat ganda dan depresiasi akan bersandar pada nilai baru ini. Namun jika, harga tertentu dari asset bergerak berbeda dalam hubungannya dengan tingkat harga, maka walaupun penyesuaian terhadap tingkat harga tidak akan cukup untuk mempertahankan modal, sebagaimana pada saat pergantian asset, jumlah dana dijaga (bukan cash) akan tidak mampu untuk memenuhi syarat pergantian yang sama atau ekuifalen asset untuk memproduksi dengan kapasitas sama. Jika disediakan jumlah yang mencukupi untuk mempertahankan modal fisik maka kemudian, harus juga menyediakan depresiasi berdasar pada nilai asset sekarang pada periode akuntansi, penyesuain cadangan depresiasi sebagaiaman digariskan oleh SSAP 16. permasalahan ini menjadi lebih komplek terkait dengan peningkatan teknologi baru, pergantian peralatan baru mempunyai kapasitas lebih dengan biaya lebih rendah e.g pada kasus komputer dimana tanaga/rasio biaya bertambah selama tiap enam bulan, pada kasus tersebut, jika kita mengikuti konsep current cost depreciation concept, maka kita dapat mempertahankan modal.
Grinyer dan Symon (1980) berpendapat bahwa capital maintenance adalah abstraksi tidak penting bagi mereka yang tidak dapat mengidentifikasi alasan logis mengapa ‘batasan’ capital maintenance harus di lakukan pada suku bunga jangka panjang pelaku bisnis. Argumentasi mereka berdasarkan pada fakta bahwa ekonom tidak dapat mencapai kesepakatan tentang definisi income dan hubungannya dengan modal. Sejak kekayaan tidak dapat didefinisikan secara tidak ambigue, oleh karena, mereka berpendapat bahwa tidak mungkin untuk mempertahankan apa-apa yang tidak dapat defisniskan.
Penilaian selalu menjadi masalah pada tiap tipe pengukuran income, hanya karena kita tidak pernah dapat setuju tentang dasar penilaian tidak dimaksudkan bahwa modal tidak perlu dipertahankan. Istilah profit atau “income” dalam bahasa Amerika adalah kelebihan dalam modal asal. Dengan memungkinkan untuk menambah pengungkapan pada nilai alternative atau informasi dari sumber yang berbeda, pengguna akan bisa melakukan penyesuaian yang diperlukan guna mendapatkan keputusan yang tepat. Boulding (1962) menyatakan:
“There is something to be said for a certain naiveté and simplicity in accounting practice. If accounts are bound to be untruths anyhow, ….., there is much to be said for the simple untruth as against a complicated untruth, for if the untruth is simple, it seems to me that we have a fair chance of knowing what kind of untruth it is. A known untruth is much better than a lie, and provided that the accounting rituals are well known and understood, accounting may be untrue but it is not lies…….
Penulis (Grinyer dan Symon) lagi-lagi nampak membingungkan antara mempertahankan modal fisik dengan pengumpulan asset yang sama atau teknologi bisnis. Contohnya ketika mempertimbangkan kepentingan pegawai, mereka menyatakan:
“In the long run, however, the survival of the business and consequently the provision of consumption possibilities to participants in it, usually depends on its success in adapting to the changes in demand, in a dynamic capitalistic economy. Such adaptation would be , we believe, be impeded rather than helped, by the imposition of the physical capital maintenance constrain”t. (Grinyer & Symon, 1990)
Perawatan modal fisik, saya percaya, hal tersebut adalah menjaga kapasitas operasi perusahaan guna memproduksi dengan jumlah yang sama jika tidak mendapatkan income yang lebih baik daripada periode sebelumnya. Hal ini tidaklah berarti bahwa Grinyer dan Symon mempercayai bahwa perusahaan harus menggunakan teknologi dan mesin yang sama. Yang penting adalah kemampuan perusahaan untuk memproduksi produk (baik baru atau lama) yang akan menghasilkan paling tidak income yang sama sebagaiaman periode sebelumnya. Jelaslah, jika hal ini tidak benar, maka tiap distribusi akan menjadi bagian return of capital dan hal ini akan memburuk dari waktu ke waktu sampai pada titik dimana modal akan termakan dan arus income akan menguap atau menghilang.
Grinyer dan Symon (1980) lebih jauh berpendapat bahwa capital maintenance adalah abstraksi yang tidak dibutuhkan dengan menunjuk dasar pengukuran alternative income, mereka menunjuk pada konseo transaction based matching yang digunakan pada akuntansi konvensional dan untuk tujuan akuntansi arus kas, argumen mereka adalah sejak alternative-alternative ini tidak membutuhkan penilaian tapi berdasar pada transaksi, oleh karena itu capital maintenance sebagai konsep tidak dibutuhkan. Penulis nampaknaya melupakan bahwa biaya historis adalah sistem valuasi meski tidak kekinian, berdasar pada sebuah nilai waktu itu. Lebih jauh seluruh gagasan mencocokkan revenue dengan biaya menyiratkan capital maintenance walaupun apa yang dipertahankan adalah biaya historis i.e modal uang, dan bukan modal riil atau kapasitas produksi. Jika capital maintenance tidak diperlukan, maka tidak juga diperlukan untuk mencocokkan revenue dengan biaya, hanya anggap revenue sebagai profit atau income!, hal sama alternatif cash flow bukan ‘alternative’ bagi capital maintenance namun alternative bagi konsep income sendiri untuk mengatasi dampak arbitary allocatioan. Prof Grinyer nampaknya tidak menekankan bahwa inilah ‘net cash flow (arus kas bersih)’ yang dihasilkan operasi perusahaan. Nilai bersih dalam rangka mengurangi cash outflow yang diperlukan untuk mempertahankan modal.
Faktanya adalah capital maintenance adalah pusat berbagai pengukuran income yang dengan jelas didemonstrasikan oleh Revisine (1981). Menurutnya:
..an income measure is a derivative that unfolds only after one has decided on what capital it is that one wishes to maintain ….
Ia melanjutkan dengan mengelaborasi bahwa tiap opsi pengukuran income populer di bangun atas fondasi perbedaan asosiasi capital maintenance i.e biaya historis income (akuntansi income tradisional) mempertahankan modal nominal dolar, biaya income dari kapasitas operasi fisik, dan konsep-konsep ini dapat dikombinasikan untuk menyesuaikan dengan inflasi (income dolar konstan dibawah historical dan current cost)
Dalam Islam, capital maintenance adalah esensial sebagai profit yang diakui hanya setelah modal dikembalikan, konsep ini memiliki dukungan tinggi dalam hadis Rasulullah Saw, yang meruapakan sumber kedua setelah Al-Qur’an.
Rasulullah bersabda:
” the believer is likened unto the merchant. Just as the merchant’s profit is not complete until his capital is restored, so too are the believer’s supererogatory works incomplete until his prescribed duties have been fulfilled” (Udovitch 1970)
Udovitch (1970) mengutuip contoh ekstrem dalam Mabsut-nya Sarkashi dimana situasi hipotetis di diskusikan oleh ulama’ hukum Islam, jika seorang investor memberikan sejumlah 1000 dirham sebagai modal tetap kepada sekutu pasifnya, profit akan dibagi 50:50, dan sekutu tersebut menghasilkan 1000 dirham lagi. investor ini membagi profit 500 dirham yang didistribusikan kepada investor sementara sekutunya membelanjakan setengahnya namun tetap mempertahankan modal asli 1000 dirham. Partner tersebut melanjutkan berdagang dan kehilangan modal 1000 dirham, distribusi awal menjadi kosong dan partner tersebut harus membayar kembali kepada investor bagiannya sebesar 500 dirham karena menurut ulama’, modal penuh 1000 dirham tersebut belum sepenuhnya dikembalikan kepada investor. 500 dirham yang sebelumnya didistribusikan merupakan return of capital dan ia masih hutang 500 dirham lainnya modal asli investor. Prinsipnya adalah bahwa partner tidak mengambil bagiannya sebelum modal dipertahankan dan dikembalikan kepada investor. Semenjak ia telah mengambil bagian keuntangannya, ia harus mengembalikan modal investor tersebut. Jumlah yang ditahan dalam bisnis bukanlah 1000 dirham modal asli namun 500 dirham dari modal dan 500 dirham dari keuntungan.
Konsep nilai penting dalam menentukan modal dan income, nilai adalah penilaian atau penghargaan baik dalam etika (merefleksikan moral baik dalam objek maupun konsep) atau dalam ekonomi (merfleksikan pilhan, preferensi, kemauan untuk berkorban) (Lee 1985 p12). Valuasi adalah proses merengking atribut-atribut atau preferensi-preferensi ini. Valuasi adalah proses pengukuran pengorbanan atau pilihan yang dibuat dan hal tersebut hanya sementara i.e lampau, sekarang atau nilai masa depan. Hal ini juga dapat menjadi situasional i.e nilai masukan atau keluaran. Valuasi membutuhkan agen penilai (Anderson 1976) yakni asset yang digunakan untuk mengekspresikan nilai asset heterogen lainnya guna memberi nilai tambah bagi penilaian asset bersih keseluruhan. Agen penilai bisaanya adalah uang, meskipun begitu untuk menjadi agen penilai efektif, uang (atau skala pengukuran) memerlukan standarisasi dan bukan variable. Sayangnya, dalam kondisi inflasi, daya beli uang berbeda-beda dan uang menjadi agen penilai yang tidak setabil. Disamping masalah ini dan keinginan untuk memecahkannya, akuntan terus menggunakan uang sebagai agen penilai modal i.e pengukuran kesejahteraan perlu menjadi additive bagi semua asset dan bukan unsur asset heterogen.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Loading Facebook Comments ...