BSM Target 15 Besar di 2015

Bank Syariah MandiriPeringkat Bank Syariah Mandiri (BSM) di dunia perbankan nasional terus naik. Pada 2015 mendatang, peringkat BSM diharapkan masuk dalam kelompok 15 besar.

Untuk mencapainya, perusahaan pun siap melakukan perbaikan-perbaikan dan strategi-strategi bisnis demi melonjakkan pertumbuhan aset. “Apa saja strateginya tentu tidak bisa saya utarakan, itu ibarat aurat yang nggak boleh dibuka,” kata Direktur Utama BSM, Yuslam Fauzi, dalam peringatan milad ke-11 BSM.

Menurut Yuslam, milad ke-11 BSM memiliki arti penting bagi perjalanan perusahaan selama ini. Didirikan pada tahun 1999 silam, kata Yuslam, BSM berhasil menunjukkan performanya sebagai salah satu pemain dalam dunia perbankan nasional yang mampu berdiri sejajar dengan bank-bank nasional yang sudah ada lebih dulu.

Bahkan, dengan kinerja dan pertumbuhan aset yang bagus, kini BSM sudah menduduki peringkat ke-21 dari 121 bank umum yang beroperasi di Indonesia. “Kita memulai dari peringkat ke-90 pada 11 tahun lalu. Lima tahun kemudian kita berada di peringkat ke-32 dan sekarang sudah ada di peringkat ke-21,” ucap Yuslam seraya bersyukur.

Selain kenaikan peringkat, BSM juga berhasil membuktikan diri sebagai bank umum dengan prestasi dan kinerja yang sangat baik. Rating BSM yang lima tahun lalu hanya berpredikat single B, kini sudah double E minus.

Menurut Yuslam, salah satu kunci keberhasilan BSM adalah budaya kerja pegawai yang memiliki rasa kepemilikan yang tinggi terhadap perusahaan. “Karena itu, kita akan terus meningkatkan engagement dan semangat kerja karyawan lebih baik lagi.”

Selama lima tahun terakhir, nilai aset BSM terus meningkat. Pada tahun 2006, aset BSM sebesar Rp 9,5 triliun. Kemudian berturut-turut meningkat menjadi Rp 12,9 triliun (2007), Rp 17,1 triliun (2008), dan Rp 22 triliun (2009). “Sekarang aset kami per Oktober 2010 sudah mencapai Rp 28,31 triliun,” kata Yuslam.

Adapun perolehan Dana Pihak Ketiga (DPK) BSM sampai Oktober mencapai Rp 25,06 triliun dengan pembiayaan sebesar Rp 22,03 triliun. Untuk menggerakkan sektor riil, ke depan BSM tetap mendongkrak porsi pembiayaan terhadap sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) dibandingkan korporasi.

Komposisi pembiayaan terhadap UMKM dan korporasi pada tahun ini, lanjut Yuslam, berada pada posisi terbalik dibandingkan komposisi pembiayaan pada tahun 2005 silam. “Waktu 2005, komposisinya 38,12 persen UMKM dan 61,88 persen korporasi, tapi 2010 ini komposisi untuk UMKM 67,77 persen dan korporasi 32,23 persen,” kata Yuslam.

Sumber : Republika

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Loading Facebook Comments ...