BI Dorong Perbankan Syariah Aktif di PUAS

ekonomi islamBank Indonesia (BI) saat ini akan terus berupaya mendorong perbankan syariah agar aktif bertransaksi di pasar uang antar bank berdasarkan prinsip syariah (PUAS). Hal ini dilakukan karena BI melihat perbankan syariah cenderung masih mengandalkan bank sentral maupun bank induknya dalam menangani permasalahan likuiditas. Padahal PUAS sendiri memiliki manfaat yang baik dalam menangani kebutuhan likuiditas bank syariah.

Analis Ekonomi Madya Direktorat Pengelolaan Moneter BI, Erwin Gunawan Hutapea mengatakan saat ini transaksi antar bank syariah yang kelebihan likuiditas dengan yang kekurangan likuiditas di PUAS masih rendah. Ia menilai terdapat manajemen yang tidak mendorong bank bertransaksi antar bank syariah dan instrumen PUAS sendiri masih belum mampu menarik pelaku pasar untuk bertransaksi.

“Dalam memenuhi kebutuhan likuiditas Bank syariah lebih memilih melakukan peminjaman dana kepada bank induknya. Untuk UUS sendiri hanya memanfaatkan sisa credit limit yang tidak terpakai oleh bank induk” jelasnya.

Menurut data Bank Indonesia, dari 34 bank syariah (11 bank umum syariah/BUS dan 23 unit usaha syariah/UUS) yang pernah bertransaksi di PUAS hanya enam hingga tujuh bank saja yang aktif melakukan transaksi di PUAS tiap hari. Porsi penanaman dana oleh perbankan konvensional masih mendominasi dan trennya meningkat dalam tiga tahun terakhir. Pada 2008, porsi penanaman konvensional 37%, tahun 2009 sebesar 49%, dan tahun 2010 sebesar 65%.

Namun dari segi volume, transaksi PUAS mengalami peningkatan. Pada 2008, volume rata-rata harian sebesar 113 miliar, tahun 2009 menjadi Rp 145 miliar, dan tahun 2010 sudah mencapai Rp 154 miliar dengan kisaran volume antara Rp 3 miliar sampai Rp 692 miliar.

“Saat ini memang lebih banyak bank syariah yang bertransaksi untuk mencari likuidItas ke induknya sendiri yang konvensional. Nah, ini menjadi tantangan BI ke depan,” pungkasnya.

Sumber : PKES Interaktif

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


*

Loading Facebook Comments ...