BI : Batasi Rahn Emas, Tingkatkan Produk Bagi Hasil

ekonomi islamEmas saat ini memang sedang menunjukkan “kemilaunya”. Terbukti praktek rahn emas atau gadai emas banyak dilakukan oleh perbankan tak terkecuali perbankan syariah. Data Bank Indonesia (BI) menunjukan outstanding rahn emas yang dilakukan bank syariah hingga akhir Agustus 2011 mencapai Rp 5 triliun. Angka tersebut tumbuh Rp 4 triliun hanya dalam waktu 2 bulan dari Juli 2011 yang mencapai Rp 1 triliun.

Deputi Gubernur BI, Halim Alamsyah mengatakan praktek rahn emas dengan prinsip margin memang memiliki return yang yang lebih besar sehingga mempercepat laju bank syariah. Namun perlu dicermati, meningkatnya rahn emas tentu akan memperkecil porsi produk bagi hasil. Padahal seperti yang diketahui prinsip bagi hasil adalah ruh dari perbankan syariah.

BI mencatat aktivitas perbankan syariah masih dominan menggunakan margin khususnya dengan murabaha yang mencapai 54,1%. Sedangkan yang menggunakan prisnsip bagi hasil seperti mudharabah dan musyarakah hanya 29%.

“Prinsip bagi hasil adalah ruh perbankan syariah. Namun porsi bagi hasil hanya 29 persen,” ujarnya dalam acara seminar bulan Masyarakat Ekonomi Syariah di BNI Tower Jakarta, Rabu (26/10).

Oleh karena itu, Halim menghimbau agar bank syariah membatasi praktek gadai emas dan meningkatkan produk bagi hasil. Terlebih saat ini gadai emas telah menjadi komoditas spekulasi dan tentunya memiliki banyak resiko.

“Emas sekarang menjadi komoditas spekulan. Oleh karena itu pada dasarnya bank syariah sedang menghadapi resiko, apa lagi ketika harga emas turun. Sekarang yang penting bagaimana prosuk-produk bagi hasil dapat berkembang pesat,” tandasnya.

Sumber : PKES Interaktif

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


*

Loading Facebook Comments ...