Bangsa Ini Memiliki PR Besar Membrantas Korupsi

ekonomi islamDr. HENDRI SAPARINI
Dewan Penasehat Majelis Ekonomi dan Kewirausahaan PP Muhammadiyah (MEKM)

Hubungan antara korupsi dan kesejahteraan merupakan diskursus yang menarik dan hingga kini masih terus menjadi perdebatan panjang, Apalagi ditengah masyarakat Indonesia masih sangat korup, maka tingkat kesejahteraan masyarakat pun masih rendah.

Tingkat korupsi di Indonesia, menurut Dewan Penasehat Majelis Ekonomi dan Kewirausahaan PP Muhammadiyan (MEKM), Dr Hendri Saparini dalam dialog interaktif yang diselenggarakan PKES (18/8) di Jakarta, mengatakan, masih sangat tinggi. Hal inilah yang mendorong masyarakat Indonesia dalam ketidaksejahteraan.

Menurut survey dari bank dunia, kata Hendri, 42% dari warga Indonesia ini sensitif terhadap harga pangan. “Dengan demikian kita sudah korupsi, dan masyarakat kita sudah tidak sejahtera. Kalo hanya miskin semua tidak apa-apa.Tapi ini ada yang semakin miskin, ada juga yang mendapatkan manfaat dari ekonomi ini relatif besar, sehingga berdasarkan grafiknya, 20% kelompok menengah atas paling tinggi, ikut menguasai pendapatan nasional itu semakin lama semakin lebih tinggi. Sementara 40% yang paling miskin, mereka menguasai pendapatan nasional yang juga menurun,”paparnya.

Artinya, tegas Hendri, saat ini bangsa ini mempunyai PR, yang pertama adalah bahwa negara Indonesia yang korup, yang kedua adalah masyarakat yang tidak sejahtera, dan yang ketiga adalah adanya kesenjangan yang sangat luar biasa. Maka dari itu, semua harus tahu bahwa kesenjangan itu tidak hanya individu, kaya dan miskin tapi kesenjangan wilayah. Itu bisa lihat angka kemiskinan di 50% di propinsi di atas rata-rata. Beberapa propinsi bahkan angka kemiskinannya di atas 30%.

Bangsa ini kata Hendri tertinggal. Benarkah kita tertinggal? Tahun 60-an Indonsia bersaudara dengan negara-negara Asia, sama-sama miskin. Dengan pendapatan perkapita 100 dolar. Tetapi sekarang ini gapnya luar biasa. Sekarang mungkin sudah 3000 dolar, tetapi yang lain sudah ada yang 14000, ada yang di atas 6000. “Kita semakin tertinggal dengan yang lain,”jelasnya.

Praktek korupsi itu tidak hanya ada di negara-negara berkembang tetapi juga ada di negara-negara maju. Kita bisa lihat Cina, tahun 65 yang miskin terdapat 60%. Ditahun 2007 yang miskin tinggal 4%. Artinya ada sistem yang dapat mengubah miskin menjadi tidak miskin.

“Apakah kita akan mencontoh Cina , walaupun Cina dengan semboyan atau kebiasaan dengan istilah “Peti Mati” atau “Seratus Peti Mati”. Tetapi peningkatan korupsi atau peningkatan kemiskinan di Cina bukan dari Istilah “Peti Mati” , tetapi ada sistem ekonomi yang kemudian melibatkan seluruh masyarakat dan kemudian ada sistem hukum yang benar – benar menindak tegas korupsi,”paparnya.

Kemudian Hendri juga menekankan, jika kita memiliki keyakinan , yang artinya kita memilih sesuatu yang lebih halal. Jadi walau pun kita ada contoh di Cina , tetapi kita harus yakin bahwa dia tidak Islami karena dia tidak menerapakan ekonomi syariah. Oleh karena itu semestinya sudah tidak ada keraguan , dan yang mesti kita pilih , tidak ada kata lain yaitu ekonomi syariah dan itu pasti harus dengan pendekatan pendekatan dan kita tidak bisa mendorong ekonomi syariah dengan iming – iming sebuah materi. Begitu juga kita tidak bisa memberikan iming – iming , kalau bergabung di ekonomi syariah maka akan dapat hadiah atau suku bunganya lebih rendah.

Menurutnya, dalam Islam terdapat sistem yang pertama adalah bisa menghindarkan pejabat publik dari korupsi karena pendekatan yang dilakukan adalah keyakinan, artinya ada pertimbangan halal dan haram. Ketika seseorang menjabat jabatan publik jika dengan pendekatan keyakinan, ia akan menangis tersedu-sedu karena itu adalah sebuah amanah besar jadi bukan sujud syukur. Sebenarnya Islam sudah banyak membuat pagar. Tidak boleh melakukan ini, melakukan itu.

Ekonomi Islam memiliki sistem yang komplit, tidak hanya keuangan yang syariah, perdagangan syariah tetapi juga bagaimana mengelola ekonomi yang tuntunannya ada pada Al-Quran dan hadist. Sekali lagi coba saya sampaikan negar-negara di Afrika, yang sumber daya alamnya melimpah tapi rakyat miskinnya banyak. Jangan salah di Somalia banyak rakyatnya yang tidak makan bukan karena mereka tidak mampu produksi pangan. Produksi pangan mereka itu besar hanya yang jadi permasalahan adalah distribusi. Jadi tidak ada jaminan dari negara bahwa produksi pangan tersebut untuk dalam negeri. Permasalahan seperti itu dalam ekonomi Islam sudah diatur.

Sumber : PKES Interaktif

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


*

Loading Facebook Comments ...